Pesan Ayahanda tak Boleh Ditawar, Spirit Ivan tak Terbendung

(Bagian 1 dari 4 Tulisan)

Semua orang punya ayah. Semua mungkin dapat pesan spesial. H Ivan Iskandar Batubara dapat pesan untuk ikut mengurus Madina. Tak boleh ditawar. Inilah spirit besar yang tak terbendung.

Saat ini, nama salah satu Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia ini makin santer disebut-sebut. Selain digadang-gadang untuk maju menjadi calon Bupati Madina, tokoh yang mendapat gelar adat Mandailing Patuan Perimpunan Gomgom Mandailing ini dikabarkan punya peluang besar untuk menjadi calon Wakil Gubernur Sumatera Utara.

Lepas dari jumlah partai politik yang sudah dijajaki untuk mengusung dan memenangkan putra sulung Alm H Maslin Batubara ini menjadi Bupati Madina ke depan, cukup menarik juga menyoroti personalitasnya.

Dalam wawancara eksklusif dengan tokoh ramah bernama lengkap Ivan Iskandar Mangkuto Raja Batubara di Panyabungan awal Juni ini, terungkap satu bingkai cerita saat-saat bersama Ayahanda. Dalam suasana santai, perbincangan mengalir hingga terasa waktu begitu cepat berlalu.

***

Seperti semua orang, punya kesan dan pesan sangat mendalam dengan tokoh ayah. Semua punya kesaksian personal. Semua ayah sangat istimewa bagi anak-anak dan segenap keluarganya. Sosok ayah selalu hadir dalam doa setiap anak. Pun bagi tokoh pengusaha nasional yang sudah sangat matang ini, semua doa untuk ayah mengingatkan tentang kesan dan pesan yang dalam.

Dia mengungkapkan, sebagai anak sulung, dia merasa sangat istimewa di mata Ayahanda. Dia punya bahasa dan sentuhan khusus. Pun sebaliknya, Ayahanda senantiasa membuat dirinya istimewa di samping keempat saudaranya Hj. Sonda Sari Batubara, H Muhammad Ikhsan Batubara, H Muhammad Hidayat Batubara dan Hj. Maisyarah Batubara.

Makanya, setelah Ayahanda wafat, suami dari Revita Evitika Lubis gelar Namora Junjungan Nauli ini pun tak hanya memainkan peran dan menghadikan sosok ayah. Dia juga terus menjadi si sulungnya yang menguatkan dan merekatkan hubungan di antara mereka berempat.

Bagi Iva, itu masa yang berat. Saat-saat transisional yang secara psikologis membuat dirinya lebih sensitif, lebih mudah tersinggung dari pada sebelum-sebelumnya.

“Tapi, alhamdulillah, petuah-petuah Ayah menjadi obat bagi kami. Saya coba rangkai cuplikan dari begitu banyak peristiwa yang sangat-sangat istimewa untuk menjadi seolah sebuah buku yang tempo-tempo bisa saya buka,” tutur ayah dari Tondi, Muhammad Hafidz Iskandar Batubara, ini.

***

Ayahanda yang wafat pada Rabu, 11 Dzul Hijjah 1442 atau 21 Juli 2021, memang senang bercerita. Tentang kawan sepejuangan membangun usaha. Tentang sanak saudara. Terutama tentang kampung halaman. Bagitulah pada saat berpergian bersama ke luar negeri. Selalu ada kisah saat di kampung.

Dalam banyak kesempatan, Ayahanda sering menyebutkan bahwa dirinya sudah menyaksikan banyak kabupaten lain yang sudah sangat maju. Walau tak punya alam sekaya Madina. Sekalipun tidak punya adat-istiadat dan budaya sehebat Madina. Walaupun menjadi daerah otonom (mekar dari kabupaten induk-nya) belum selama Madina.

Pembangunan di banyak kabupaten/kota itu jauh lebih progresif. Masyarakat pun dinamis. Rakyatnya makmur.

Perbandingan-perbandingan seperti itu bikin Ayahanda makin merasa miris dan makin prihatin. (Bersambung)

Penulis:
Muhammad Ludfan Nasution, Jurnalis dan Anggota DPRD Madina 2014-2019

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.