
Muhammad Ludfan Nasution – Abituren Pesantren Al-Ihya Kota Bogor, Ketua Yayasan Darussalam Kotasiantar dan Koordinator Mandailing Epicentrum
Ada pertanyaan yang layak diajukan setiap Hari Santri: Apakah kesantrian seseorang ikut berakhir ketika ia meninggalkan pesantren?
Pertanyaan ini bukan tuduhan terhadap alumni. Pakaian, penampilan, pekerjaan, atau pergaulan seseorang tidak cukup untuk menjadi ukuran tunggal kualitas kesantriannya. Santri yang tak lagi memakai sarung setiap hari belum tentu kehilangan nilai pesantren.
Sebaliknya, atribut kesantrian pun tidak otomatis menjamin seseorang hidup dengan kejujuran, amanah, dan tanggung jawab.
Namun, kita patut memeriksa satu kemungkinan: Jangan-jangan sebagian nilai yang tampak kuat ketika seseorang berada dalam lingkungan pesantren belum sepenuhnya menjadi kesadaran pribadi ketika ia memasuki masyarakat luas.
Di pesantren, kehidupan diatur oleh jadwal, tata tertib, pengawasan, kegiatan ibadah, pembelajaran, dan kebersamaan. Setelah lulus, struktur itu berubah. Tidak selalu ada pengasuh yang mengingatkan waktu, teman sekamar yang mengajak mengaji, atau aturan yang mengawasi setiap keputusan. Di luar pesantren, seseorang harus mengatur dirinya sendiri.
Di sinilah persoalan sesungguhnya muncul: apakah pendidikan telah membentuk kesadaran, atau baru membentuk kepatuhan selama pengawasan berlangsung?
Aturan, Kesadaran dan Life Style
Kajian Deni Anggrayani dan kolega tentang alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, terbit pada 2026, memberi pintu masuk yang menarik. Penelitian studi kasus itu membahas self-regulation atau kemampuan mengatur diri dalam mempertahankan identitas santri. Temuannya menyoroti pentingnya internalisasi nilai, keteladanan guru, kehidupan asrama, dukungan jaringan alumni, serta tantangan saat beralih dari kehidupan yang diatur menuju kehidupan yang menuntut pengaturan diri.
Baca kajiannya: https://journal.ipts.ac.id/index.php/ED/article/view/7784
Tentu, studi pada satu pesantren tidak bisa langsung digeneralisasi untuk semua pesantren, apalagi seluruh alumni. Tetapi kerangka berpikirnya relevan: nilai harus berpindah dari aturan di luar diri menjadi kompas di dalam diri.
Kita bisa membedakan tiga lapis kesantrian. Pertama, atribut yang terlihat. Kedua, kepatuhan terhadap aturan. Ketiga, internalisasi nilai yang tetap bekerja ketika tidak ada orang yang mengawasi. Lapisan ketiga inilah yang paling sulit dibentuk sekaligus paling penting untuk diuji.
Madina dan Medan Pengabdian
Di Mandailing Natal, pesantren bukan lembaga pinggiran dalam kehidupan sosial. Pesantren melahirkan generasi yang kelak masuk ke berbagai ruang: keluarga, dunia usaha, pendidikan, birokrasi, politik, dan kehidupan kampung. Karena itu, pembicaraan tentang mutu pendidikan pesantren tidak semestinya berhenti pada jumlah santri, kemegahan acara kelulusan, atau banyaknya lulusan yang berhasil menempuh pendidikan tinggi.
Semua itu penting, tetapi ada pertanyaan lanjutan: Nilai apa yang dibawa para lulusan ketika mereka kembali ke tengah masyarakat? Apakah ilmu menjadi perilaku? Apakah adab menjadi cara memperlakukan orang lain? Apakah disiplin belajar berubah menjadi disiplin bekerja dan memenuhi janji?
Peringatan Hari Santri 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Tema itu mengandung tuntutan yang lebih besar daripada perayaan identitas. Jika santri diharapkan menguatkan negeri, maka nilai yang dipelajari mesti hadir pula dalam kehidupan setelah pendidikan formal selesai.
Sang santri tidak harus selamanya tinggal di pesantren. Ia boleh menjadi petani, pedagang, akademisi, pejabat, pengusaha, atau pekerja profesional. Ia boleh menyesuaikan pakaian dan gaya hidup dengan ruang sosialnya. Yang perlu dipertahankan bukan seragamnya, melainkan prinsip yang membimbing pilihannya.
Maka, “nyantri sampai mati” bukan berarti hidup selamanya dalam pola keseharian pondok. Ia adalah ikhtiar membawa nilai kebaikan sepanjang hayat.
Pertanyaan ini mengantar kita pada persoalan yang lebih mendasar: jika nilai kesantrian ingin bertahan setelah kelulusan, di gerbang mana nilai itu mulai dibentuk—dan pada tahap mana ia bisa kehilangan daya hidupnya?
Bersambung ke Seri 3:
Santri Pengabdi Negeri.
*) Dibuat bersama AI
Admin : Iskandar Hasibuan.SE








