Penikmat Sunyi (2)

Penulis

Seperti orang yang senang menertawakan penderitaan orang lain, tawaku kian nyaring. Aku tak peduli seberapa sakitnya kesepian yang dialami Burhan selama ini. Aku hanya ingin mencemoohnya, menertawakan mimpi-mimpi yang ia ciptakan tanpa tidur.

            “Kang! Berhentilah menciptakan sosok-sosok asing itu! Keluarlah! Kau tahu bukan? Sosok-sosok yang kau ciptakan itu tak akan bisa meracik kopi untukmu di setiap pagi, menyelimuti tubuhmu saat kau sakit, bahkan sekedar bersuara saja mereka tak bisa!” seruku di sela gelak tawa.

            Hening.

Ternyata Burhan marah, ia kini memilih diam di dalam rumah. Aku bangkit hendak meninggalkan rumah itu. Namun, sebelum aku melangkah pintu yang tadi dibanting itu terbuka lagi.

            “Kata siapa sosok-sosok itu tak bisa meracik kopi, Gus? Mereka bisa melakukan apa saja, karena mereka ada di sini, di jiwaku!” jawabnya sesaat setelah pintu terbuka. Tangannya menepuk dada.

            “Ya, itu menurutmu, Kang! Tapi tidak menurutku!”

“Lihatlah ini!” bentaknya seraya melempar tumpukan kertas di wajahku. Kertas-kertas itu berserakan di lantai serambi rumahnya.

            Tatapanku tertuju pada kertas yang paling lusuh di antara ratusan kertas yang berserakan itu. Pelan aku membungkuk, mencoba memungut kertas itu.

            Sebaris kata-kata di awal kalimat sempat membuatku terkesiap. Lekat-lekat kubaca tulisan itu.

‘Saat Nanti Aku Menjadi Raja’

            Aku tak menyangka tulisan tangan Burhan begitu rapi, bahkan nyaris tak kutemukan satu pun cela di kertas lusuh ini. Tulisan itu seakan menyeretku untuk membacanya.

            Mimpi Burhan ternyata sangat mulia, jika suatu nanti ia menjadi seorang raja. Burhan akan membangun jalan raya di atas rumah-rumah rakyat. Ia tak ingin membangun jalan raya dari tanah hasil merampas hak rakyatnya.

            Ditulisan itu jelas bisa aku tangkap. Macam-macam kendaraan ada di kepala rakyat.  Kereta api, mobil, motor, becak, dan sebagainya hilir-mudik di atas kepala. Sesaat aku terhanyut dalam tulisan itu. Aku membayangkan sebuah becak melintas di atas kepalaku. Lalu seketika becak itu lenyap digantikan mobil-mobil mewah, aku gamang.

            “Kang, ini tulisa–” Sontak aku terdiam saat menyadari Burhan tak ada lagi di pintu itu.

Dengan langkah gontai, aku melangkah pergi meninggalkan rumah itu. Aku menyesal telah menganggap Burhan hanya seorang pembual. Sekarang aku percaya bahwa Burhan memang tidak sendiri. Ia bisa berkelakar dengan sosok-sosok yang ia lahirkan dari imajinasi liarnya.

            Ya, itulah obrolanku sepintas dengan Burhan sepekan yang lalu. Entah, setelah hari itu aku sudah tak melihat lelaki malang itu lagi. Padahal dulu, sebelum aku menertawakannya ia selalu terlihat duduk di balai-balai bambu serambi rumahnya tiap senja.

            Burhan memang jarang keluar, ia hanya akan keluar pada malam hari. Itu pun sekadar belanja kebutuhan hidup sehari-hari. Aku sendiri sampai hari ini tak tahu, ia mendapatkan uang untuk belanja itu darimana. Apa mungkin sosok-sosok yang ia ciptakan itu yang membantunya mencari uang? Entahlah, hidup Burhan teramat pelik untuk dipahami.

            “Pak! Itu ada ramai-ramai di rumah Kang Burhan!” teriak istriku dari kejauhan.

“Ada apa tho, Bu!”

            Istriku terdiam sejenak. Aku lihat ia sedang mencoba mengatur nafas yang ngos-ngosan. “Itu di rumah Kang Burhan ada ramai-ramai … ” tangan istriku memegangi dada, nampak ia kepayahan mengatur napas. “Ibu tadi dari warung, melihat ada banyak warga di sana. Ibu takut ada apa-apa, Pak!”

            Tanpa menjawab aku langsung bergegas menuju rumah Burhan. Ternyata benar kata istriku rumah Burhan sudah penuh sesak oleh warga.

            Aku menerobos masuk kerumunan warga. Ingin melihat lebih jelas apa yang terjadi pada Burhan. Seketika seluruh tubuhku kebas saat melihat Burhan terbaring kaku di kamarnya.

            Dengan langkah gemetar aku paksakan untuk mendekat. Di sampingnya tergeletak sebuah pena dan kertas yang belum usai ia tulis sepertinya.

            Kuambil kertas itu. Mata memanas saat membaca rangkaian kata-kata yang tertulis di sana. Sesal mendera hati, aku menangis.

            ‘Aku bisa menciptakan apa saja semauku! Bahkan, aku bisa menciptakan kematianku sendiri kapan pun aku mau!’

Aku bergeming.

            Kau benar Burhan! Kesunyian yang telah kau ciptakan selama ini, kini membunuhmu! Lalu sosok-sosok yang kemarin dulu kau lahirkan itu, sekarang sedang berduka. Ya, karena penamu tak lagi bisa membuat mereka kembali hidup.(Selesai)

Penulis : Muttaqin Kholis Ali,S.Pd.

Penulis adalah Guru Komputer SMA Negeri 1 Tambangan, Mahasiswa Pascasarjana (S2) UNP dan Pegiat Literasi Nasional

 

Admin : dina soekandar

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.