Dari Visi ke Aksi: Membawa Golkar Lebih Dekat Rakyat?

Jika Seri 2 mengajak kita membaca kesiapan Indah Annisa memasuki gelanggang
suksesi, pertanyaan berikutnya lebih konkret: bagaimana gagasan yang
ditawarkannya dapat membuat Golkar Madina semakin dekat dengan rakyat..?
Visi Indah menginginkan Golkar yang solid, modern, dan dekat dengan rakyat.
Empat program prioritasnya — GOLKAR Sampai ke Desa, Sekolah Kader Madina,
GOLKAR Madina Digital, serta Muda dan Perempuan Berkarya—menyediakan pintu
masuk untuk menguji visi tersebut.

Ya, pertanyaannya: Bagaimana Indah Annisa mewujudkan visi itu? Ini menjadi cara kita mengukur. Bukan menghukum. Publik boleh menilai intelektualitasnya dan
melihat hal lain sebagai uji integritasnya.
Pertama, Indah akan menguatkan GOLKAR dengan memantapkan kepengurusan
sampai ke desa/kelurahan.
Ini langkah penting dan strategis, tetapi struktur bukan tujuan akhir. Pengurus harus menjadi penghubung dua arah: menyampaikan/melaksanakan program partai sekaligus membawa persoalan warga ke ruang pengambilan keputusan partai.
Kedua, Sekolah Kader Madina. Kaderisasi tidak cukup melahirkan orang yang
pandai berpidato.
Kader perlu memahami kebijakan publik, membaca persoalan desa, menyerap aspirasi, dan merumuskan alternatif penyelesaian.

Dengan begitu,kader tidak hanya siap mengisi jabatan, tetapi juga mampu menjalankan tanggung Jawab politik.
Ketiga, alumni SMA Negeri 1 Matauli Pandan ini juga akan memantapkan
manajemen dan administrasi GOLKAR Madina dengan teknologi digital.
Digitalisasi KTA dapat memperkuat administrasi organisasi. Namun, teknologi juga berpeluang membantu pencatatan aspirasi dan pemantauan tindak lanjutnya. Sistem digital akan bermakna jika membuat kerja partai lebih tertib dan transparan, bukan sekadar memindahkan data ke layar.
Keempat, dengan formula Muda dan Perempuan Berkarya, perempuan muda yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mandailing Natal ini juga
bakal membuka ruang bagi pemuda dan perempuan agar jangan berhenti pada
penempatan nama dalam kepengurusan.
Mereka perlu memperoleh kesempatan
memimpin program, mengembangkan gagasan, dan menunjukkan hasil kerja yang
dapat dievaluasi.
Bukankah separuh dari energi masa depan itu ada di pemuda dan perempuan?

Keempat program itu dapat dirangkai dalam satu jurus: setiap aspirasi harus
memiliki jejak tindak lanjut.
Persoalan warga dicatat, kebutuhan dipetakan, pihak yang bertanggung jawab
ditentukan, lalu perkembangannya disampaikan kembali. Partai tentu tidak memiliki kewenangan menyelesaikan semua persoalan.
Namun, warga berhak mengetahui
apa yang dapat diperjuangkan, apa yang sudah dilakukan, dan apa yang belum
dapat dituntaskan beserta alasannya.
Inilah perbedaan antara sekadar datang menemui rakyat dan membangun
kedekatan melalui kerja.
Yang pertama dapat berakhir setelah pertemuan; yang kedua menuntut kesinambungan.
Bagi Indah Annisa, kesinambungan itu menjadi poin dan nilai lebih lanjut dari
sebuah pertemuan politik. Aksi tak boleh jadi basa-basi.
Tentu, visi-misi dalam berkas pencalonan belum membuktikan bahwa seluruh
program itu bisa berjalan.
Musda justru menjadi kesempatan untuk menguji gagasan, menetapkan prioritas, dan merumuskan ukuran keberhasilan.

Jika Indah ingin menawarkan alternatif kepemimpinan, ukuran pentingnya bukan
semata-mata apa yang berbeda dari dirinya, melainkan bagaimana gagasannya dapat diterjemahkan menjadi sistem kerja bersama berujung sinergi partai.
Sebab, rakyat tidak hanya membutuhkan partai yang datang mendengar. Mereka
juga membutuhkan kejelasan tentang apa yang terjadi setelah suara mereka
disampaikan.

Di situlah kedekatan dengan rakyat diuji: bukan pada seberapa sering partai hadir,
melainkan pada seberapa jelas tindak lanjut dan manfaat kehadirannya.
(Bersambung Edisi Ke -4)
Admin : Iskandar Hasibuan.








