(Seri 5 dari 5 Artikel — Belajar dari 26 Tahun Layanan Medis RSU Permata Madina)

Setelah empat seri membaca perjalanan Permata Madina, kita sampai pada pertanyaan terakhir: ke mana pengalaman 26 tahun itu hendak dibawa?
Sebab umur panjang menjadi modal besar untuk melahirkan daya baru dan jangkauan yang lebih luas.
Hari ini, Permata Madina sudah jauh berbeda dari rumah sakit yang mengawali perjalanan 26 tahun lalu. RSU Permata Madina Panyabungan tercatat sebagai rumah sakit kelas C dengan 37 jenis pelayanan.
Pada pemantauan indikator mutu nasional, sejumlah indikatornya juga menunjukkan capaian tinggi, termasuk kepatuhan kebersihan tangan, identifikasi pasien, pelaporan hasil kritis laboratorium, clinical pathway dan pencegahan risiko pasien jatuh.
Di Sibuhuan, Permata Madina juga memiliki simpul pelayanan sendiri. Rumah sakit kelas D itu telah memiliki layanan dasar, gawat darurat, beberapa layanan spesialistik, radiologi, patologi klinik dan bank darah.
Ini bukan lagi cerita tentang satu rumah sakit.
Sudah ada institusi. Ada pengalaman. Ada SDM. Ada layanan. Ada jejaring. Ada modal sosial.
Pertanyaannya tinggal satu: apakah semua modal itu akan berhenti sebagai milik institusi, atau dibentangkan menjadi kekuatan kawasan?
Simpul Kawasan

Tabagsel tidak kekurangan institusi kesehatan. Yang belum sepenuhnya terbentuk adalah keterhubungan antarkemampuan.
Mandailing Natal punya rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Tapanuli Selatan punya fasilitasnya sendiri. Padangsidimpuan berkembang sebagai salah satu pusat pelayanan. Padang Lawas dan Padang Lawas Utara juga memiliki jaringan kesehatan masing-masin.
Tetapi pasien tidak hidup dalam peta administrasi.
Ia bergerak mengikuti kebutuhan.
Hari ini mungkin berobat di Panyabungan. Besok membutuhkan dokter di Padangsidimpuan. Pada kasus tertentu harus dirujuk ke Medan.
Dalam kondisi lain, justru fasilitas terdekat yang menentukan keselamatan.
Karena itu, ekosistem kesehatan tidak dibangun dengan pertanyaan “siapa yang paling besar?”
Pertanyaannya adalah: “siapa bisa melakukan apa, dan bagaimana kemampuan itu dihubungkan?”
Di sinilah Permata Madina memiliki peluang.
Bukan menjadi rumah sakit terbesar di Tabagsel. Tetapi menjadi salah satu simpul yang mampu menghubungkan layanan, pengetahuan, teknologi dan masyarakat.
Terus Menjadi Cerita

Dua seri terakhir telah membawa kita ke wilayah yang sering luput dari pembicaraan tentang rumah sakit: modal sosial.
Ada hubungan dengan masyarakat.
Ada pengalaman bekerja sama dengan fasilitas kesehatan lain. Ada jejak di lebih dari satu kabupaten. Ada Rumah Tahfidz.
Pernah punya kedekatan dengan guru-guru madrasah di Panyabungan dan sekitarnya.
Modal seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar jaringan nama.
Sebab, rumah sakit dapat membeli alat, tetapi tidak dapat membeli kepercayaan masyarakat secara instan.
Kepercayaan tumbuh dari pelayanan yang konsisten, hubungan yang panjang dan keberadaan yang dirasakan.
Karena itu, modal sosial Permata Madina seharusnya tidak hanya menjadi kenangan masa lalu. Ia bisa menjadi infrastruktur sosial bagi layanan kesehatan masa depan.
Madrasah dan pesantren dapat menjadi kanal edukasi kesehatan. Organisasi masyarakat dapat menjadi penghubung komunitas. Perguruan tinggi dapat menjadi mitra riset. Rumah sakit dan puskesmas dapat membangun rujukan yang lebih terintegrasi.
Dunia usaha pun dapat ikut membuka akses pembiayaan kesehatan.
Kalau simpul-simpul itu mulai bekerja bersama, barulah kita berbicara tentang ekosistem.
Jejaring Membentang

Di sinilah The Next Level Permata Madina menemukan maknanya.
Tidak harus berarti gedung yang lebih tinggi, tempat tidur yang lebih banyak atau cabang yang lebih banyak.
Membentang lebih penting daripada membesar.
Membentang berarti pengalaman 26 tahun dibawa keluar dari pagar institusi: menjadi pendidikan kesehatan masyarakat, jejaring rujukan, layanan digital, pusat pengetahuan, riset kesehatan kawasan dan kolaborasi lintas lembaga.
Dengan begitu, keberadaan Permata Madina tidak diukur hanya dari berapa banyak pasien yang masuk ke rumah sakit, tetapi dari berapa banyak persoalan kesehatan yang dapat dicegah, dihubungkan dan diselesaikan bersama.
Itulah perubahan dari healthcare provider menjadi _healthcare_ _ecosystem_ _builder_ .
Pertanyaan untuk Tabagsel

Gagasan ini tentu tidak bisa dikerjakan satu rumah sakit sendirian.
Ini membutuhkan pemerintah daerah yang mau duduk bersama, rumah sakit yang bersedia berbagi kemampuan, tenaga kesehatan yang mau berjejaring, perguruan tinggi yang melakukan riset, dunia usaha yang membuka ruang pembiayaan, serta masyarakat yang menjadi bagian dari sistem.
Tetapi setiap ekosistem memang membutuhkan titik-titik awal.
Permata Madina sudah memiliki syarat cukuo: 26 tahun pengalaman.
Maka lima seri ini sebenarnya bukanlah cerita tentang masa lalu Permata Madina.
Itu adalah cara melihat masa depan. Karya melahirkan visi lebih besar. Institusi dan jejaring lebih luas dan lebih utuh. Di situ juga sudah ada modal sosial yang tangguh.
Dari sana, tumbuh sebuah ekosistem tangguh.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi: “Seberapa besar Permata Madina hari ini?”
Yang lebih jauh dan lebih nyata adalah:
“Seberapa jauh Permata Madina bisa ikut membuat Tabagsel lebih sehat dan lebih kuat?”
Kalau jawabannya hanya sebatas rumah sakit, maka 26 tahun akan menjadi sejarah.
Tetapi kalau jawabannya adalah jejaring, pengetahuan, pencegahan, kolaborasi dan sinergi pelayanan yang menjangkau masyarakat lintas kabupaten, maka 26 tahun itu menjadi permulaan yang baru.

Sebab, mungkin yang harus dibangun Permata Madina ke depan bukan rumah sakit yang lebih besar.
Melainkan, dengan titik tumpu Permata Madina, Tabagsel tidak lagi membutuhkan rumah sakit yang lebih besar karena ekosistem kesehatannya sudah jauh lebih solid.
(Gugus Literasi Mandailing Epicentrum)
Admin : Iskandar Hasibuan.SE.








