
PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Mulai Memanas!! Puluhan warga bersama aparat desa dari Desa Tambangan Tonga dan Tambangan Jae, Kecamatan Tambangan, Madina, mengadang Mobil Pembawa Ekscavator yang mau dibawa ke Lokasi PETI di Desa Tambangan Pasoman
Suasana sempat memanas dan tegang, Jumat malam (2/10) sekitar pukul 23.00 WIB, dimana puluhan warga sempat bersitegang dengan empat orang penyewa beko atau eskavator di sekitar lokasi.
Beko ini masih di atas truk di jalan. Belum sempat diturunkan. Beko ini masih berjarak sekitar 200 meter dari lokasi PETI di lahan Parlindungan atau Lindung di Batu Bolang, Tambangan Pasoman.
Selama ini, di lahan PETI milik Lindung diduga terjadi aktivitas pengolahan emas tanpa izin menggunakan mesin donfeng setiap hari.
Empat orang penyewa beko yang berada di lokasi saat beko ini mau diturunkan Jumat malam (2/10) antara lain Hamka Lubis, Fadlan, dan Ali Lubis. Ketiganya warga Tambangan Pasoman. Lalu satu orang warga Tambangan Tonga bernama Amman Lubis.
Ketegangan atau kejadian nyaris ricuh ini dipicu ucapan arogan salah satu penyewa beko bernama Fadlan ketika puluhan masyarakat tiba di sana.
“Apa maksud kalian beramai-ramai datang ke sini,” ujarnya.
Disebabkan ucapannya itu, situasi menjadi memanas. Terjadi dialog panas dan saling adu argumen dengan para penyewa beko di lokasi.
Namun karena massa yang datang masih mampu menahan diri, kericuhan dan main hakim sendiri terhadap para penyewa beko ini pun tak terjadi.
Ketika dipertanyakan massa maksud kedatangan beko atau eskavator mereka ke lokasi, penyewa beko bernama Fadlan berkilah bahwa mereka hanya ingin membuat kolam.
“Kami mau membuat kolam. Beko kami pakai selama satu hari, ” katanya di hadapan puluhan warga.
Massa lalu memberikan persetujuan akan hal itu. Namun memberikan ultimatum bahwa beko mereka hanya boleh di sana sampai Sabtu sore (3/10) pukul 17.00 WIB.
Setelah lama berdebat dengan para penyewa beko ini, massa lalu memilih mundur dari Tambangan Pasoman.
Namun sekitar pukul 01.30 WIB, Sabtu (3/10) dinihari, eskavator atau beko ini terlihat keluar dari lokasi di Tambangan Pasoman. Beko ini melintasi jalan-jalan di Desa Tambangan Tonga dan Tambangan Jae.
Sementara Ketua Naposo Bulung Tambangan Jae, Sudirman Lubis, menyayangkan datangnya beko atau eskavator ini ke lokasi terduga PETI di Tambangan Pasoman.
“Belum lagi hilang sakit hati kami masyarakat Tambangan Jae karena puluhan ikan Mera mati di Lubuk Larangan Anak Yatim kami, mereka sudah berani membawa beko,” jelasnya.
Menurutnya, matinya Ikan Mera di Lubuk Larangan mereka, diduga masih terkait dengan aktivitas PETI di Tambangan Pasoman.
“Hasilnya memang masih kita tunggu hasil laboratorium di Medan, tapi kami menduga masih ada kaitan ke situ,” ujarnya saat berbincang dengan wartawan Pojoksatu.id, Sabtu dinihari.
Kades Berikan Imbauan
Sementara itu, Kepala Desa Tambangan Pasoman, Fahrur Lubis, dihubungi pada Minggu pagi (4/10) meminta agar beko tidak ada lagi masuk ke Tambangan Pasoman.
“Jangan ada lagi masuk beko ke sini,” katanya.
Dia juga mengimbau masyarakat agar tak lagi main PETI dalam bentuk apapun, termasuk menggunakan mesin donfeng disebabkan hal itu merusak lingkungan.
“Keputusan rapat di rumah Lindung harus dihormati, tidak boleh dilanggar,” ujar Fahrur.
Diketahui, dalam rapat di rumah terduga pelaku PETI, Parlindungan, di Tambangan Pasoman, Rabu (9/9/2026), telah disepakati bahwa PETI dalam bentuk mesin donfeng dan bentuk lainnya tidak diperbolehkan di aliran Sungai Aek Tambangan.
Kades Fahrur menyebut bahwa pelaku PETI di Tambangan Pasoman ini baik Parlindungan, Hamka Lubis dan Fadlan, sudah berulangkali diingatkan.
“Saya sudah tak bisa lagi ngomong, sudah beberapa kali saya ingatkan. Sudah lebih dari tiga kali,” ujarnya.
Ketika diberi peringatan, menurut Fahrur, para pelaku PETI ini tidak membantah, dan selalu mengatakan “iya”.
“Pokoknya jangan datang lagi beko ke sini,” tegasnya lagi,” ujarnya(Isk)
Admin : Iskandar Hasibuan.








