*REKENING SILUMAN DiNAS PENDIDIK MADINA DIBLOKIR*

Judul berita di Malintang Pos tersebut sangat menggelikan dan sekaligus pembuka tabir penyebab ketertinggalan siswa-siswa di Madina dibandingkan dengan dari daerah lain, dan juga sebagai jawaban kenapa orang-orang mampu di Madina lebih senang menyekolahkan anaknya diluar Madina.

Judul tersebut menggelikan karena aneh bin ajaib, kok ada rekening yang sudah eksis sejak thn 2016 yang dibuka oleh pejabat Pemda Madina secara resmi untuk tempat penampungan dana pembayaran gaji guru-guru honorer, kok tiba-tiba diblokir oleh Bupatinya, jangan-jangan ini bukan rekening siluman tapi lebih tepat disebut *rekening peliharaan/piaraan istilah orang pasaran* .

Yang namanya piaraan ketika jinak pasti di sanjung-sanjung,bahkan di elus-elus karena ada satu kenikmatan yang didapatkan darinya, tapi ketika *piaraan* berada pada posisi sebaliknya maka ketika itulah tindakan kebencian dan bahkan pemusnahan akan dilakukan terhadap piaraan tersebut.

Guru (honorer) tidak dibayar gajinya selama 6 bulan, bisa dibayangkan konsekwensi logis yg ditimbulkannnya baik dari sisi ekonomi, sosial dan bahkan dedikasi, yg dampaknya pasti berujung kepada anak didik.

Dengan terbukanya tabir ini tidak mengherankan kenapa putra- putra Madina dalam dekade belakangan ini begitu tertinggal prestasinya dibanding dengan putra-putra daerah lain khususnya dalam bidang pendidikan, rupanya kondisi lembaga yang mengurusi pendidikan di Madina segitu sadisnya, enam bln gaji tidak dibayar, bisa dibayangkan betapa carut marutnya sistem yg ada dan betapa tidak pedulinya orang-orang yang mengelola pendidikan terhadap nasib guru terutama yang masih honor yang jumlahnya mencapai 2000 orang.

Kondisi ini berbanding lurus dengan banyaknya orang Madina yg ber lomba- lomba menyekolahkan putra putrinya di luar daerah Madina, yg membawa konsekwensi perputaran uang untuk pembiayaan sekolah tersebub akan berada diluar Madina, sehingga bisa dibayangkan berapa milyar uang yang keluar dari Madina untyk menyokong perekonomian daerah lain yang menjadi tempat anak-anak orang Madina sekolah, belum lagi dampak kecintaan generasi muda itu akan semakin menipis terhadap kampung halamannya karena dalam memorinya dia bersekolah dan bersosialisasi adalah diluar Madina.

Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlama-lama karena kerugian demi kerugian yang akan dialami oleh Madina.( H.M.Amin Nasution,SH.MH)

Admin :Iskandar Hasibuan

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    Aktivis dan LSM Bingung Dengan Langkah Polisi Melakukan Penertiban PETI di Mandailing Natal.

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Aktivis Hukum Sumut, Abdul Rahman,SH.MH dan Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat(LSM)Merpati Putih Tabagsel, Khairunnisyah, mengaku bingung dengan langkah Polisi, baik Polsek dan Polres Mandailing Natal. ” Jelas – Jelas…

    Read more

    Continue reading
    Satma AMPI Madina: Aparat Jangan Tutup Mata Terhadap PETI di Linggabayu

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Kelurahan Tapus, Kecamatan Linggabayu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), di duga kembali beroperasi pasca perayaan Idul Fitri 2026. Berdasarkan informasi yang…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses