
Setelah berbicara tentang kesiapan kader, kedekatan dengan rakyat, dan pentingnya menyiapkan pemimpin berikutnya, ada satu pertanyaan yang layak dibawa ke ruang Musda: sejauh mana Golkar Madina bersedia membuka ruang bagi potensi yang belum banyak memperoleh kesempatan memimpin..?
Nama Indah Annisa memberi konteks konkret bagi pertanyaan itu. Ia hadir sebagai kader perempuan muda yang menawarkan gagasan dan kesediaan memasuki gelanggang suksesi.
Kehadirannya tidak harus dibaca sebagai tuntutan bahwa dirinya mesti menjadi Ketua.
Namun, partai patut memberi ruang agar kapasitasnya dapat dinilai melalui proses organisasi yang terbuka.
Perempuan bukan sekadar pelengkap struktur atau penghias daftar pencalonan. Mereka memiliki hak dan kesempatan untuk mengambil tanggung jawab, menyumbangkan gagasan, serta diuji dalam persaingan yang setara.
Partai yang membuka ruang lebih luas bagi perempuan berpeluang memperkaya perspektif dan memperluas sumber kepemimpinannya.
Begitu pula usia muda. Pengalaman memang tidak dapat digantikan begitu saja. Namun, energi generasi muda dapat menjadi modal tambahan untuk menghadapi perubahan, mengembangkan cara kerja baru, dan membangun komunikasi dengan kelompok masyarakat yang beragam.
Ketika energi itu dipertemukan dengan pengalaman para senior, partai memiliki kesempatan memperkuat dirinya tanpa harus mempertentangkan generasi.
Satu hal tentang daya seorang perempuan muda seperti Indah Annisa Parinduri. Bahwa energi mudanya lebih dari cukup untuk terus belajar.
Belajar kepada senior bervisi tajam dan matang. Belajar kepada yang lebih padat bobot intelektualnya. Belajar tentang sikap elegan ketika beradaptasi dengan generasi yang sudah mapan.
Dan…, yang terpenting belajar menjadi milik rakyat, bukan lagi sebatas rapat dengan rekan sebaya, tapi juga banyak mendengar dari kerabat kerja dan pejebat bermartabat.
Tantangan Golkar Madina juga tidak ringan. Organisasi harus semakin solid, kaderisasi harus berjalan, teknologi perlu dimanfaatkan, dan hubungan dengan rakyat harus dibangun melalui kerja yang nyata.
Semua itu membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia mengambil tanggung jawab, bukan sekadar lebih banyak orang yang berebut jabatan.
Suka tak suka, ke depan bakal hadir komparasi. Lebih-lebih di jelang 2029, perbandingan tak hanya sebatas internal. Ada saatnya, Sang Ketua harus berdiri gagah, tegap dan sigap di samping pimpinan partai lain.
Karena itu, memberi ruang kepada Indah berarti membuka kesempatan bagi gagasannya untuk diuji.
Apa yang ia tawarkan? Bagaimana ia menerjemahkan visi menjadi kerja? Sejauh mana ia mampu merangkul kader lain dan membangun organisasi..?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut layak dijawab melalui proses Musda yang demokratis, bukan diselesaikan hanya berdasarkan usia, jenis kelamin, atau kedekatan dengan tokoh tertentu.
Indah pun tetap harus membuktikan kesiapannya. Kesempatan bukan jaminan kemenangan, dan keterbukaan bukan berarti mengabaikan rekam jejak serta kapasitas. Justru melalui persaingan yang sehat, partai dapat menilai setiap kader secara lebih utuh.
Musda semestinya menjadi ruang bagi Golkar untuk memperhitungkan seluruh kekuatannya.
Senior membawa pengalaman, kader muda membawa energi, dan perempuan membawa kapasitas yang selama ini perlu terus diberi ruang untuk berkembang.
Tidak satu pun harus dikecilkan agar yang lain dapat tumbuh.
Beri Indah ruang untuk diuji, sebagaimana kader lain memperoleh kesempatan yang sama.
Sebab, partai yang tangguh bukanlah partai yang hanya mengandalkan orang-orang yang sudah terbukti, melainkan juga berani menyiapkan dan menguji potensi yang akan dibutuhkan pada masa depan.
Semarak Musda bukan semata-mata tentang siapa yang akhirnya memimpin. Ia juga tentang seberapa lapang partai membuka pintu bagi kader yang bersedia memikul amanah besar.(Habis)
Admin : Iskandar Hasibua,SE.








