Wisata Madina Lebih Menonjol: Khasanah Religi Bahkan Bertebaran Ujung Ke – Ujung

Makam Syech Abdul Fatah di Desa Darussalam Panyabungan

Kalau kita susun rencana wisata Madina dari Jakarta, bayangan yang cepat muncul
mungkin pantai, air panas, pegunungan, sungai, air terjun atau lanskap Sorik Marapi.

Tetapi ada satu wajah Madina yang barangkali belum cukup kita baca sebagai aset wisata: khazanah religi.

Bukan berarti wisata religi sudah menjadi sektor wisata paling dominan. Saat ini,
memang belum.

Tetapi, gambaran awalnya tak hanya menarik, tapi juga menggairahkan: makam
ulama, masjid tua, pesantren, pondok persulukan , kampung-kampung bersejarah dan jejak perkembangan Islam tersebar dari Mandailing Julu hingga Pantai Barat dan dari Siabu sampai Pakantan.

Maka persoalannya bukan sekadar berapa banyak objek wisata religi yang kita
punya.

Pertanyaan yang lebih menarik:
Bagaimana kalau satu destinasi religi menjadi pintu masuk untuk menikmati seluruh pengalaman wisata Madina?

Inilah yang saya sebut wisata mix.
Bayangkan seorang wisatawan datang ke sebuah makam ulama. Ia tidak sekadar
berziarah, berdoa, lalu pulang.

Ia memperoleh cerita tentang sang ulama.
Dari sana ia bergerak menuju pesantren tua atau masjid bersejarah.

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke objek alam terdekat: air panas, sungai, air
terjun, persawahan, pegunungan atau panorama alam.

Siang hari, ia menikmati kuliner lokal.
Tidak berhenti di situ.

Ia bertemu masyarakat, melihat kesenian, mengenal tradisi, mungkin mengikuti
proses pembuatan kerajinan. Tak ada ruginya, coba juga menengok work shop
gordang sambilan di Siantona atau Pakantan.

Menjelang pulang, perjalanan dibuat lebih santai: berburu cendera mata dan oleh-oleh.

Ada sentra alame di Kotasiantar sembari selfi-selfi silaturrahim di Sopo Godang
Harajaon Hutasiantar.

Keripik singkong khas di Banjar Kobun, sisi barat Mesjid Qurro’ Wal Huffadz.
Produk UMKM. Suvenir kaos di Kampung Kaos Madina dan batik motiv Mandailing
di ruang displai Narisya Batik.

Kopi. Nah, kalau mau minum kopi sembari diskusi sejarah dan bisnis kopi
Mandailing bisa juga mampir di Cafe Koperasi Kopi Hutagodang Ulu Pungkut.

Kuliner olahan lokal, seperti bola pisang Pasar Maga atau ongol-ongol Mandailing di
Saba Purba, juga insya-Allah memberi kesan yang dalam.

Atau produk khas lainnya.
Satu titik religi akhirnya tidak lagi menjadi tujuan tunggal, tetapi menjadi trigger
perjalanan ekonomi dan studi yang lebih panjang dan lengkap.

Sebuah Rangkaian Pengalaman
Ini yang mungkin selama ini terlewat.
Kita sering berpikir:Ada makam → jadikan objek wisata.

Padahal yang lebih produktif:
Ada makam → bangun cerita dan narasi→ cari objek alam terdekat → temukan
budaya lokal → siapkan kuliner → hidupkan UMKM → susun rute → jadikan
pengalaman tak terlupakan.

Dengan begitu, wisatawan tidak datang hanya untuk satu jam.

Ia tinggal lebih lama. Bahkan bisa menikmati tidur di homestay dalam lingkungan
kampung yang asli dan asri.

Belanja lebih banyak.
Berinteraksi lebih banyak.
Dan uang wisatawan berputar lebih panjang di masyarakat.
Inilah yang membuat wisata mix jauh lebih menarik dibandingkan menjual destinasi
secara sendiri-sendiri.

Modal Cukup, Lokasi Banyak
Daftar destinasi daerah menunjukkan adanya makam ulama dan situs sejarah di
sejumlah kawasan.

