Pesan Ayah tak Boleh Ditawar, Spirit Ivan tak Terbendung ( 2)

Sambungan….

Obrolan dengan Ayahanda biasanya jadi pesan tersendiri. Ada kalanya jadi sejenis cambuk sekaligus motivasi. Menurutnya, Ayahanda sudah melihat dengan jelas, faktor-faktor apa yang membuat Mandailing Natal begitu-begitu saja. Atau, malah jauh mundur ke belakang.

Bahkan kian hari, makin terpuruk, lari dari tujuan pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Selatan.

“Apa kalian tak iba, tak merasa sedih, saudara-saudara kita di sana belum mendapatkan haknya untuk lebih bahagia?” begitu kira-kira gugahan Ayahanda dalam satu kesempatan makan bersama keluarga, seperti yang sudah berulang kali terucap.

Pembina lembaga penghafazan Al-Quran, Huffazh Center Indonesia (HCI) dan Sekolah Islam Terpadu (SITI) Kunkun, Kecamatan Natal, Madina ini pun terus mencurahkan isi hati. Lembar demi lembar kisah terbuka.

Walau terkadang seperti pengulangan cerita, dia merasa, itu adalah ukiran batu tentang semangat juang penuh keringat, tetes darah dan linangan air mata.

Ayahanda selalu nampak begitu serius di momen bincang-bincang tentang harapannya terkait masa depan Madina. Dia bersama ibunda Almarhum Hj Zulyani Lubis dan keempat saudaranya pun senantiasa mendengar dengan seksama.

Ketika Ayahanda berbicara seperti itu, aku Ivan, dia juga merasa sangat sedih. Pikirannya pun biasanya melayang pergi jauh mengembara ke kampung. Karena, dalam renungannya, “Yang tak sekaya alam Madina saja bisa makmur, mengapa kita justru seakan hidup di tanah tandus?”

***

Dia sangat faham. Sang Ayah lahir dan tumbuh dari lereng Bukit Barisan, dekat perbatasan paling selatan Sumatera Utara, Desa Alahankae. Banyak kaum kerabat dekat Ayahanda yang lahir, hidup dan meninggal dunia di sana. Tentu, begitu banyak suka-duka yang dirasakan Ayahanda di Ulupungkut itu.

“Saya bisa memahami perasaan ayah. Ada keresahan dan kegalauan yang sudah berlarut-larut. Dengan atau tanpa perintah, saya pun punya sikap yang sama. Tak akan diam saja. Tak suka pura-pura tak tahu masalah di sana!” ungkapnya lirih.

Makanya, tanpa terlihat bermaksud pamer atau bangga, dia bercerita. Dirinya sempat mengambil langkah yang seolah melawan Ayahanda. Di masa itu, tersiar kabar. Ivan jor-joran kasih bantuan, bahkan untuk Bupati Madina saat itu, Dahlan Hasan Nasution. Untuk mempercepat pelaksanaan kegiatan pembangunan, termasuk pelebaran jalan, pengerukan drainase dan pembuatan jembatan, dia meminjamkan puluhan alat berat berupa ekskapator.

Kandidat BaCalon Bupati Madina H.Ivan Iskandar Batubara diskusi dengan Wartawan di Organisasi SMSI

Setelah memberi penjelasan bahwa bantuan-bantuan itu untuk kepentingan Madina, Ayahanda pun paham dan menerima sikapnya. Membantu Madina bisa dengan banyak cara dan taktik. Setidaknya, orientasi bantuan itu untuk progress pembangunan di Madina. Supaya lebih tepat sasaran dan lebit cepat tuntas.

Sebagai informasi, sebagaimana dilansir sejumlah media, pada dasarnya Ayahanda adalah orang yang dermawan. Ya, bisa juga dibilang seorang filantrofis. Setidaknya, ada dua pemberitaan yang sempat mencatatkannya.

H.Ivan Iskandar Batubara

Atas nama keluarga besar, saudara perempuannya, Hj dr Sonda Sari Batubara, melaksanakan salah satu wasiat Ayahanda. Yakni, menyerahkan bantuan untuk pembangunan Masjid Agung Sumut senilai Rp 10 milyar pada 1 Agustus 2023 lalu (medan.tribunnews.com, 2 Agustus 2023).

Selanjutnya, pencarian digital juga menunjukkan, adanya hibah tanah atas nama keluaraga besar Patuan Parimpunan Gomgom Mandailing (PPGM), seperti dirilis mandailingonline.com (21/02/2023).

Berita itu menyebutkan, perwakilan keluarga, Safriwan, didampingi tokoh masyarakat Panyabungan Ir Abdul Kholid Lubis dan Ketua DPC PKB Madina Khoiruddin Faslah Siregar menyerahkan sertifikat lahan seluas 4000 meter persegi kepada Pemkab Mandailing Natal pada 20 Februari 2023. Tanah yang berlokasi di Desa Parbangunan, Kecamatan Panyabungan, Mandailing Natal, itu bakal menjadi pertapakan asrama haji.

Belum lagi cerita pembangunan beberapa masjid megah di sejumlah tempat. Salah satunya, berdasarkan informasi yang diperoleh media ini, adalah Mesjid Hj Zulyani Lubis di Aek Lapan, Panyabungan, Madina. (Bersambung)

Penulis:
Ludfan Nasution, Jurnalis Alumni IISIP d/h STP Jakarta

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.