*** Catatan: Askolani Nasution ***

Perayaan Kemerdekaan Ke – 80 di Mandailing Natal, mestinya menjadi refleksi, Apakah gegap gempita kegiatan yang kita lakukan tahun ini, sebanding dengan jejak darah pejuang di kawasan ini..?
Di Tugu Perintis Kemerdekaan Kotanopan, tercatat 25 nama Pahlawan Perintis Kemerdekaan Indonesia.
Dalam jenjang kepahlawanan, kategori perintis urutan kedua setelah Pahlawan Nasional.

Artinya mereka yang di sana, bukan orang biasa perjuangannya. Mereka tokoh penggagas kemerdekaan yang membangun kesadaran awal bahwa rakyat itu senasib sepenanggungan dan merdeka itu hak semua negeri jajahan.
Ada nama Adam Malik di sana, orang yang jasanya tidak sepele untuk kemerdekaan Indonesia.

Mulai dari perannya dalam studi club, perjuangannya dengan Tan Malaka, lalu dengan Soekarno, hingga jadi wakil presiden RI.
Karena dia juga Desa Huta Pungkut menjadi desa pertama bebas buta huruf pertama di Sumatera.
Ada juga tokoh Boeyoeng Siregar, orang yang di masa kolonial sama-sama di buang ke kamp Tahanan Polotik di Boven Digul, Papua.

Ia di sana bersama-sama dengan Bung Hatta, Syahrir, dan tiga ribu tahanan lain. Ada yang di sana dimakan buaya, dimakan suku primitif, dan berbagai kejahatan kemanusiaan lain karena memperjuangkan Indonesia Merdeka.
Tokoh-tokoh lainnya juga tidak kurang jelas perjuangannya. Kita saja yang tidak peduli. Ada yang bersebelahan kamar dengan Soekarno saat beliau di penjara di Sukamiskin Bandung.

Siapa yang mengingat mereka? Anak-anak dan keluarganya? Pernah tidak kita undang mereka untuk sekedar kita kasih sebungkus nasi ramas, tanda bahwa kita pernah mengingat mereka?
Ada Tugu Pahlawan juga di sana. Ada Tugu Bendera. Semua dengan sejarah perjuangan yang tidak kecil.
Ada banyak kisah perjuangan di Mandailing Natal soal kepahlawan. Ada pemboman jembatan, ada ratusan orang yang ditangkap saat pasar malam di Kotanopan, dan oleh Jepang dijadikan romusa. Tahukah Anda bagaimana mereka hilang dan mati? Pernah tidak ingat mereka?

Kita sekarang merdeka. Kita pikir kemerdekaan ini tanpa darah dan nyawa pengorbananannya. Kita pikir begitu saja kita merdeka lalu menjadi orang-orang penting: pejabat, tokoh, aktivis, pengusaha, dst.

Pernah tidak sekali setahun saat ulang tahun kemerdekaan seperti itu, kita duduk sekali saja sambil bercerita tentang jejak mereka? Tidak kan?
Kita sibuk bermegah-megahan tanpa urgensi kemerdekaan. Berbagai kegiatan yang kita lakukan, pernah tidak kita kaji, sinkron tidak kegiatan itu dengan nilai-nilai proklamasi? Sinkron tidak dengan penumbuhan semangat berbangsa? Sinkron tidak dengan cita-cita kemerdekaan itu sendiri.
Kenapa kita merdeka? Konsep awalnya senasib sepenanggungan dulu. Sama kenyang sama lapar, sama menderita sama senang. Ruhnya persaudaraan.
Lihatlah sekitar kita. Ada gubuk-gubuk peot dengan penhuni yang kelaparan, tinggal di rumah-rumah yang tidak layak huni.( Bersambung Terus).
Admin : Iskandar Hasibuan.








