Sanksi Pada Level 3, Izin Panas Bumi SMGP Bisa Dicabut

MADINA(Malintangpos Online):PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada Jumat (12/2) siang lalu mengadakan seminar online (Webinar) mebahas petaka gas beracun yang telah menelan 5 korban jiwa dari PT Sorik Marapi Geothermal Power, Desa Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Kabupaten Mandailing Natal.

Pengurus PB HMI yang berasal dari Madina, Imam Renaldi Nasution membuka pembahasan bertema; Menyoal Kebocoran Pipa Gas PLTP Mandailing Natal, Apa Langkah Pemerintah?. Imam menyebut, petaka di Senin (25/1) siang itu merupakan kesalahan fundamental adanya tata kelola yang tidak mengikuti prosedur yang ada.

Menelaah peristiwa yang juga membikin puluhan warga harus dirawat instensif dengan bantuan oksigen itu, Imam beserta HMI meminta khususnya Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Dadan Kusdiana yang juga turut dalam webinar ini, untuk melakukan evaluasi.

“Banyak laporan, termasuk pagar seng yang hanya berjarak langsung lahan pertanian warga. Saya khawatir ini menjadi bencana nasional, kenapa? Banyak perusahaan yang masih mal operasi. Dan posisinya yang berada dekat dengan permukiman warga,” kata Wasekjend PB HMI itu.

Sementara itu, Dadan Kusdiana menjelaskan, dalam kasus ini tidak ada kebocoran gas. karena memang gasnya sengaja dilewatkan wellpad dan kemudian dilepaskan ke atmosfer.

“Bahwa memang, karena gas tersebut terjadi korban. SOP khusus di perusahaan tidak dijalankan dengan baik. Sudah saya laporkan ke Pak Menteri,” terangnya.

Mengenai SOP yang dimaksud kata dia, tidak diatur Pemerintah. Namun dalam SOP buka sumur, memastikan rig (bor) nya sesuai, aspek safety susuai itu sudah dijalankan. Dan katanya Kementerian juga melakukan inspeksi lagi setelah dibor, seperti memastikan pengaliran air dari sumur panas bumi sudah sesuai.

“Kemudian sumur itu ditutup, dan airnya di tampung reservoir di BOP. Setelah itu, sumur itu boleh dipakai untuk pembangkit listrik. Kapan boleh dipakai? sudah urusan perusahaan. Kalau perlu sumur, kan dibuka lagi, ini yang tidak diatur lagi oleh Kementerian. Nah itu kira kira yang kemarin terjadi itu. Sumur yang kemarin kejadian, ada sumur yang harus dipancing supaya panas buminya keluar. Yang kemarin, memancingnya menggunakan uap panas bumi yang lain.

Pada saat itu, berasal dari sumur yang H2S nya tinggi. Well to well simulation.
Karena itu tinggi, harusnya begitu uap itu dipaparkan ke atmosfir ada penyaring,” katanya.

Dadan memiliki catatan, perusahaan sudah 33 kali buka tutup sumur. Seharusnya di dalam area sumur, aspek keselamatan lingkungan sekitarnya harus benar-benar diperhatikan, tidak ada orang.

“Betul, kami ke sana, kok pagarnya seng, alasannya pak kami masih kontruksi. Harusnya di dalam radius 300 meter dari wellpad harusnya tidak ada orang. Pada prosesnya, saya tanya tidak ada orang?
Ternyata, barang kali sekuiritinya tidak melihat dan memastikan secara sempurna,” terang Dadan, bahwa setiap aspek yang dianggap tidak aman bagi aktivitas warga, perusahaan selalu beralasan sedang konstruksi.

Dalam Webinar ini juga ikut Zulfikar Hamonangan Nasution, Anggota DPR-RI Komisi VII yang membidangi Kementerian ESDM dan juga merupakan putra daerah yang berasal dari Maga, Kecamatan Lembah Sorik Marapi.

Yang disorotinya, pertama kata Zulfikar, kawasan operasional SMGP ini merupakan Gunung Api Aktif. Di mana ada potensi erupsi yang bakal mengacaukan aktifitas di dalam usaha pembangkit listrik ini di kemudian hari. Selama ini tidak ada mitigasi dan berbagai upaya langkah pencegahan bila sewaktu-waktu gunung Sorik Marapi ini menimbulkan bencana dengan aktivitas vulkaniknya.

Kedua, katanya, Investasi di perusahaan ini didominasi oleh perusahaan China yang sahamnya bahkan 95 persen. Sedangkan Pemerintah hanya 5 persen. Dan dari sisi komposisi saham ini, maka harus ditinjau kembali agar secara tanggungjawab dalam melaksanaan usaha dijalankan dengan baik dan memperhatikan kemungkinan yang menimbulkan kerusakan.

“Ketiga, struktrur organisasi perusahaan.
Dan yang menarik kenapa saya bilang kebohongan, K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) itu tidak ada. Penghijauan tidak ada. Sekuiriti tidak paham H2S. Bagaimana mungkin Satpam bisa menyampaikan bahaya H2S kepada warga sementara mereka tidak paham apa H2S ini,” katanya.

Lantas Zulfikar pun bertanya, dikhususkan kepada Dadan. Apakah ada jaminan udara yang dilepas itu tidak berbahaya.
“Ini lah yang saya lihat, termasuk bagi kemeneterian juga untuk meninjau kembali apakah ada alat yang mengurangi resiko. Bang Dadan juga mencari teknologi apa semacam alat water treatment. Ke depan tidak membahayakan masyarakat. Kalau itu tidak ada jangan dikasih izin,” pungkasnya.

Direktur Panas Bumi Dirjen EBTKE Harris Yahya, menjawab, bahwa regulasi yang mengatur sekarang itu masih dengan angka 95 persen saham maksimum. Dadan kemudian menimpali untuk penyaring udara sejenis teknik menggunakan kaustik soda sudah diterapkan di berbagai PLTPB.

“Kemudian memang ini terlalu dekat dengan penduduk. Kemarin sudah saya bilang, tanah yang disebelah itu dibebaskan saja, kalau tidak mau dijual disewa saja. Pada level ketiga izin panas bumi akan dicabut,” kata Dadan Kusdiana, akan melayangkan sanksi tersurat.

Seorang peserta, Ruhum Lubis menerangkan, kalau sebenarnya pembukaan sumur yang dialirkan ke sumur kedua tidak mengalir dan dibuka tiba-tiba. Ruhum seorang perantauan asal Kotanopan yang mendaku berpengalaman dalam pengeboran sumur minyak dan gas di perusahaan negara ini, sesungguhnya proses kerja di SMGP ini sangat ceroboh.

“Seharusnya perlahan-lahan memancing panas bumi itu Pak. Dan ini juga satu, harusnya orang Humas di sana ya orang sana juga agar pesannya sampai ke warga lokal,” katanya menyela Dadan, Dadan pun kemudian mengamini pernyataan Ruhum.

Dalam Webinar ini, melalui Dirjen EBTKE Dadan Kusdiana berjanji sebelum investigasi tuntas, operasi SMGP tidak boleh berjalan. Dan nantinya bila kesalahan pada tahap di level 3, sanksinya akan sampai pada pencabutan izin panas bumi.(WhatsApp)

 

Admin : Iskandar Hasibuan.

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.