Semangat Bupati Untuk Mengembangkan Kopi Dimadina Mendapat Apresiasi

Semangat Bupati Untuk Mengembangkan Kopi Dimadina Mendapat Apresiasi

PANYABUNGAN (Malintang Pos Online): Tumbuhnya semangat penggalakan  penanaman kopi yang dilakukan oleh Bupati Madina, Drs.Dahlan Hasan Nasution di Mandailing Natal saat ini mendapat apresiasi dari Budayawan Madina

Semangat penggalakan Kopi di Mandailing Natal bukan tanpa dasar melainkan merujuk pada bukti-bukti sejarah, betapa dulu ratusan tahun yang lalu, produk kopi Mandailing sudah terkenal di Eropah. Dari sekian banyak varietas kopi, baik yang berasal dari Hindia Belanda maupun dari berbagai negara lain, kopi Mandailing disebut memiliki aroma yang khas dan cita rasa yang kuat,”Sebut Askolani salah satu Budayawan yang telah banyak menulis tentang sejarah Mandailing Natal kepada wartawan, Kamis (29/12)
Menurut Askolani semangat Bupati Mandailing Natal, Drs. H. Dahlan Hasan Nasution, yang bergiat menjadikan kopi Mandailing sebagai komoditas utama sudah sepantasnya mendapat acungan jempol dari semua pihak.
“Saya sangat salut atas  langkah-langkah yang dilakukan bapak Bupati didalam penggalakkan tanaman kopi di Mandailing Natal,” ujarnya
Ia mengatakan, langkah-langkah yang dilaksanakan Bupati terhadap  penggalakan tanaman kopi di Madina ini  merupakan sebuah langkah yang Brilian didalam pengupayaan pengembalian nama besar kopi Mandailing keasalnya.
“Merujuk pada bukti-bukti sejarah, betapa dulu ratusan tahun yang lalu, produk kopi Mandailing sudah terkenal di Eropah dan mempunyai nama besar diseluruh dunia,” sebut Askolani.
Diceritakan Askolani,  dari sekian banyak varietas kopi, baik yang berasal dari Hindia Belanda maupun dari berbagai negara lain, kopi Mandailing disebut memiliki aroma yang khas dan cita rasa yang kuat. Karena itu, kawasan Mandailing yang ketika itu menjadi bagian dari kawasan Asisten Residen Angkola Mandailing, dijadikan sebagai kawasan pengembangan komoditas kopi.
Ia mengatakan, besarnya komoditas kopi Mandailing pada masa kolonial berawal dari kebijakan Taman Paksa. Tahun 1835, hanya beberapa tahun setelah berakhirnya Perang Paderi dan menandai masuknya kolonialisme di kawasan Mandailing-Angkola, bibit kopi Arabica didatangkan dari Jawa ke Mandailing. Karena itu, tahun 1840 sudah ada pembibitan kopi di Tano Bato dan di Sipirok. Kawasan Tano Bato untuk menutupi lahan perkebunan di Mandailing, dan kawasan Sipirok untuk menutupi lahan di kawasan Angkola.
“Penduduk di bawah Asisten Residen Angkola Mandailing ketika itu berjumlah 44.000 jiwa,” sebut Askolani Nasution. Itu tersebar di Mandailing Godang 17.000 jiwa, Mandailing Julu 11.000 jiwa, Ulu dan Pakantan sebanyak 5.000 jiwa, dan Angkola-Sipirok 11.000 jiwa. Padang Bolak/Padang Lawas ketika itu bukan di bawah Asisten Residen Angkola Mandailing. Kawasan Angkola Mandailing diproyeksikan sebagai pusat perkebunan kopi di Sumatera, baik di bawah perusahaan perkebunan pemerintah kolonial, maupun petani tradisional yang wajib menanam kopi sebagai ganti hak pakai tanah bagi petani. “Dalam ketentuan hukum kolonial, semua tanah milik pemerintah, rakyat hanya memiliki hak guna usaha,” jelasnya.(putra)
Admin : Dina Sukandar

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.