Jejak pendidikan Islam tua juga ditemukan di berbagai tempat,
termasuk Pondok Huraba yang disebut MUI Sumut berdiri sejak 1902.
(sadata.madina.go.id)
Artinya, kita tinggal mengubah cara membaca potensi.

Makam bukan hanya makam.
Ia bisa menjadi pintu sejarah.
Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan.

Ia bisa menjadi pintu pengetahuan.
Masjid tua bukan hanya tempat ibadah.
Ia bisa menjadi pintu arsitektur dan sejarah Islam lokal.

Alam bukan hanya latar belakang.
Ia menjadi bagian perjalanan.
Kuliner bukan hanya makanan.
Ia menjadi pengalaman budaya.
Dan oleh-oleh bukan sekadar barang bawaan.

Ia menjadi cara wisatawan membawa sebagian pengalaman Madina pulang ke
rumah.

Maka bisa saja kita membangun konsep sederhana:
Religi → Sejarah → Alam → Budaya → Kuliner → UMKM → Oleh-oleh.
Satu rute. Memberi banyak pengalaman. Banyak pelaku ekonomi yang ikut
menikmati.

Bayangkan Peta Wisata Mix
Tidak perlu langsung membangun aplikasi mahal.
Mulai saja dengan peta digital.
Setiap titik diberi:
1 koordinat + 1 foto + 1 cerita + 1 sumber sejarah + 1 pilihan destinasi lanjutan.
Misalnya:
ZIARAH
↓
SEJARAH
↓
ALAM
↓
KULINER
↓
BUDAYA
↓
BELANJA
↓
PULANG MEMBAWA CERITA
Dari sinilah wisata Madina bisa bergerak dari sekadar “daftar objek” menjadi “jaringan
destinasi.”
Dan jaringan inilah yang membuat sebuah daerah lebih mudah dijual sebagai tujuan
perjalanan.
Bukan:
“Mari datang melihat makam.”
Tetapi:
“Mari mengalami Madina.”
Horizon Tauhid
Dalam perspektif tauhid, perjalanan bukan sekadar perpindahan tubuh dari satu titik
ke titik lain.
Ia bisa menjadi perjalanan membaca tanda-tanda kebesaran Allah: pada alam,
sejarah manusia, ilmu, kebudayaan dan rezeki yang berputar di tengah masyarakat.
Karena itu, wisata religi tidak perlu dipertentangkan dengan wisata alam, budaya
atau kuliner.
Justru semuanya dapat dirangkai menjadi satu perjalanan bermakna.
Dari ziarah kita menyegarkan ingatan, termasuk tentang kampung halaman dan kampung
asal.

Dari alam kita mendapatkan perenungan.
Dari budaya kita mendapatkan identitas.
Dari kuliner kita mendapatkan pengalaman.
Dari UMKM kita menggerakkan ekonomi.
Dan ketika wisatawan pulang membawa alame, keripik singkong atau cendera mata
Madina, yang dibawa sesungguhnya bukan hanya barang.
Itu semua bisa membawa sebagian cerita tentang ketika saya pulang ke Madina.(*)

Artikel Kripis — Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Admin : Dita Risky Saputri.SKM.

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    Wabup Atika Buka Porsadin VII Kab. Madina

    KOTANOPAN(Malintangpos Online): Wakil Bupati Atika Azmi Utammi Nasution membuka Pekan Olahraga dan Seni Antardiniyah (Porsadin) VII Kabupaten Mandailing Natal (Madina) di Pondok Pesantren Al Munawwaroh, Desa Manambin, Kecamatan Kotanopan, pada Sabtu,…

    Read more

    Continue reading
    Wali Kota Sibolga Tinjau Sejumlah Titik Terdampak Banjir dan Pantau Kondisi Warga

    SIBOLGA(Malintangpos Online): Wali Kota Sibolga, Akhmad Syukri Nazry Penarik, turun langsung ke lapangan meninjau kondisi sejumlah wilayah yang terdampak hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi mulai siang hingga sore hari…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses