UBAH MASALAH MUDA-MUDI JADI PRAKARSA: SYARIFAH, AQILA DAN ROBI PUN NAIK PANGGUNG

SERIAL BULAN PEMUDA
“Mengeja Puzzle Potensi Pemuda Daerah dalam Perspektif Jakarta, Bercermin pada Kasus Madina”

Artikel Kripis — Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Mudi-mudi punya masalah unik. Selain cenderung jadi rahasia, problem mereka juga pada dasarnya kerap jadi curhatan, bahkan sering diekspresikan dengan cara yang mencuri perhatian publik.

Namun, di antara mereka banyak yang menemukan siasat cantik, cerdik dan cerdas. Tak sedikit anak muda yang bertarung mengubah gairah bergemuruh itu menjadi prestasi mencengangkan.

Syarifah, Aqila dan Robi adalah contoh populer yang layak kita kenal.

Syarifah Naura baru berusia 16 tahun ketika gagasannya mengantarkan dia menjadi juara pertama kategori SMA dalam kompetisi inovasi maritim tingkat ASEAN pada 2026. Dia menawarkan Smart Bronjong: Anyaman Bambu untuk Melindungi Mangrove Muda, dilengkapi Sensor Internet of Things (IoT) Guna Memantau Kondisi Lingkungan.

Kemenangannya, memang tidak jadi bukti bahwa inovasi itu sudah berhasil di lapangan. Tapi, justru di situlah tantangan berikutnya bermula: Bagaimana gagasan memperoleh kesempatan untuk diuji dan memberi manfaat nyata?

Nah, Syarifah itu muncul di panggung level ASEAN di Jakarta. Dan di Mandailing Natal, cerita Aqila dan Robi sempat dan mestinya menyita perhatian publik.

Aqila Zahra, siswa SMPN 3 Panyabungan, menempuh jalan berbeda. Dia menulis sebuah puisi. Ciptaannya berjudul “Tangisan Terakhir Hutan Rimba”, mengisahkan hewan-hewan yang berusaha menyelamatkan hutan dari keserakahan manusia. Karya itu membawanya mewakili Sumatera Utara dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2026.

Sedang Robi Nasution, sosok energik yang mencuat sebagai pimpinan ormas dalam sebuah aksi massa menentang kegiatan tambang tanpa izin (PETI).

Sebagai Ketua Umum Koalisi Mahasiswa Pemuda Mandailing Natal, Robi menyuarakan desakan agar aparat mengusut dugaan aktivitas tambang emas tanpa izin (PETI) di kawasan Sungai Bubu. Lalu, Robi pun menjadi sorotan publik ketika fakta kerusakan sungai dan lingkungan seakan bisu.

Jadi, ketiga tokoh muda ini bergerak melalui jalur berbeda: inovasi teknologi, ekspresi seni, dan advokasi publik. Namun, ada satu benang merah: potensi menjadi berarti ketika seseorang berani mengarahkannya pada persoalan di luar dirinya.

Iya, ini adalah kisah tentang keberanian untuk hadir dalam persoalan yang ada di luar dirinya. Di sinilah sosiolog bernama Robert Sampson memperkenalkan konsep “collective efficacy”, yakni kemampuan warga membangun kepercayaan dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama.

Konsep ini membantu kita membaca tantangan pemuda Madina. Kita tidak cukup melahirkan anak muda berprestasi atau berani bersuara. Kita perlu membangun lingkungan yang menghubungkan kreativitas, pengetahuan, keberanian, dan kerja kolektif.

Bagi anak muda yang kini berusia sekitar 17 tahun, tantangannya tidak sederhana. Mereka memasuki masa transisi menuju pendidikan lanjutan, pekerjaan, dan kemandirian ketika dunia digital menawarkan peluang sekaligus tekanan.

Mereka mudah melihat keberhasilan orang lain, tetapi belum tentu memiliki mentor, akses, modal atau ruang untuk mencoba. Karena itu, jangan buru-buru menyebut yang lain kurang berdaya juang sebelum kita memeriksa kesempatan yang tersedia.

Apa yang bisa menjadi terobosan bagi Madina?

Sekolah dan madrasah perlu membuka ruang bagi karya yang melampaui perlombaan. Komunitas pemuda dapat mempertemukan siswa, mahasiswa, pelaku usaha, peneliti, dan pemerintah untuk menguji gagasan.

Ide tentang lingkungan harus memperoleh pendampingan teknis; karya seni perlu menemukan panggung dan audiens; sedangkan advokasi pemuda mesti bertumpu pada data, keberanian etik, dan tawaran solusi. Pemerintah, kampus, organisasi kepemudaan, serta jaringan perantau bisa menjadi penghubung, bukan sekadar penonton prestasi.

Dalam horizon tauhid, kemampuan bukan semata-mata jalan meraih pengakuan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Keberanian perlu disertai kejujuran; kecerdasan perlu dipandu akhlak; dan prestasi menemukan kemuliaannya ketika menghadirkan kemaslahatan. Kesalehan bukan lawan dari inovasi atau kritik, melainkan nilai yang menjaga keduanya agar tidak kehilangan arah.

Puzzle pemuda Madina tidak akan selesai hanya dengan menemukan siapa yang paling menonjol. Kita harus menyiapkan ruang agar semakin banyak anak muda berani berpikir, bertindak, bekerja bersama, dan menggunakan kemampuannya untuk memperbaiki kehidupan. Dari potensi menuju prakarsa, dari prakarsa menuju kemaslahatan — itulah ukuran yang lebih layak bagi pembangunan generasi. (gl-mep)

Admin : Dita Risky Saputri.SKM.

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    Polres Madina Olah TKP Dugaan Kekerasan Terhadap Anak di Panyabungan Utara

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Kepolisian Resor (Polres) Mandailing Natal (Madina) bergerak cepat merespon pengaduan masyarakat terkait dugaan tindak pidana kekerasan terhadap anak yang terjadi di Desa Jambur Matinggi, Kecamatan Panyabungan Utara. Langkah…

    Read more

    Continue reading
    Tiga Unit Rumah di Desa Panyabungan Tonga Kab.Madina Terbakar

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Baru saja atau sekitar pukul 07.00 Wib, Minggu(18/10) Tiga Unit Rumah di Desa Panyabungan Tonga Kec.Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal, terbakar habis Ketika rumah yg terbakar adalah 1.Miskuddin usia 64…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses