SIAP-SIAP MUSDA: APAKAH JANTUNG KNPI MADINA SUDAH PULIH?

Mengeja Puzzle Potensi Pemuda Daerah dalam Perspektif Jakarta, Berceemin pada Kasus Madina

Artikel Kripis: Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Kalau KNPI adalah jantung organisasi kepemudaan, bagaimana membaca riwayatnya di Mandailing Natal? Pernah dikabarkan ada tiga versi kepengurusan yang sama-sama mengklaim keabsahan. Semangat persatuan mengemuka. Namun, menjelang Musda, yang tampil justru karateker.

Apakah jantungnya sudah pulih?

Tiga Pengurus, Satu Nama
Konflik KNPI di tingkat pusat dan provinsi pernah merembet ke daerah. Di Madina, menurut informasi yang perlu terus ditelusuri, situasinya berkembang menjadi tiga versi kepengurusan, masing-masing mengacu pada jalur organisasi berbeda.

Persoalannya bukan sekadar siapa paling sah. Ketika klaim legitimasi saling berhadapan, pemerintah daerah juga menghadapi dilema: kepada siapa pengakuan administratif diberikan?

Menurut informasi yang kita himpun, Pemkab Madina kala itu tidak mengambil pilihan di antara ketiganya. Akibatnya, di dua-tiga tahun anggaran, dana hibah yang telah dianggarkan tak dapat dsalurkan kepada satu pun kepengurusan.

Jika terkonfirmasi melalui dokumen APBD dan realisasi anggaran, situasi ini menyisakan pertanyaan publik: Bagaimana konflik organisasi memengaruhi dukungan terhadap kegiatan kepemudaan? Anggaran yang tercantum dalam APBD memang tidak otomatis wajib disalurkan, tetapi alasan dan mekanisme pengelolaannya tetap harus dapat dipertanggungjawabkan.

Karateker Datang, Musda Dibuka?

Jejak pemberitaan menunjukkan, pada Maret 2021, DPD KNPI Sumatera Utara menunjuk Bambang Saswanda Harahap sebagai karateker KNPI Madina. Musda VI kemudian berlangsung pada 3 Juli 2021 dan memilih Khairil Amri secara aklamasi untuk periode 2021–2024.

Pada Oktober 2025, Deddy Jackson tampil sebagai Ketua Karateker KNPI Madina. Awal November, tim karateker tersebut beraudiensi dengan Bupati Saipullah Nasution menjelang persiapan Musda.

Kronologi ini menunjukkan bahwa mekanisme karateker pernah digunakan lebih dari sekali. Namun, tanpa dokumen organisasi yang lengkap, kita belum bisa menyimpulkan bahwa karateker terbaru merupakan akibat langsung dari kegagalan rekonsiliasi sebelumnya.

Ketika kepengurusan masih terbelah dengan satu klaim yang sama: sah, keduanya juga sama-sama dihantui bayangan: tidak sah. Ini jadi pemicu sakit jantung, bukan?

Justru di situlah pertanyaan kita bermula: apa yang sesungguhnya sudah diselesaikan, dan apa yang masih tersisa?

Pulih untuk Tumbuh

Dalam tubuh manusia, detak jantung belum cukup menjadi bukti bahwa seluruh fungsi tubuh berjalan normal. Begitu pula organisasi.

Musda bisa menghasilkan ketua baru. Tetapi, apakah tiga persoalan mendasar juga bisa selesai?

Pertama, legitimasi: bagaimana memastikan kepengurusan hasil Musda memperoleh pengakuan melalui mekanisme organisasi yang berlaku?

Kedua, konsolidasi: bagaimana menjamin OKP tidak sekadar hadir sebagai peserta, tetapi terlibat dalam penyusunan agenda dan pengawasan kerja organisasi?

Ketiga, fungsi: apakah KNPI mampu menghidupkan kaderisasi, memperjuangkan kebutuhan pemuda, dan menjadi mitra pemerintah sekaligus mitra kritis ketika kebijakan tidak menjawab persoalan mereka?
Jangan sampai Musda hanya mengganti orang yang memegang kemudi, sementara mesin organisasi tidak pernah diperiksa.

Uji Potensi, Tagih Sinergi

KNPI tidak kekurangan alasan untuk menjadi penting. Di dalamnya ada potensi kader, jaringan organisasi, dan energi sosial yang semestinya bisa memperkuat pembangunan daerah.

Tetapi potensi bukanlah hasil. Persatuan dalam pidato belum tentu persatuan dalam mekanisme. Kepengurusan tunggal pun belum otomatis menjamin representasi yang sehat.

Karena itu, Musda mendatang seharusnya menjadi ujian terbuka: apakah konflik legitimasi telah diselesaikan, apakah konsolidasi dibangun di atas kesepakatan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan apakah organisasi kembali bekerja untuk kepentingan pemuda?

Dalam perspektif tauhid, kepemimpinan adalah amanah, bukan sekadar kedudukan. Nilainya terletak pada tanggung jawab dan kemaslahatan yang dihasilkan.

Jadi, pertanyaan kita tetap sama: apakah jantung KNPI Madina sudah pulih?
Jawabannya tidak cukup ditemukan dalam nama ketua terpilih. Ia harus terlihat dari hidupnya kaderisasi, sehatnya konsolidasi, dan hadirnya manfaat bagi pemuda.

Sebab, Musda boleh melahirkan pemimpin baru. Tetapi, yang ditunggu pemuda Madina bukan sekadar jantung yang kembali berdetak — melainkan organisasi yang benar-benar menghidupkan potensi mereka. (gl-mep)

Admin : Iskandar Hasibuan

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    BUMD BARU MADINA: DI ANTARA “VONIS” AKADEMIK DAN “VETO” POLITIK

    Artikel Kripis — Gugus Literasi Mandailing Epicentrum Pendirian Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) baru di Mandailing Natal perlu diuji dengan satu pertanyaan mendasar: apakah daerah benar-benar membutuhkan perusahaan milik pemerintah,…

    Read more

    Continue reading
    LSM Ajak Inspektorat dan Kejari Mandailing Natal ” Bongkar ” Dugaan Korupsi Pelaksanaan Dana Desa TA 2025

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat( LSM) Merpati Putih Tabagsel dan LSM Genta Madina, mengajak Inspektorat & Kejari Mandailing Natal, Membongkar Dugaan Korupsi pelaksanaan Dana Desa(DD) Tahun 2025 di 377…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses