Soal Kematian Tak Wajar Siswi SD di Malintang, Tunggu Hasil “Scientific Crime Investigation” Polres Madina

Kripis: Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Tokoh Masyarakat Kecamatan Bukit Malintang, Iskandar Hasibuan/Dokumen

Kematian siswi kelas II SD di Desa Pasar Baru Malintang, Kecamatan Bukit Malintang, Mandailing Natal, memasuki babak yang lebih serius.

Pada awalnya publik bertanya: benarkah anak ini bunuh diri?

Kini pertanyaan itu sudah masuk ke meja pembuktian ilmiah. Autopsi sudah dilakukan. Tapi, jawabannya belum.

Sebagaimana diberitakan DetikSumut, polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara, memeriksa sejumlah saksi dan mengumpulkan barang bukti setelah korban ditemukan meninggal dalam kondisi tergantung. Jenazah kemudian diautopsi untuk memastikan penyebab kematian.

Perkembangan berikutnya muncul dalam pemberitaan KumparanNEWS. Kapolres Madina AKBP Bagus Priyandi menyebut hasil autopsi masih ditunggu. Polisi juga masih menyelidiki kemungkinan adanya tindak pidana pembunuhan melalui pemeriksaan saksi, ahli dan barang bukti.

Artinya jelas: Polisi belum mengunci perkara ini sebagai bunuh diri.

Ini penting.

Sebab, dalam kasus kematian seorang anak, kita tidak boleh melompat dari keadaan korban ketika ditemukan langsung kepada kesimpulan tentang bagaimana ia meninggal.

Pemeriksaan awal yang diberitakan BeritaSore menyebut ditemukan jejas pada leher dan tidak ditemukan tanda kekerasan lain pada tubuh. Tetapi keluarga meminta autopsi untuk memastikan penyebab kematian.

Maka sekarang ada dua fakta yang harus dipisahkan.

Korban ditemukan tergantung. Tetapi, penyebab pasti kematiannya masih dalam pemeriksaan pihak terkait. Dan di antara dua fakta itulah pekerjaan polisi berlangsung.

Di sinilah makna penting scientific crime investigation.

TKP diperiksa. Saksi diperiksa. Barang bukti dikumpulkan. Tubuh korban diperiksa secara forensik.

Kemudian, seluruh temuan diuji untuk menjawab pertanyaan paling dasar: Apa sebenarnya yang terjadi?

Yang hendak ditemukan, bukan sekadar siapa pelakunya. Sebab, kalau pun ternyata hasil pemeriksaan menunjukan korban memang bunuh diri, perkara ini belum selesai.

Justru muncul pertanyaan yang lebih besar:

Mengapa seorang anak kelas II SD sampai berada pada titik tragis seperti itu?

Di sinilah sosiologi Emile Durkheim memberi kita kaca pembesar. Dia tidak melihat bunuh diri semata-mata sebagai tindakan individual. Ia melihat hubungan individu dengan lingkungan sosialnya.

Tentu teori itu tidak boleh digunakan untuk menuduh keluarga, sekolah atau siapa pun. Tetapi jika kematian ini benar-benar terbukti sebagai bunuh diri, kita memang harus berani bertanya:

Apa yang gagal kita lihat dari kehidupan seorang anak?

Apa yang terjadi di rumah? Bagaimana di sekolahnya? Di antara teman-teman dan lingkungan bermainnya?

Apakah ada tekanan, ketakutan, kekerasan, perundungan atau pengalaman lain yang belum terbaca oleh orang dewasa?

Pertanyaan itu bukan tuduhan.
Itulah pertanyaan sosial yang harus dijawab.

Sebaliknya, jika bukti-bukti dari pemeriksaan justru tidak mendukung dugaan bunuh diri, pertanyaannya menjadi lebih keras:

Apa yang sebenarnya terjadi sehingga kematian seorang anak tampak seperti bunuh diri?

Di titik ini perkembangan dari sekolah juga perlu dicatat.

BeritaSore pun melaporkan korban sempat mengikuti pelajaran sebelum kejadian. Wali kelas menyebut korban terlihat ceria sebelum jam istirahat dan tidak menunjukkan keluhan tertentu. Korban dikenal cenderung pendiam.

Sementara itu, informasi mengenai dugaan perundungan yang beredar juga harus ditempatkan secara hati-hati. LensaPeristiwaNews memberitakan, pihak sekolah mendukung penyelidikan dan meminta masyarakat tidak menarik kesimpulan sebelum proses pemeriksaan selesai.

Dinas Pendidikan Madina, sebagaimana berita yang dirilis LensaPeristiwaNews, juga meminta penyebab kematian diusut secara cermat, transparan dan profesional berdasarkan fakta serta bukti.

Ini justru jalan yang paling sehat. Dugaan diperiksa. Keterangan diuji. Bukti dicari. Kesimpulan ditunda.

Sebab, keterangan keluarga bukan hasil autopsi. Kesaksian pihak sekolah bukan hasil penyelidikan. Dugaan masyarakat pun bukan alat bukti.

Dan, keadaan korban ketika ditemukan belum dengan sendirinya menjelaskan seluruh rangkaian peristiwa.

Karena itu polisi tidak perlu didorong untuk segera membuat cerita. Polisi justru perlu diberi ruang untuk menyelesaikan cerita berdasarkan bukti.

Masyarakat pun mempunyai tugas yang sama: jangan mengganti kekosongan fakta dengan prasangka.

Sekarang kita memiliki TKP, saksi, barang bukti, hasil pemeriksaan medis, autopsi, keterangan sekolah, dan keterangan keluarga.

Semuanya harus dipertemukan.

Sebab, yang sedang kita bicarakan bukan sekadar sebuah kasus kriminal. Kita sedang membicarakan kematian seorang anak kelas II SD.

Kalau benar bunuh diri, itu adalah alarm sosial.

Kalau ternyata bukan, itu adalah alarm yang berbeda — dan mungkin lebih keras.

Dua kemungkinan itu sama-sama membutuhkan kebenaran.

Maka sekarang kita tunggu hasil kerja ilmiahnya. (*)

Admin : Dita Risky Saputri.SKM.

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    Penabrak Wartawan Diamankan, Wartawan Apresiasi Kasatlantas Polres Mandailing Natal

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Ketua Umum KORWASIS(Koperasi Wartawan Sekitar Siabu), Ringgo Siregar,S.Pd, sambil meneteskan airmata karena terharu atas langkah cepat Kasat Lantas Polres Mandailing Natal, mengamankan Penabrak Wartawan M.Rusdi Batubara alias Parkoas…

    Read more

    Continue reading
    Diskominfo Madina Sampaikan Pernyataan Wakil Bupati Terkait Pemkabaran Ekskavator Wakili Pemerintah Daerah

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) melalui Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Syail Lubis menjelaskan pernyataan Ibu Wakil Bupati, Atika Azmi Utami disampaikan dalam kapasitas sebagai Wakil…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses