Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru Ditangan H. Musthafa Bakri Nasution Semakin Sukses(1)

MEMASUKI Tahun ajaran baru Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru Kecamatan Lembah Sorik Merapi Kabupaten Mandailing Natal, santri/santriyati yang sudah mendaftar sudah mencapai 2300 orang lebih.

Pondok Pesantren yang sekarang dipimpin H. Musthafa Bakri Nasution tentu sudah terbilang sukses dan apa resep dan ke istimewaannya, Tim Redaksi Malintang Pos Group, akan mengulas secara bersambung, dengan mengutip informasi dari berbagai Media Online, seperti luduni. Com, serta media online lainnya, serta akan melakukan dialog dengan orang – orang yang mengetahui sejarah Pondok Pesantren terkemuka di Sumatra ini.

Malintang Pos Group akan mengulas sejarah berdirinya hingga kondisi Ponpes Musthafawiyah Purba Baru dan juga kharismatik H. Musthafa Bakri Nasution dalam memimpin Pesantren, baik dikalangan pejabat, alumni hingga tokoh Nasional, akan kita sajikan secara bersambung setiap harinya.

Dikutip dari ludini. Com, bahwa Syekh Haji Musthafa Husein Nasution bin Husein Nasution bin Umar Nasution al-Mandaili adalah seorang Ulama terkemuka di Sumatra Utara yang meninggalkan karya bangunan keislaman monumental Madrasah di Purba Baru Mandailing Tapanuli Selatan , yaitu Pondok Pesantren Musthafawiyah Purba Baru. Saat ini nama Syekh Musthafa Husein diabadikan pada salah satu gedung utama di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan yang berembrio dari Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara Pondok pesantren Musthafawiyah sebagai asal sejarah tumbuhnya Nahdlatul Ulama di Sumatra Utara yang dibawa oleh Syekh Musthafa Husein pada 1945 dan diresmikan pada Februari 1947 di Padangsidimpuan. Tahun 1936 pemerintah Belanda memberikan bintang jasa padanya atas usahanya dalam bidang pendidikan . Pada masa Agresi Belanda sesudah Indonesia merdeka ia bersama ulama seperti Syekh Ja’far Abdul Qadir al-Mandily dan H. Fakhruddin Arif pernah mengeluarkan fatwa wajib (fardu’ain) bagi setiap Muslim yang mukallaf mempertahankan kemerdekaan dari agresi Belanda.

Kelahiran

Syekh Musthafa Husein kelahiran dari keluarga yang tidak kekurangan. Bapaknya adalah seorang pedagang hasil bumi di Pasar Tanobato serta sudah pula mengerjakan ibadah haji. Bapaknya berasal dari Huta ( sekarang desa ) Purbabaru, tetapi kakek-kakeknya berasal dari Panyabungan Julu dan ibunya berasal dari Ampung Siala, Batang Natal.

Syekh Musthafa Husein yang pada masa kecilnya bernama Muhammad Yatim adalah anak ke 3 dari 8 orang bersaudara, anak dari H. Husein dan Hj Halimah.

  1. Anak tertua ( pertama ) adalah Nuruddin bertempat tinggal tetap dan wafat di Malaya (Malaysia)
  2. Hamidah wanita kawin dan wafat di Panyabungan
  3. Muhammad Yatim riwayat hidupnya yang sedang dibahas
  4. Siddik gelar Mangkuto Saleh bertempat tinggal tetap dan wafat di Kayulaut Mandailing
  5. Saleh bertempat tinggal tetap dan waqfat di Medan
  6. Mardin ( H. Umnaruddin ) bertempat tinggal tetap dan wafat di Mekkah Saudi Arabia
  7. Harun bertempat tinggal tetap dan wafat di Pekalongan, Jawa Tengah
  8. Abdul Gani meninggal hanyut sewaktu Pasar Tanobato mendapat serangan banjir mulia pada malam Ahad, tanggal 28 Nopember 1915.

Musthafa Husein kelahiran pada tahun 1886 di Tano Bato, dari keluarga kaya warga biasa.

Hal warga pada masa kelahirannya banyakan tidak kekurangan dalam hal menyedihkan dan tertekan. Pemerintah kolonial Belanda pada masa sebelumnya membawa sistem paksa dalam penanaman kopi beserta pengangkutannya dari pedalaman ke pantai. ( Pada masa itu pemerintah kolonial mendirikan pergudangan kopi di Pekantan di daerah pedalaman Sumatera di akrab perbatasan dengan daerah Pasaman, Sumatera Barat, Muarasipongi, Kotanopan, Maga, Pasar tanobato,Tapus dan Natal .

Pendidikan

Muhammad Yatim awal mulanya mengaji di Hutapungkut dalam bimbingan Syekh Abdul Hamid, sekitar 2 tahun ( 1898 – 1900 ). Dalam pengajian 2 tahun itu pengajiannya hanya sekali seminggu yaitu pada setiap hari Ahad. Di luar hari mengaji Muhammad Yatim mengikuti Syekh Abdul Hamid ke kebun kopi yang jaraknya 3 KM dari desa Hutapungkut. Tidak jarang mereka bermalam di kebun dan baru kembali ke desa menjelang pengajian.

Sesudah pengajian di Hutapungkut Muhammad Yatim dianjurkan oleh gurunya Syekh Abdul Hamid untuk memperdalam ilmu agama Islam ke Mekkah, Saudi Arabia. Pada sekitar bulan Rajab tahun 1900 beliau berangkat ke Mekkah, Saudi Arabia bersamaan dengan keberangkatan orang-orang yang hendak menunaikan ibadah haji. Keberangkatan ini dibiayai separuhnya oleh orang tuanya.

Pada 5 tahun pertama sesudah berupaya bisa di Masjidil Haram Mekkah Saudi Arabia Muhammad Yatim merasa bahwa dia tidak memperoleh ilmu, kemudian dia berkeinginan hendak pindah berupaya bisa ke Mesir. Walau belum dikonsultasikan dengan orang tuanya. Semua barang-barang sudah dikemasi dan tinggal menunggu keberangkatan.

Setelah masa lima tahun belajar dengan sistem Halaqah, Musthafa Husein merasa belum mendapat ilmu pengetahun Islam dengan sempurna, maka ia berencana untuk berangkat ke negeri Mesir untuk mendalami ajaran Islam. Walaupun belum ada konsultasi dengan orang tuanya di kampung halaman, barang-barang telah dikemas dan hanya menunggu waktu keberangkatan. Disaat menunggu keberangkatan (dengan kapal), Musthafa Husein bertemu dengan salah seorang pelajar yang berasal dari Palembang, yang juga sedang menuntut ilmu agama Islam di Masjidil al-Haram Makkah

Kepada pelajar ini Muhammad Yatim menuturkan bahwa dia akan pindah belajar dari Masjidil Haram Makkah menuju Mesir. Pelajar yang berasal dari Palembang tersebut mengajak Musthafa Husein berdiskusi serta membantu menjelaskan pelajaran yang ada selama ini di Masjid al-Haram Makkah. Rencana keberangkatan ke Negeri Mesir dibatalkan setelah mendapat bimbingan dan pemikiran dari seorang yang berasal dari Palembang. Setelah mendapat masukan tersebut, Musthafa Husein menjadi lebih konsentrasi dan percaya diri untuk belajar di Masjidil al-Haram Makkah. Seterusnya Musthafa Husein kembali belajar di Masjid al-Haram dan para gurunya mulai mengenalnya lebih baik.

Beberapa ulama yang menjadi gurunya saat Makkah diantaranya  :

  1. Syekh Abdul Qadir bin Shobir Al-Mandili[
  2. Syekh Ahmad Sumbawa
  3. Syekh Saleh Bafadhil
  4. Syekh Ali Maliki
  5. Syekh Umar Bajuned
  6. Syekh Ahmad Khatib Sambas
  7. Syekh Abdul Rahman
  8. Syekh Umar sato
  9. Syekh M. Amin Mardin.
  10. Syekh Mukhtar Aththorid Al-Boghori

Ilmu-ilmu yang didalaminya menempuh agama Islam :
1. Al Quran
2. Bahasa Arab beserta kelola bahasanya
3. Tafsir
3. Fiqih
4. Hadits
5. Tauhid
6. Ilmu Falak
7. Balaghah
8. ‘Arudl
9. Qosidah Barzanji

Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1912 ( dipanggil pulang karena ayahnya berpulang ) beliau sambil mengajar  dia juga terus menambah ilmu dengan menyelenggarakan hubungan-hubungan ( lawatan ) untuk guru-guru / pemuka warga di Mandailing. Bersamaan dengan itu dia juga membaca buku-buku sejarah Indonesia dan alam, politik, perdagangan dan perekonomian, pertanian dan kesehatan.

Di samping itu dia juga bergaul dengan pejabat-pejabat pemerintah kolonial yang membidangi pertanian, kesehatan dan pamong desa ( pada zaman pemerintah kolonial disebut kuria dan raja-raja ). Dengan pejabat-pejabat yang digaulinya itu dimohonnya pula untuk mengajar di madrasah yang telah dididirikannya ( kemudian lihat juga karier sebagai pendidik ). Dan dalam bergaul itu dia tidak memandang agama.

Malahan pendapat ini sedang mengembang sampai sekarang di madrasah setempat. Pemuka dan salah seorang yang digaulinya itu adalah Dr. Ferdinand Lumbantobing seorang yang beragama Kristen. Disamping beliau ini juga sudah menjalani diminta untuk mengajar di madrasah bangunannya. Dr. Ferdinand Lumbantobing jauh sebelum sebagai residen Tapanuli yang bermarkas di Sibolga sudah  memimpin Rumah Sakit Zending di Panyabungan sekitar 11 KM dari Purbabaru ke arah utara ).

Kemudian ilmunya di pertanian dan perdagangan ini dipraktekkannya dengan membuka perkebunan karet, nanas dan rambutan di sekitar desa Purbabaru.

Pendidikan lainnya adalah mencatat kejadian-kejadian penting di daerah lokal, nasional dan internasional seperti letusan gunung berapi, masuknya Tuanku Rao dan Islam ke Mandailing, masuknya Belanda ke daerah setempat, penyerahan Belanda untuk Jepang di Indonesia, kelahiran dan kematian anak / bagian keluarga dan masalah-masalah yang dihadapinya secara pribadi.

Kemudian dia juga memperluas wawasan dengan berkunjung ke kota-kota semacam Bukit Tinggi, Padang, Medan, Banda Aceh, Jakarta, Pekalongan dan Bogor di dalam negeri serta Kuala Lumpur dan Pahang di luar negeri. Kota-kota di dalam negeri terutama di pulau Sumatera dihadirinya dengan maksud untuk melihat-lihat perkembangan pendidikan agama, perkembangan kota dan membeli buku-buku agama untuk madrasahnya.

Sedangkan ke kota-kota di pulau Jawa beliau membuat catatan-catatan berupa pengalamannya sewaktu meningkat pesawat terbang, gedung-gedung pemerintah dan pusat-pusat perdagangan yang diamatinya, pemandangan alam serta hal mesjid dan jamaahnya, dan kota-kota di Malaysia dan ditemani oleh sekretarisnya. Dia melihat-lihat pengolahan karet ( cara pembuatan karet latex ), penambangan bauxit dan pengolahannya.

Di luar dari pada pendidikan, pengalaman dan wawasan yang lebar ini dia juga menyediakan kader-kader penerus dalam pendidikan maupun dalam  perkebunan. Dalam pendidikan dia menyuruh dan mengirim beberapa orang muridnya untuk memperdalam ilmu agama Islam ke Mekkah maupun negeri-negeri lainnya seperti Mesir dan Lucknow, India. Sedangkan dalam perkebunan dia mengutus sekretaris untuk mempelajari pengawetan buah-buahan seperti nanas dan rambutan serta pengalengannya ke Jakarta.( Bersambung Tiap Hari)

 

Admin : iskandar hasibuan

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.