Melirik Desa Manambin (3), Bentuk BUMDes, Pembuatan Gordang dan Miniatur Lancar

Foto bersama Wartawan dan Pembuat Gordang Sambilan

MASYARAKAT Kabupaten Mandailing Natal, selama ini sudah apatis terhadap pengelolaan Dana Desa(DD) di berbagai desa, lebih-lebih program BUMDes selalu menjadi bahan tertawaan masyarakat, karena Dana yang dikelola BUMDes lebih sering “Suntik Mati” dan menjadi bahan cemooh masyarakat.

            Mengingat adanya Pembuatan Gordang Sambilan dan miniatur Gordang dan juga miniatur rumah adat di Desa Manambin, sebaiknya Dana Desa(DD) Manambin di tahun 2020 mendatang dialokasikan untuk BUMDes yang akan mengelola pembuatan Gordang dan Miniaturnya, sehingga si pembuat Gordang tidak lagi merasa kesulitan untuk mencari modal usaha dengan membuat Perdes/Regulasi untuk mengisu KAS Desa Manambin dari sektor PAD nya dan banyak masyarakat dipekerjakan di pembuatan Gordang.

            Mungkinkah masyarakat Desa Manambin sepakat dibuat BUMDes yang mengelola pembuatan Gordang Sambilan …? Kenapa tidak, sesuai dengan cerita yang disampaikan si pembuat Gordang Jafar Lubis kepada Penulis, bahwa begitu kayunya kita dapatkan, langsung kita potong-potong di tengah hutan sesuai dengan ukuran yang telah di tetapkan. Setelah itu baru kita bawa ke desa untuk selanjutnya di olah menjadi Gordang. Kesulitan lainnya  adalah saat pengerjaan, karena alat yang di lakukan masih bersifat manual. Dalam mengerjakannya kita harus ekstra hati-hati, sebab salah pengukuran nanti maka suaranya yang dihasilkan tidak akan bagus.

            Ukuran kayu untuk yang paling besar biasanya berdiameter 50 cm dengan panjang 1,60 m. Sedangkan paling kecil berdiameter 30 cm dengan panjang 1,20 m. Besar lubang dan panjang akan disesuaikan dengan jenis Gordangnya. Jadi bagus atau tidaknya suara yang di hasilkan sangat tergantung kepada ukuran lobang dan cara pembuatannya.

Kiri Pembuat Gordang ketika dialog di Kedai Kopi milik nya bersama Kades Manambin

Menurut Ja’far, mengerjakan Gordang ini bukanlah semudah yang dibayangkan, ia butuh ketelatenan dan ke hati-hatian, kita lebih mengutamakan kwalitas dari pada kwantitas. Untuk pemesanan, biasanya bagi yang tinggal di wilayah Mandailing Natal, mereka langsung datang, begitu juga untuk daerah Sumatera Utara. Sedangkan bagi yang luar daerah, seperti Kalimantan, Jakarta, Malaysia dan Jepang biasanya melalui telephon, tapi ada juga perwakilan mereka yang datang kemari. Jadi begitu Gordang ini siap, akan kita kirim langsung sesuai alamat yang diberikan. Sebaiknya para pemesan datang langsung agar kita tahu bagaimana keinginannya.

            Untuk harganya satu set Gordang menurut Ja’far bervariasi, antara 15-17 juta. Itu di luar transportasi mengantar ke tempat tujuan kalau sudah siap,  jadi itu sebenarnya tergantung negoisasi. Tapi rata-ratanya segitu harganya, sama halnya harga ke luar negeri atau ke Jakarta dan Kalimantan, tidak  dbedakan.

            Sedangkan jumlah Gordang Sembilan adalah sembilan biji, masing-masing sudah ada nama-namanya, mulai dari Jagad Siangkaan, Jagad Silitonga, Jagad Sianggian, Sangkut Siangkaan, Sangkut Sianggian, Udong Siangkaan, Udong Sianggian, Enang-enang Siangkaan dan Enang-enang Sianggian. Masing-masing ukurannya berbeda-beda antara Gordang yang satu degan gordang lainnya.

Pake kaos kiri Jafar Lubis pembuat Gordang ketika dialog

Selain membuat Gordang Sembilan, Ja’far juga memproduksi miniatur-miniatur Gordang Sambilan untuk koleksi di rumah atau di kantor-kantor. “Untuk pembuatan ini kita bekerja sama dengan Kampoeng Kaos Madina, Panyabungan. Bukan itu saja, kita juga menyediakan buku, kaset/pantun Mandailing, puisi, lagu, cerita dan pernak-pernik budaya Mandailing lainnya,”sebutnya.

            Terakhir, Ja’far berharap Pemerintah seharusnya ikut andil dalam pelestarian budaya Gordang Sambilan ini dengan melaksanakan beberapa event-even Gordang Sembilan. Begitu juga para raja-raja, seharusnya lebih peka terhadap upaya-upaya pelestarian ini. Sebab menurut penilaian saya, sangat sedikit masyarakat sekarang yang bisa memainkan Gordang ini. Memang rata-rata setiap kampung ada yang bisa memainkan Gordang, tapi mereka rata-rata sudah berusia lanjut, jadi perlu ada regenerasi.

            Sedangkan kepada kita sebagai pembuat Gordang Sembilan berharap Pemkab Madina membantu pemasaran Gordang. Atau bisa juga memberikan suntikan  modal untuk pengembangan usaha ini. Selama ini memang belum ada perhatian dari Pemkab Madina.

            Menurut Ja’far, membuat Gordang Sembilan baginya suatu kebanggan. Selain  mencari nafkah  untuk memenuhi kebutuhan keluarga, juga sebagai upaya untuk melestarikan Gordang Sembilan. Sebab, dengan diproduksi Gordang Sembilan sebanyak mungkin, otomatis akan melestarikan budaya Gordang Sembilan itu sendiri.

            Kita akui, beberapa tahun belakangan ini upaya pelestarian Gordang Sembilan ini sangat kurang. Pihak-pihak yang berkompoten sepertinya kurang respon terhadap kondisi ini. Padahal kalau bicara jujur, saat ini tidak banyak lagi orang yang bisa memukul dan memainkan Gordang Sembilan ini, kalaupun ada hanya mereka yang usianya sudah di atas 50 tahun. Sedangkan untuk golongan anak muda sangat sedikit. Padahal Gordang sebagai salah satu budaya perlu dilestarikan dengan memperkenalkannya kepada kalangan muda.

Dua kan, Ja’far Lubis si Pembuat Gordang Sambilan bersama LSM dan Wartawan

Sudah saatnya Gordang Sembilan kembali dikenalkan kepada masyarakat Madina melalui event-event tertentu, mulai dari pagelaran Gordang Sembilan, hari-hari besar seperti menyambut Idul Fitri, pesta rakyat  dan acara lain yang ada di tengah-tengah masyarakat. Bahkan saya mengusulkan agar Gordang Sembilan ini di masukkan kepada kurikulum SD, SMP dan SMA sebagai muatan lokal. Mereka ini seharusnya dikenalkan dengan Gordang dan cara pembuatan serta  penggunaannya. Tanpa hal itu, saya khawatir keberadaan Gordang Sembilan semakin lama akan semakin hilang .

            Ini mungkin perlu menjadi cacatan tersendiri bagi kita, kenapa pelestarian Gordang belakangan ini sangat kurang. Ini berbanding terbalik tentunya dengan wayang bagi orang Jawa yang sudah merakyat, mereka bebas mengadakan pertunjukan wayang saat pesta perkawinan atau pesta rakyat. Kondisi ini tentunya membuat wayang lestari di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan untuk Gordang belum tentu ada pagelaran atau pertunjukan sekali setahun. Padahal  berdasarkan hasil pengamatan, kalau di buat pertunjukan Gordang Sembilan antusias masyarakat untuk menyaksikannya sangat luas biasa.

Desa Manambin di Kec.Kotanopan

Upaya lain untuk pelesatarian Gordang Sembilan bisa juga dengan “mewajibkan kembali” Gordang Sembilan ada di setiap desa di Mandailing Natal. Kalau dekade tahun 50-80 an, kita akui hampir di setiap kampung terdapat Gordang Sembilannya. Namun belakangan ini hanya segelintir saja kampung atau desa yang mempunyai Gordang Sembilan. Kalau dulu saat Idul Fitri atau hari-hari besar lainnya, Gordang Sembilan selalu ditampilkan, namun belakangan ini itu sangat jarang terjadi..

            Jadi hal ini perlu menjadi pemikiran bersama buat kita, terutama bagi pengambil kebijakan, mulai dari tokoh adat, pemerintah dan pihak yang berkompoten lainnya memikir bagaimana Gordang ini tetap lestari di hati masyarakat. Alangkah ironisnya Gordang Sembilan di akui sebagai budaya Mandailing Natal, namun realitasnya di daerah asalnya sendiri sangat sedikit orang yang pandai untuk memainkan gordang ini. Begitu juga penampilan dan pertunjukan Gordang ini sangat jarang dilakukan, belum tentu sekali setahun di adakan,” ujarnya( Bersambung Terus)

 

 

Admin : Iskandar

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.