Wacana Penyederhanaan Kurikulum: Posisi Mata Pelajaran Sejarah Oleh: Muhammad Andre Syahbana Siregar

Penulis/Ist

Prof A. Daliman (2012): “Kita sedang diliputi penyakit ‘amnesia’ lupa sejarah, lupa diri, dan lupa identitas.” Apa yang terjadi saat ini, gambaran untuk kita semua, bahwa, bangsa Indonesia telah mengalami krisis identitas nasional.”

Tidak ada kehidupan manusia yang tak luput dari pandangan sejarah, mungkin begitulah cara memaknai sejarah dengan persefektif yang luas. Manusia dan sejarah merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebab, manusia tidak pernah lepas untuk selalu berpacu dengan waktu, yakni masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.
Cicero memberikan sebuah ungkapan, “Historia Magistra Vitae” yang berarti, sejarah adalah guru terbaik bagi kehidupan. Beliau meletakkan posisi sejarah sebagai ‘guru’, dan panduan untuk berkehidupan. Berbagai pengalaman, dan kesalahan yang pernah terjadi membuat kita harus belajar untuk tetap terus berubah ke arah yang lebih baik.
Kuntowijoyo, (2008) menyebutkan “sejarah tidak pernah menjadi dimensi luar, tetapi selalu dijalani sebagai kesadaran.” Oleh karenanya, kita dituntut menjadi manusia yang menyejarah. Kita menjadi manusia yang peka dan simpati terhadap pelestarian dan warisan moyang terdahulu. Sebab, kita memiliki tanggung jawab, agar bangsa ini selalu terhindar dari kemunduran dan krisis identitas. Yang di khawatirkan mengarah kepada degradasi.
Polemik Mata Pelajaran Sejarah di Bangku Sekolah
Akhir-akhir ini kita dilanda pada sebuah kebingungan yang besar. Kita, dihadapkan pada sebuah rencana penyederhanaan kurikulum yang melibatkan mata pelajaran sejarah bergeser posisinya, dari semula ‘wajib’ menjadi mata pelajaran ‘pilihan’, pada bangku sekolah jenjang SMA/dan sederajatnya. Bahkan, pada jenjang SMK, kita melihat resiko kehilangan yang besar pada mata pelajaran ini. Ketika sebelumnya, sejarah sudah tidak diajarkan pada kelas XI dan XII di jenjang SMK.
Berbagai respon tentu saja muncul dari para akademisi dan beberapa organisasi yang terlahir dari rahim sejarah. Adapun itu, antara lain, Masyarakat Sejarawan Indonesia, Asosiasi Guru Sejarah Indonesia, Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Indonesia, dan lain sebagainya. Kesemuanya sepakat memberikan respon agar mata pelajaran sejarah di sekolah baik jenjang SMA/MA/SMK/MAK/dan sederajat tidak dihilangkan.
Mereka meminta agar posisi mata pelajaran sejarah, tetap menjadi mata pelajaran ‘wajib’ dan bukan mata pelajaran ‘pilihan’. Hal ini tentunya diperlukan, sebagai bentuk antisipasi jika sejarah hanya diletakkan pada mata pelajaran pilihan, maka sangat rentan dikhawatirkan mapel ini tidak dapat tempat untuk diajarkan. Maka dari itu, sejarah harus pada posisinya menjadi mata pelajaran wajib.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang pada saat ini dipegang oleh Nadiem Makarim, beliau telah mengklarifikasi berita yang beredar mengenai berbagai macam polemik dan isu mata pelajaran sejarah yang berada di bangku sekolah, melalui akun sosial media milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Beliau memberikan keterangan, bahwa mata pelajaran sejarah tidak akan dihilangkan dari bangku sekolah, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan terus berkomitmen memajukan pendidikan sejarah dan menjadikannya pelajaran yang menarik bagi anak-anak.
Mapel Sejarah di Bangku Sekolah
Kerap kali memang, sejarah menjadi mata pelajaran yang terbelakang di bangku sekolah. Peserta didik biasanya meletakkan mapel ini pada pilihan akhir. Sangat jarang, diantara para peserta didik yang meminati, terlebih-lebih mencintai mapel sejarah. Kesemua ini adalah medan yang menjadi tantangan bagi para pendidik sejarah.
Para guru dihadapkan pada kemajuan zaman, dan ditantang pula dalam menciptakan kreasi, inovasi, dan tujuan dari keberlangsungan pembelajaran sejarah bagi mereka, para peserta didik. Memang menjadi beban yang benar-benar nyata, sebab fakta yang ada, tidak berlangsung demikian. Kita dihadirkan pada kehilangan minat para peserta didik. Mereka hanya terbelenggu dengan kebosanan. Peserta didik terbawa pada berbagai kisah dan cerita yang sangat sulit untuk mereka hadirkan dalam ruang imajinasinya.
Padahal, secara nyata, tanggung jawab para guru sejarah sangat besar. Mereka dituntut untuk membangun rasa nasionalisme peserta didik, dan membuat mereka bangga terhadap identitas negaranya. Para pendidik sejarah juga dituntut untuk melahirkan peserta didik yang memiliki daya berpikir kritis, agar terhindar dari hoax, maupun kecacatan dalam berpikir. Sebab, belajar sejarah memberikan ruang kepada kita untuk berpikir runtut, tidak kaku, dan tentunya selalu menghadirkan fakta.

Penulis Pendidik di Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandailing Natal, dan Aktif Pada Komunitas WeRead

Biodata Penulis:
Penulis lahir pada tanggal 23 Mei 1996 di Medan. Penulis merupakan alumnus Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Medan. Selepas meraih Sarjana Pendidikan Sejarah, aktivitas penulis lebih banyak dihabiskan untuk menjadi seorang tenaga pendidik. Saat ini penulis diberikan amanah untuk mendidik pada Madrasah Aliyah Negeri 1 Mandailing Natal.

No Hp: 082364128702

Alamat Lengkap: Jalan Sidomulyo Gg. Semangka 26 No. 96A, Pasar 9 Tembung, Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara.

Admin : Dita Risky Saputri hasibuan, SKM.

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.