Haruskah Linieritas Keilmuan Dihapuskan..?

Bintang Rosada, M.Pd
Dosen Bahasa dan Sastra Arab STAIN Madina(Penulis).

Kehidupan di dunia syarat akan peradaban yang komplek, mulai dari sopan santun, budi Bahasa, kecerdasan berfikir sampai pada kebudayaan bangsa-bangsa yang tidak sama tingkatnya.

Sering terjadi gesekan antar budaya satu dengan budaya lainnya, antar bahasa satu dengan bahasa lainnya, antar pola berfikir satu dengan pola berfikir lainnya.

Permasalahn tidak hanya timbul dari faktor internal akan tetapi faktor eksternal tidak luput menjadikan suatu gesekan.

Gesekan yang silih berganti datang membutuhkan tidak hanya satu solusi, akan tetapi lebih kepada berbagai macam solusi.
Cogito Ergo Sum aku berfikir maka aku ada, sebuah kalimat Yunani yang diperkenalkan oleh salah satu filsuf Prancis bernama Descartes.

Sejatinya keberadaan seseorang dapat dikatakan jika ia mampu berfikir sistematis, logis, mengakar, dinamis dan diamini oleh intuisinya.

Pola pikir manusia yang dinamis haus akan pengetahuan membuat peradaban tidak hanya berkutat pada moral, norma, etika dan estetika, tapi juga merambah pada keilmuan terutama di perguruan tinggi.

Berbagai masalah muncul yang solusinya tidak hanya didapat dari satu sumber keilmuan. Satu keilmuan dinilai terlalu minim dalam menyimpulkan berbagai aspek permasalahan di dunia ini.

Revolusi sistem fisik cyber yang menjangka seluruh sisi kehidupan menjadikan Istilah 4.0 (digital platform) muncul sebagai penanda berkembangnya tekhnologi untuk menyeimbangi peradaban manusia yang sangat komplek, dimana semua solusi permasalahan dapat diselesaikan dengan hanya mengetik tombol enter.

Sama halnya di perguruan tinggi, revolusi keilmuan terjadi seiring adannya pengamatan, penelitian dan penyimpulan. Keilmuan satu dengan yang lainnya dinilai mempunyai koneksi dan integrasi tanpa harus adanya dikotomi. Satu sama lain saling menopang dan saling bersinergi.

Prof Amin Abdullah seorang filsuf, ilmuan, pakar hermeneutika dan cendekiawan muslim Indonesia yang pernah menjabat sebagai rector Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam tulisannya tentang Agama, Ilmu dan Budaya: Paradigma Integrasi Interkoneksi Keilmuan menyatakan; Belum tentu orang atau kelompok yang merasa menguasai ilmu keagamaan secara baik secara otomatis akan dapat memahami mengenal perkembangan ilmu pengetahuan di luar bidang keahliannya secara baik pula. Linieritas bidang ilmu, khususnya dalam ilmu-ilmu keagamaan, rupanya mengandung resiko tinggi dalam hidup bermasyarakat luas, khususnya di ruang public seperti saat sekarang ini, setelah berkembangnya tekhnologi informasi dan jejaring social yang dibawa serta.

Ilmu agama atau ilmu fikih yang tidak dibarengi ilmu sosiologi dapat mengguncang dan menurunkan kedudukan, martabat dan jabatan seseorang.

Hal di atas banyak terjadi dalam kehidupan masyarakat khususnya di Indonesia, suatu gesekan yang timbul masih sering disangkut pautkan dengan pendapat satu keilmuan, tanpa mau menilik pendapat keilmuan lainnya.

Salah satu fenomena yang sering terjadi yakni penentuan awal Ramadhan yang jatuh pada tanggal 1 syawal. Antar dua kubu ( Rukyat dan Hisab) saling mengklaim dirinya yang paling benar.

Yang satu menggunakan alat stetoskop dan yang lain menggunakan rasional. Tak jarang terjadi perdebatan sengit di antara keduanya. Al Quran menyebutkan dalam surat Al Qashash ayat ke 77 yang artinya: “dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu yaitu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiaanmu dari kenikmatan duniawi, dan berbuat baiklah kepada orang lain, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Ayat diatas menjelaskan bahwa kebahagiaan akhirat tidak akan bisa diraih tanpa mencari kebahagiaan dunia, begitupun sebaliknya.

Secara gamblang ayat tersebut memuat adanya integrasi dan interkoneksi antara keilmuan agama dengan keilmuan dunia (umum) yang tidak dapat dipisahkan, sebagaimana jaring laba-laba yang menggambarkan satu kesatuan, dimana antar disiplin ilmu saling berkomunikasi dan menerima masukan dari disiplin ilmu lain di luar bidangnya.

Begitupun halnya yang terjadi di perguruan tinggi.

Di perguruan tinggi khususnya yang berbasis islam, tidak hanya berdiri bidang keilmuan agama tetapi juga terdapat bidang keilmuan umum.

Namun permasalahan yang timbul yakni belum adanya pemakanaan integrasi interkoneksi antar bidang keilmuan. Satu sama lain masih saling menjauhkan diri dan berpegang teguh pada keilmuan tertentu sebagai keahliannya.

Dampak lainnya, di dunia kerja terdapat penolakan yang bersifat administratif karena masalah linieritas keilmuan yang tertera pada ijazah.

Bayangkan selembar ijazah dapat menentukan kehidupan seseorang di dunia kerja.

Ijazah yang seharusnya menjadi identitas seseorang berubah fungsinya menjadi alat pertimbangan, seolah-olah bertolak belakang dengan aturan pemerintah pusat mengenai linieritas keilmuan.
Sebagai akademisi yang terus ingin berkarya untuk negeri tercintanya dan berkembang pemikirannya, saya merasa terkungkung diantara fenomena dunia kerja dan peraturan Pendidikan pemerintah pusat.

Aturan sekolah dasar yang menjejalkan berbagai bidang keilmuan mulai dari ilmu agama, ilmu umum, sampai muatan lokal kepada siswanya harus dikerucutkan menjadi satu bidang keilmuan di perguruan tinggi sebagai keahlian.

Kenyataanya pemikiran manusia yang dinamis dan komplek berubah -ubah, terkadang ingin menyatakan A, B, C, atau D, akan tetapi karena bukan bidang keahliannya maka mulut dituntut terkunci.

Konflik dikotomi bidang keilmuan tidak hanya terjadi di dunia Pendidikan, salah satunya merambah pada dunia hukum antara Mahkamah Konstitusi dan Pengadilan Agama.

Terjadi perbedaan pendapat dalam menghukumi nisbat anak hasil dari pernikahan siri, dimana pihak satu menyatakan nisbat anak dapat dikaitkan kepada ayah biologisnya dan sebaliknya menurut pihak lain .

Jika ditilik Kembali semua bidang keilmuan dapat bersinergi anatara satu dengan bidang keilmuan lainnya, saling memberikan solusi tanpa harus menjatuhkan, membentuk jaring laba-laba keilmuan (spider web) tanpa menutup diri.

Haruskan linieritas keilmuan dihapuskan???, rasanya konflik tersebut belum menunjukkan tanda-tanda berakhir dalam waktu dekat ini. wawlahua’lam….

 

Admin : Iskandar Hasibuan,SE.

Komentar

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.