Revivalisme Nilai Kebangsaan Mahasiswa, Oleh: Suheri Sahputra Rangkuti

Suheri Sahputra Rangkuty(Penulis)

Generasi bangsa ini pernah mengalami kecelakaan sejarah di masa orde baru. Di mana pada waktu itu paksaan kehendak atas nama negara, bangsa yang bertujuan memuluskan keinginan otak reptil pemerintah, pernah mewarnai wajah pendidikan kita. Bisa dikatakan hampir menyeluruh, mulai dari sekolah dasar merebak sampai ke kampus-kampus. Tanpa disadari dan tak dapat dihindari pemerintah yang begitu agresif menjadikan lembaga pendidikan sebagai keran kepentingannya menciptakan generasi terkekang dan menjadikan pemerintah sebagai sosok monster yang menakutkan. Masyarakat akademisi waktu itu, baik pelajar maupun mahasiswa merindukan kebebasan diri yang dicari lewat pemberontakan luar kelas atau kampus, disinyalir dari sinilah awal mula permusushan dan tragedi antara pemerintah dan masyarakat akademisi di mulai.

Seiring perkembangannya, pasca jatuhnya rezim orde baru, kebebasan pun mulai terbuka lebar, kritik mulai dihidupkan kembali, hak berpendapat sudah dilindungi apalagi kampus-kampus malah diberikan hak imunitas untuk memahami berbagai macam pikiran. Di saat euporia kedaulatan pikiran terbuka lebar ternyata kita melupakan hal krusial, yaitu, nilai-nilai dan ideologi kebangsaan. Sementara di pihak lain, menjamur kelompok-kelomok sempalan, mulai dari pejuang ideologi transnasional sampai kepada kelompk-kelompok sempalan nan radikal yang selalu menabuh gendrang permusuhan terhadap bangsanya sendiri.

Hal ini menjadi semacam kanker dan tumor ganas yang mesti diamputasi dari mental-mental anak bangsa. Karena gejala-gejala pemikiran yang ditumpangi oleh kepentingan kaum anti NKRI sudah kian terasa. Pangkal radikalisme di kampus-kampus saat ini, dimulai dari doktrin-doktrin sederhana, seperti menganggap segala yang berbau negara adalah Thogut atau hormat bendera adalah tindakan yang membawa kepada kekafiran. Sementara pada waktu yang bersamaan, cacian dan umpatan bagi organisasi yang mengadakan seminar-seminar kebangsaan dan penanaman nilai-nilai idelologi negara kian mendapat perlawanan dan tantangan. Hingga tak jarang mereka diolok-olok dengan sebutan “sok pancasilais sok NKRI” dan sebutan memojokkan lainnya.

Mahasiswa sebagai masyarakat elit pikiran menjadi semacam imam bagi masyrakat awam untuk bersikap sebagai warga negara. Jika pikiran para mahasiswa saja sudah dihinggapi embrio-embrio radikal maka bisa dipastikan posisi negara kita sudah berada di lampu kuning. Oleh karenanya, nilai-nilai kebangsaan lebih-lebih ideologi negara dipandang wajib untuk digalakkan.

Revivaliseme nilai kebangsaan bagi mahasiswa semestinya dimulai dengan menjadikan nilai kebangsaan sebagai citra dalam diri. Agar ia tidak hanya terperangkap dalam nilai-nilai lahiriah malah lebih dari itu, yaitu menjadi iktikad yang tidak bisa digadaikan. Di samping itu, untuk bebas dari perangkap ideologisasi perlawanan terhadap negara, perlu dikembangkan kesadaran dan kearifan tradisional yang bebas setidaknya mengeluarkan pikiran sakralitas terhadap warna kebudayaan bangsa lain. kesadaran dan kearifan lokal yang intuitif lebih memberi peluang promosi akan nilai-nilai kebangsaan kita sendiri.

Tentu strategi di atas, tidak cukup jika hanya berjalan secara parsial. Kesatuan tekad para masyarakat kampus, mulai dari penguasa kampus dan para jajarannya sangat dibutuhkan. Dalam hubungan itu, tentu akan mudah memberi kemudahan dalam memetakan dan mencounter paham-paham yang sudah bercokol dan memiliki tempat duduk di dunia kampus. Dengan begitu diharapkan mampu menghalau radikalisme atas nama apapun, baik atas nama kebebasan dan lebih-lebih atas nama agama.

Pada akhirnya, mengusir dan memberangus ideologi yang tidak sejalan dengan NKRI begitu juga pikiran-pikiran yang mengarah kepada tindakan radikal, adalah tugas bersama. Kepedulian dan kesadaran kita terhadap nilai berbangsa adalah jalan lurus yang semetinya dipangku dengan saling bahu membahu. Tidak tertutup kemungkinan, sikap tak peduli dan tak mau tau tentang nilai bangsa yang kita miliki adalah awal dari mendominasinya kaum sempalan yang kian punya ruang. Untuk itu, mari bangkitkan spirit membangun kembali nilai kebangsaan dan ideologi pancasila di kampus dengan jargon, “Dunia kampus, mari bung!!! Ber-NKRI.

 

 

Admin : Dina Sukandar Hasibuan,A.Md

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.