Merdeka Dalam Kesetaraan

……. Oleh : Susanti Hasibuan MA. Hum
Dosen Prodi Manajemen Dakwah
STAIN Madina…….

ISLAM hadir menjadi agama yang sangat ramah dan mengakomodir keberadaan perempuan sebagai makhluk yang sama dengan laki-laki.

Disebutkan dalam Alquran bahwa yang membedakan antara perempuan dan laki-laki hanya terletak dari taqwanya.

Pra Islam hadir perempuan dianggap sebagai manusia makhluk kedua setelah laki-laki, bahkan di Perancis para petingginya pernah mengadakan pertemuan untuk membahas apakah perempuan sejenis setan atau binatang.

Perempuan pada saat itu juga tidak memiliki hak progratif atas dirinya sendiri. Ia di bawah kendali dan kekuasaan laki-laki.

Di bawah tekanan laki-laki bahkan perempuan dengan bebas, disiksa, diperjualbelikan bahkan dibunuh oleh ayah, saudara laki-lakinya atau bahkan suaminya.

Dan hal tersebut menjadi lumrah dan tidak melanggar hukum. Lalu Islam hadir mengangkat derajat dan memberikan keistimewaan bagi perempuan, salah satu buktinya terdapat surah khusus perempuan yaitu An- nisa dalam Alquran.

Beberapa sejarah mencatat bahwa perempuan juga memiliki andil dalam memajukan agama Islam.

seperti Khadijah ra sebagai pedagang dan pebisnis yang handal, Aisyah memiliki peran pada politik dan militer pada saat itu, Dinasti Fatimiyyah memiliki kekuatan politis sehingga bisa mendirikan Jami’ al-Azhar sebagai cikal bakal Universitas Al-Azhar menjadi pusat pengembangan pendidikan dan keilmuan pada masanya.

Dalam konteks ke-Indonesiaan sejarah juga memiliki catatan tentang kehebatan perempuan seperti R.A Kartini, Nyai Khoiriyah Hayim, Cut nyak Dhien, Cut Nyak Meuthia dll.

Jika ditinjau dari KBBI kesetaraan gender dimaknai dengan serangkaian karakteristik yang dibentuk oleh struktur sosial sehingga terbentuk perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Seperti pemahaman yang memancing, memanjat pohon itu adalah kegiatan laki-laki, sedangkan memasak, memainkan boneka, mencuci baju adalah perempuan. Tabu jika misalnya laki-laki memainkan boneka, atau perempuan memanjat pohon.

Gender pada dasarnya memiliki perbedaan yang signifikan dengan defenisi sex sebagai jenis kelamin. Hal – hal yang terkait dan yang melekat pada jenis kelamin sebenarnya adalah sex.

Misalnya; haid, hamil, melahirkan, menyusui adalah identifikasi sex pada perempuan, sedangkan yang memiliki sperma dan kemampuan membuahi adalah bagian dari identifikasi sex pada lakilaki.

Berbicara tentang setara atas hak kesamaan gender yang identik dengan peran dan fungsi perempuan, sebenarnya tidak selalu harus disandingkan pada peran laki-laki. Keinginan untuk setara bukan berarti menuntut kesamaan posisi perempuan pada laki-laki dengan menyamakan secara keseluruhan antara perempuan dan lakilaki dalam setiap hal dan bidang.

Lakilaki dan perempuan itu partner yang setara ibarat sepasang sepatu, memiliki posisi yang sama, saling membutuhkan namun tidak akan pernah berganti posisi. Keduanya memiliki peran yang sama dalam mencapai tujuan.

Keinginan setara berarti memiliki keinginan untuk mengupgrade diri agar mampu memaksimalkan potensi demi lebih berdaya sehingga potensi yang dimiliki perempuan agar terus digali, dikaji, dibina sehingga memiliki nilai yang sama dengan laki-laki walaupun porsinya berbeda.

Contoh ketika laki-laki maju pada posisi terdepan untuk menjadi pemimpin, perempuan bisa mengupgrade diri sehingga potensi yang ia miliki bisa menjadi penyokong, penyempurna bahkan menjadi pelengkap dalam ide, keputusan, gagasan bagi laki-laki.

Laki-laki dengan ketegasan, tanggung jawab, keras dan berani disempurnakan dengan perasa, kelembutan, dan welas asih dari perempuan.

Setara bermakna sama-sama memainkan perannya masing-masing demi untuk mencapai tujuan bersama.

Menuntut persamaan hak tidak bisa dimaknai secara sempit dengan keinginan menduduki posisi yang sama, namun memberikan ruang yang sama tanpa di bumbui adanya diskriminasi gender tanpa melihat kemampuan dan potensi yang dimiliki perempuan.

Sebuah tujuan dapat diraih dengan cepat dan tepat dengan adanya kolaborasi yang baik antar peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan.

Terbebas dari kungkungan diskriminasi dan stereotype serta memberikan ruang yang sama tanpa adanya dikatomi antara lakilaki dan perempuan adalah makna merdeka yang sesungguhnya, sehingga keduanya bisa berjalan beriringan demi selaras mencapai kebaikan. Merdeka!!

 

Admin : Iskandar Hasibuan,SE…

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.