
Membicarakan masalah Pertambangan Emas Tanpa Izin( PETI) Maka jangan heran WhatsApp (WA) kita dalam waktu singkat akan terisi dengan 95 % Kalimat – Kalimat Sumpah Serapah, kalaupun ada yang Positif menanggapi hanya sekitar 5 % dan itupun akan ada yang mengatakan ” Emang Emas Yang Diambil Nenek Moyongmu Punya “ tapi itulah namanya masyarakat yang sudah menjadikan Tambang Emas menjadi mata pencahariannya, harus kita maklumi bersama.
Padahal, Bupati/Wakil Bupati, 40 Anggota DPRD, Kapolres Mandailing Natal hingga ke tingkat Kapolsek sudah mengetahui dan memahami bahwa ” Pertambangan Emas Tanpa Izin ” itu adalah salah, tapi yang namanya Tindakan Tegas belum Terlaksana sesuai dengan Undang – Undang Minerba dan Penerapannya.
Serta, ketika Wartawan Menulis tentang PETI( Pertambangan Emas Tanpa Izin ) dengan sumber – sumber informasi yang jelas, maka WhatsApp ( WA) akan dihujani dengan kalimat – kalimat Manohok dan Akun Facebook Siluman alias Palsu akan Mencaci maki Wartawan dengan kalimat yang tidak santun dan tak ber etika.
Kenapa begitu ia..? Mau tau jawabnya, sebab si Penambang Mungkin merasa Emas yang di Perut Bumi di Mandailing Natal adalah Titipan Nenek Moyangnya Sendiri dan yang berhak adalah mereka saja, mungkin ia, bukan menuduh.
Padahal, Wartawan adalah seorang yang secara teratur melakukan kegiatan Jurnalistik, seperti mencari, mengumpulkan, nengolah dan menyajikan informasi dalam bentuk berita, baik melalui Media Cetak, Media Elektronik, maupun media Online.
Secara lebih spesifik, wartawan dapat didefinisikan sebagai orang yang pekerjaannya adalah mencari dan menyusun berita untuk dimuat dalam media massa.
Lalu dimana salah Wartawan/Media..? Tentu Nggak ada, hanya saja pihak atau Oknum – Oknum yang tidak suka dengan berita yang dibuat Wartawan, mungkin ada Penyakit ” Kebencian ” dalam dirinya sendiri, sebab si Oknum bisa jadi sudah terlibat di PETI tersebut dan uang nya sudah banyak habis dan belum berhasil.
Padahal, ketika si Penambang Emas Tanpa Izin ( PETI) mendapat hasil yang lumayan, jelas, Fakta dan Bukan Mitos, si Oknum Penambang Tidak Pernah Mengatakan UTAMAKAN KEPENTINGAN MASYARAKAT, karena si Penambang khusus Cari Kaya.
Ketika si Penambang Mendapat Teguran dan Larangan dari Aparat Penegak Hukum( APH) sudah pasti akan muncul Kalimat – kalimat ” Demi sejengkal perut rakyat yg susah, kita mengutamakan Kepentingan Masyarakat Banyak ” itulah namanya Dinamika di tengah – tengah masyarakat kita yg sudah pasti muncul.( Bersambung Terus).
Admin : Iskandar Hasibuan.








