*** Oleh : Ludfan Nasution, Koordinator Mandailing Epicentrum ***

Program Optimalisasi Lahan Rawa (Oplah) merupakan bagian dari agenda besar pemerintah untuk memperkuat produksi pangan dan mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Secara prinsip, gagasan itu tentu sulit dibantah.Indonesia membutuhkan produksi pangan yang meningkat.
Petani membutuhkan lahan yang produktif. Lahan yang selama ini belum optimal memang perlu didorong agar menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih besar.
Karena itu, persoalan yang muncul dalam pelaksanaan Oplah di Huraba, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal, tidak seharusnya dibaca sebagai penolakan terhadap program pemerintah.
Justru sebaliknya.Huraba perlu dibaca sebagai studi kasus untuk memperkuat Oplah.

Sebab sebuah program bisa sangat baik dalam desain kebijakan, tetapi ketika bertemu dengan tanah, air, petani, kelembagaan lokal dan masyarakat adat, realitasnya bisa menjadi jauh lebih kompleks.
Huraba di Panggung Nasional
Huraba pernah tampil dalam panggung program ketahanan pangan nasional.
Pada 7 April 2025, Bupati Mandailing Natal H. Saipullah Nasution dan Wakil Bupati Atika Azmi Utammi Nasution mengikuti zoom meeting panen raya padi Oplah Rawa yang berlangsung serentak bersama sejumlah provinsi dan diikuti Presiden RI Prabowo Subianto.
Untuk Madina, panen raya tersebut berlangsung di lahan pertanian masyarakat wilayah Huraba.
Secara simbolik, Huraba menjadi bagian dari cerita keberhasilan.
Tetapi justru di sinilah pertanyaan harus dimulai:

Apa yang terjadi di balik panggung panen raya itu?
Sebab pada 28 Januari 2025, beberapa bulan sebelum panen raya tersebut, muncul pemberitaan mengenai keluhan petani Desa Huraba.
Sejumlah petani mengaku setelah pelaksanaan Oplah, lahan mereka lebih mudah tergenang. Tanaman padi yang ditanam bahkan disebut membusuk dan mati.
Salah seorang petani, Arsyad Siregar, sebagaimana diberitakan Malintang Pos, mengatakan bahwa sebelum Oplah lahannya masih dapat ditanami dengan baik. Setelah kegiatan tersebut, menurut pengakuannya, hujan sedikit saja membuat lahan tergenang.
Kita tentu tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa Oplah adalah satu-satunya penyebab.
Keluhan petani adalah fakta adanya persoalan, bukan otomatis bukti mengenai penyebabnya.

Maka pertanyaan teknisnya sederhana:
Apa yang berubah pada tata air lahan setelah Oplah?
Apakah kontur?
Drainase?
Elevasi?
Saluran pembuangan?
Atau faktor lain?
Semua itu perlu dijawab melalui evaluasi teknis.
Tetapi ternyata persoalan Huraba tidak berhenti pada air.Ada persoalan yang lebih dalam.Tanah.Dan dari tanah, kita masuk kepada sejarah dan masyarakat adat.
Admin : Iskandar Hasibuan.








