” Ruh ” Dalam Rumah Tangga

Penulis : Susanti Hasibuan MA. Hum
Dosen Prodi Manajemen Dakwah STAIN Madina

Tidak ada rumah tangga yang tidak diisi dengan konflik. Bahkan ada yang mengatakan pertengkaran antara suami dan istri adalah bumbu – bumbu rumah tangga.

Konsep bumbu dalam masakan itu pelengkap rasa, berarti komposisinya harus pas, tidak boleh berlebihan.

Kalau berlebihan maka rasa masakannya tidak akan sedap. “bumbu” masalah dalam rumah tangga juga seharusnya hanya sedikit, bertengkarnya juga sedikit, kalau sudah banyak, maka rumah tangganya “bermasalah”.

Penyikapan konflik dalam berumah tangga dari tiap individu itu berbeda- beda. Ada yang bertahan dalam rumah tangganya namun pernikahan tersebut sudah tidak memiliki “ruh”.

“Ruh” dalam rumah tangga terwujud dalam ikatan yang ditautkan satu sama lain antara suami dan istri.

Ikatan itu terwujud dari cinta, kasih sayang, saling menghormati, saling membutuhkan, saling menjaga, saling mengutamakan pasangannya dll. Dengan terus menerus bertengkar, maka Perlahan ikatan ini tanpa di sadari mulai terlepas satu persatu.

Ikatan- ikatan yang terlepas ini terlihat dari suami yang tidak lembut dan mesra pada istrinya, sikapnya mulai berubah menjadi lebih dingin dan acuh dan lebih sering menghabiskan waktu diluar ketimbang dengan istrinya.

Sebaliknya, ketika ikatan- ikatan “ruh” dalam rumah tangga hilang, maka istri sudah tidak lagi menghormati suaminya, suami tidak lagi menjadi prioritas utama dalam hidupnya.

Istri lebih suka mencari aktifitas yang bisa menyibukkannya dan melupakan masalah – masalah yang ada dalam rumah tangganya. Keduanya mulai kehilangan keintiman.

Durasi ngobrol dan bersendau gurai sudah jauh berkurang. Satu- satunya yang menjadi topic pembicaraan yang tidak bisa dihindari hanya tentang anak.

Selebihnya tidak ada lagi yang menarik bagi satu dengan lainnya.

Solusi dari “kelelahan” rumah tangga ini bisa sangat sederhana jika keduanya ingin memperbaikinya.

Solusi yang pertama; saling intropeksi diri, menyadari kesalahan dan ego yang menyakiti pasangan kita.

Karena bagaimanapun buruknya pasangan kita, bagaimanapun beratnya konflik yang terjadi, pasti keduanya memiliki kesalahan.

Tidak ada yang mampu memposisikan diri menjadi “api“ dan “Air” dalam setiap konflik yang terjadi.

Ketika suami marah, istri juga marah. Sebaliknya saat istri marah maka ego suami tidak bisa menerimanya.

Padahal konflik akan terjadi jika keduanya “saling” seperti tepuk tangan yang membutuhkan sisi kanan dan kiri untuk saling menepuk sehingg mengeluarkan bunyi, jika hanya satu tangan, pasti tepukannya tidak bersaut, tidak meninggalkan suara.

Begitu juga pertengkaran antara suami dan istri. Jika yang emosi, marah dan meledak ledak hanya satu pihak sedangkan pihak lain memilih untuk berdiam diri, maka konflik tidak akan terjadi.

Selain itu, rasa sakit hati, kekecewaan, kemarahan, kesedihan, yang di pendam salah satu atau keduanya antara istri dan suami menyebabkan “ruh” rumah tangga hilang dan memunculkan “aura negatif” dan bisa berdampak pada seluruh aspek kehidupan rumah tangga termaksud di dalamnya juga tentang rezeki.

Sehingga sering sekali muncul kalimat “suami istri yang terus menerus bertengkar maka akan menjauhkan rezeki dalam berumah tangga’.

Disadari atau tidak rumah tangga yang sering diisi dengan pertengkaran maka akan sering menghadapi masalah, bukan hanya masalah dari keduanya, namun juga masalah- masalah yang lain yang dapat mengurangi pendapatan suami –istri.

Jadi siklusnya, makin sering bertengkar makan kehidupan makin sulit. Makin sering bertengkar rezeki akan semakin sulit. Padahal rezeki yang sulit akan menimbulkan permasalah baru antara suami istri dan siklusnya berputar terus seperti “lingkaran setan”.

Untuk memutuskan “lingkaran setan” tersebut Maka butuh kedewasaan agar dapat “legowo” satu sama lain dan saling memaafkan. Keduanya juga akan dihadapkan pada pilihan, memilih berpisah, atau “membunuh” ego untuk mempertahankan rumah tangga. Atau sebaliknya, memilih ego untuk mengakhiri rumah tangga.

Selain itu kedekatan emosional yang di bangun dengan sang Pencipta akan memberikan dampak “ketenangan” dalam menyikapi setiap masalah.

Tentu saja kedekatan itu di bangun dengan ibadah seperti sholat yang dilaksanakan juga dengan memunculkan “ruh” dalam setiap rokaatnya, maka ketenangan akan langsung dirasakan.

Setelahnya berdoa menyandarkan dan memasrahkan segala sesuatunya pada Allah dan percaya setiap yang terjadi dalam kehidupan manusia sudah bagian dari qadha dan Qadharnya Allah.

Lalu yang terakhir dan yang paling sulit adalah meminta maaf dan menyadari kesalahan yang menyakiti pasangan. Bertanya pada pasangan apa yang ia harapkan pada diri kita agar bisa saling memperbaiki.

Setelah itu berjanji akan berusaha yang terbaik demi keharmonisan rumah tangga.
Tentu saja ini harus dilakukan oleh keduanya antara suami dan istri.

Karena jika hanya dilakukan oleh satu pihak tentu saja tidak akan berhasil. Keduanya harus sama- sama grow up sehingga saling memberikan feed back dan Saling bertumbuh satu sama lain.

Karena hubungan pernikahan memang diawali dengan saling tidak tahu, sehingga harus saling belajar dan berbenah satu sama lain.

Tujuannya untuk mencapai rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga yang penuh ketentraman, cinta kasih dan dipenuhi rahmat dari Allah.

Penulis : Susanti Hasibuan MA. Hum
Dosen Prodi Manajemen Dakwah STAIN Mandailing Natal.

Admin : Dita Risky Saputri,SKM.

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.