Seakan tidak ada habisnya, jejaring radikalisme-ekstrimis ISIS baru-baru ini mengguncangkan Sibolga-Tapanuli Tengah. Bahkan upaya negosiasi dari pihak kepolisian dan pemuka agama setempat ketika itu tidak menemukan titik temu dan berakhir dengan tindakan bom bunuh diri. Tak habis pikir, pelaku bom bunuh diri kali ini di lakukan oleh seorang ibu, yang ikut menewaskan anak kandungnya sendiri. Berbeda dengan bom Surabaya, meski perempuan terlibat di dalamnya akan tetapi pada kejadian itu istri dari teroris tersebut diduga hanya mengikuti suaminya. Dalam artian aktor dari kejadian itu adalah suaminya, sementara kejadian yang di Sibolga diduga kuat sama-sama ikut terlibat dan menjadi otak dari kejadian tersebut.
Bermacam spekulasi berkembang, ada yang menyebut bahwa gelagat dari pelaku akhir-akhir ini seperti terpangaruh aliran radikal (seperti dilansir oleh Detik News). Tapi apapun alasan-alasan yang menyertainya, yang pasti, pada kejadian itu perempuan sudah terlibat secara aktif. Tentu kejadian ini menimbulkan rasa prihatin, kenapa tidak? Pada umumnya perempuan itu dibalut kasih sayang yang penuh dan memiliki naluri keibuan yang secara reflek menjaga anak-anaknya dari macam bahaya. Akan tetapi konsumsi pikiran radikal-ekstrimis ternyata mampu melucuti rasa kasih sayang yang tertanam secara otonom. Maka untuk membendung itu, diperlukan gerakan dari dalam kaum perempuan itu sendiri agar lebih memahami persoalan mereka secara detail.
Ulama Perempuan Sangat dibutuhkan
Perlu kita garis bawahi, bahwa terorisme yang didasari oleh kebencian terhadap satu agama, bisa terjadi pada seluruh agama bahkan bagi yang tidak beragama sama sekali (Atheis). Oleh karenanya, tindakan antisipasi perlu dilakukan. Indonesia sebagai negara yang dihuni oleh mayoritas muslim memiliki banyak ruang untuk memperbaiki umat terlebih-lebih kaum perempuan. Van dan Harder menyebutkan kaum perempuan mulai mendirikan organisasi-organisasi keperempuanan di Indonesia lewat ormas Islam mencuat sejak 1937. Itu artinya, kaum perempuan telah banyak terlatih berorganisasi dan memiliki jaringan yang kuat mulai dari perkotaan hingga pedesaan.
Di lain hal, perempuan Indonesia sejak dulu sudah banyak yang terlibat dalam diskusi-diskusi kegamaan, ditambah lagi pesantren sebagai pendidikan tertua sejak dari awal telah memberikan peluang pendidikan yang sama bagi perempuan. Hasil didikan dari lembaga pendidikan keagamaan nusantara tersebut disinyalir telah banyak memproduksi kaum perempuan yang intelektual dan juga ulama. SDM ini dipandang cukup untuk membentengi kaum perempuan dari paham radikal.
Kebutuhan terhadap ulama perempuan untuk membendung paham radikal menjadi keniscayaan. Dikarenakan perempuan lebih banyak bergaul dengan perempuan dan dipandang lebih mengerti akan problema yang dialami perempuan sehari-hari. Keterbatasan perempuan bergaul dengan yang bukan jenisnya yang dikonstruk oleh budaya dan penafsiran agama tertentu mendesak agar ulama perempuan harus terlibat aktif dalam menanamkan ulang nilai-nilai kebangsaan dan nilai agama yang moderat. Bila mana hal ini terlampaui, tidak tertutup kemungkinan perempuan-premepuan indonesia berikutnya tetap ditumbalkan oleh kelompok ekstrimis tersebut.
Peran dan Ruang Strategis Ulama Perempuan dalam Membendung Paham Radikal
Sebagaimana telah diuraikan di atas, perempuan Indonesia banyak yang memiliki kompetensi keilmuan yang mumpuni terlebih-lebih di bidang agama. Kompetensi ini merupakan modal untuk mensosialisasikan Islam yang rahmatan lil-alamin dan nilai-nilai kebangsaan yang diterjemahkan kedalam kehidupan sosial. Ulama perempuan semestinya berperan secara aktif dalam interaksi sosial wabilkhusus dalam acara seremonial berbau keagamaan. Keterlibatan ulama perempuan secara aktif diprediksi bisa mempersempit paham radikal ini berkembang. Karena paham ini diduga keras menjalar dari orang-orang yang tidak memiliki keutuhan argumentasi tentang agama dan paham kebangsaan. Kehadiran para ulama perempuan diberbagai majelis ibu-ibu setidaknya bisa memberikan bantahan atas penjelasan yang tidak lurus atau yang meyentuh sentimen keharmonisan berbangsa.
Ada beberapa peran dan ruang strategis yang berintraksi langsung dengan kaum perempuan.
- Da’i, pendakwah dari kalangan ulama perempuan masih tergolong minim. Padahal acara dakwah sungguh sangat diminati oleh kaum perempuan, misalnya dalam pengajian, arisan dan hampir setiap perkumpulan ibu-ibu selalu menjadikan siraman rohani sebagai acara inti. Dengan begitu, keterlibatan ulama perempuan dalam seremonial-seremonial tersebut akan mendorong pemahaman kebangsaan dan keagamaan yang kuat yang dapat mempersempit gerak paham radikal untuk berkembang.
- Terlibat dalam pendidikan di madarasah-madarasah kaum perempuan, BBC Indonesia pernah melaporkan, pemberatasan paham radikal di Negeria tidak terlepas dari peran aktif ulama perempuan lewat pendidikan di madrasah-madrasah, khususnya madrasah perempuan (2017). Ulama perempuan di sana melirik madrasah sebagai upaya untuk menggembleng genarasi agar tidak tersentuh paham tersebut. Konsep ini begitu ampuh untuk mempersiapkan generasi perempuan mendatang, agar tidak cepat-cepat percaya apalagi berdalil kepada sesuatu yang viral.
- Melibatkan diri dalam tubuh organisasi perempuan.
Seperti dikemukakan di atas, oranganisasi perempuan sudah melebarkan sayap sejak tahun 1937. Keikutsertaan kaum intelektual dan agamawan perempuan dalam tubuh organisasi perempuan adalah peluang yang strategis untuk mengaktifkan kembali pikiran-pikiran kebangsaan dan keagamaan. Organisasi perempuan dapat dimanfaatkan sebagai wadah tukar pikiran dengan mensinergikan pikiran-pikiran kebangsaan dan tafsiran agama yang moderat.
Pada akhirnya, mengusir dan memberangus ideologi yang tidak sejalan dengan NKRI begitu juga pikiran-pikiran yang mengarah kepada tindakan radikal, adalah tugas bersama. Kepedulian dan kesadaran kita terhadap nilai berbangsa adalah jalan lurus yang semetinya dipangku dengan saling bahu membahu. Tidak tertutup kemungkinan, sikap tak peduli dan tak mau tau tentang nilai bangsa yang kita miliki adalah awal dari mendominasinya kaum sempalan yang kian punya ruang. Untuk itu, kaum perempuan yang dalam hal ini ulama dan intlektual perempuan harus ikut ambil bagian.
Admin : Dina Sukandar Hasibuan,A.Md






