Kripis Pemuda | Gugus Mandailing Epicentrum
Musda KNPI Madina bukan sekadar arena memilih ketua. Di balik kontestasi itu, ada pekerjaan lebih besar: mengelola konflik, merangkul perbedaan, dan menyatukan kembali energi pemuda yang masih terjebak residu keretakan tiga versi KNPI.
Sebagai salah satu kandidat, Bobby Burhansyah Nasution

menawarkan pendekatan melalui gagasan KNPI Satu Nafas, Satu Arah. Ia menyatakan akan memberikan kesempatan kepada rekan-rekan pergerakan dan kaderisasi untuk bergabung membangun pemuda ke depan yang lebih baik.
Pernyataan ini dapat dibaca sebagai undangan terbuka bagi para tokoh pemuda dan OKP yang selama ini masih berada dalam orbit tiga versi KNPI.
Mereka tidak hanya diajak bergabung setelah Musda, tetapi juga memiliki ruang untuk memasuki kontestasi, menyampaikan gagasan, dan memperjuangkan kepemimpinan melalui satu arena organisasi.
Musda sebagai Jalan Keluar
Ada dua pesan penting dalam tawaran tersebut.
Pertama, semua pihak yang memiliki aspirasi kepemimpinan dipersilakan mengikuti kontestasi Musda sesuai mekanisme yang berlaku.
Perbedaan pilihan tidak harus menjadi alasan untuk terus berada di jalur masing-masing.
Kedua, Musda perlu menjadi jalan keluar dari pola persaingan yang berujung pada pembentukan kepengurusan tandingan melalui jalur penerbitan SK yang berbeda.
Energi yang selama ini terserap dalam perebutan legitimasi organisasi dapat dialihkan untuk membangun gerakan pemuda yang lebih produktif.
Namun, Bobby memperjelas bahwa manajemen konflik bukanlah upaya memelihara konflik untuk tujuan tertentu.
“Yang saya maksudkan adalah menjadikan Musda sebagai ajang untuk mengelola hubungan dan energi antar tokoh pemuda dan OKP agar potensi konflik dapat ditransformasi menjadi sinergi, menjadi satu kekuatan yang cukup untuk membawa permasalahan kepemudaan menemukan solusi,” jelas Bobby.
Dengan demikian, Musda bukan sekadar tempat menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Ia dapat menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai kepentingan, mengelola perbedaan, dan mengubah persaingan menjadi sinergi.
Merangkul Lewat Formasi
Setelah kontestasi, tantangan berikutnya adalah merancang formasi kepengurusan yang mampu menampung potensi dan kapasitas berbagai kelompok pergerakan.
Posisi strategis perlu mempertimbangkan rekam jejak, pengalaman kaderisasi, kemampuan mengelola program, serta kecakapan membangun komunikasi lintas-OKP.
Pembagian peran bukan sekadar urusan membagi jabatan kepada pendukung, melainkan upaya membangun rasa memiliki dan memperluas tanggung jawab bersama.
Para kandidat yang berkompetisi pun dapat menjadi bagian penting dari proses konsolidasi. Perbedaan gagasan tidak harus berakhir dengan pemisahan organisasi.
Sepanjang mekanisme, kesepakatan, dan aturan Musda dihormati, persaingan dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kepengurusan yang lebih inklusif.
Tentu, keterbukaan tersebut perlu diwujudkan melalui proses yang sah, transparan, dan dapat diterima bersama. Kesediaan berkontestasi juga harus diikuti kesediaan menghormati hasil sesuai aturan yang disepakati.
Bekerja Dengan atau Tanpa APBD
Penyatuan organisasi tidak akan berarti banyak jika hanya berhenti pada susunan pengurus. KNPI Madina juga menghadapi pekerjaan untuk membangun gerakan yang tidak sepenuhnya bergantung pada dukungan APBD.
Kepengurusan baru perlu mengembangkan program kaderisasi, pengabdian masyarakat, peningkatan kapasitas pemuda, kewirausahaan, dan kemitraan yang transparan. Setiap bidang harus memiliki fungsi, program, serta ukuran keberhasilan yang jelas.
Karena itu, horizon lima tahun ke depan perlu diarahkan pada tiga agenda: konsolidasi organisasi, produktivitas gerakan, dan keberlanjutan kaderisasi.
KNPI harus mampu menjadi ruang bersama bagi pemuda untuk bekerja, bukan sekadar tempat menghimpun jabatan atau memperjuangkan pengakuan organisasi.
Dalam Horizon Tauhid, kepemimpinan merupakan amanah. Mengelola perbedaan menuntut keadilan, keterbukaan, dan tanggung jawab untuk menghasilkan kemaslahatan. Jabatan bukan tujuan akhir, melainkan sarana pengabdian.
Pada akhirnya, gagasan KNPI Satu Nafas, Satu Arah akan diuji melalui kesediaan semua pihak mengubah pola persaingan. Mereka yang berbeda pilihan tetap memiliki ruang berkontestasi dalam satu Musda, kemudian bersama-sama membangun organisasi berdasarkan mekanisme yang disepakati.
Berkontestasi dalam satu Musda, bukan terus berkompetisi melalui kepengurusan tandingan.
Di situlah manajemen konflik menemukan maknanya: bukan menghapus perbedaan, melainkan menyatukan energi pemuda Madina agar mampu bergerak bersama, dengan atau tanpa APBD.(gl-mep)
Admin : Iskandar Hasibuan
Mantan Pengurus KNPI








