“IDUL FITRI MEMPERKOKOH DAN MERAWAT PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA” (1 )

Oleh :
Husni Ismail, S.Pd.I, M.A
Dosen STAIN Mandailing Natal.

 

Masa pandemi bukan menjadi penghalang untuk semangat kebersamaan dan
menguatkan persaudaraan antara umat manusia khususnya di Indonesia, walaupun larangan
mudik yang ditetapkan pemerintah telah menuai kritik dan kontroversi di tengah
masyarakat, namun larangan ini bertujuan positif dan sifatnya preventif.
Perbedaan pendapat pada kebijakan-kebijakan yang ditetapkan pemerintah tidak
seharusnya menjadi polemik yang berkepanjangan, apalagi menciptakan kebencian-
kebencian terhadap pemerintah, karena perbedaan cara penanggulangan pandemi ini
muncul atas dasar kebaikan bersama. Larangan mudik juga bukan bermaksud untuk
melarang dan memutus silaturahmi, tetapi mempertimbangkan maslahah yang lebih besar
melihat kondisi pandemi.
Jarak tidak menyurutkan niat untuk tetap merayakan Idul fitri sebagai puncak hari
kemenangan dan kebahagiaan umat Islam. Karena jarak bukan penghalang untuk bersama
dan perbedaaan pendapat bukan alasan penghambat persaudaraan.
Kita tahu, bilamana penghujung Ramadan tiba, maka umat Islam khususnya di
seluruh tanah air memasuki babak baru, suasana baru, bulan baru, bulan yang penuh fitrah,
bulan yang disakralkan oleh umat Islam dan dimaknai sebagai kesucian, suci dari berbagai
aspeknya, baik lahir maupun batin.
Di bulan Ramadan, umat Islam telah diuji dari berbagai bentuknya, melawan hawa
nafsu, meningkatkan kesabaran, respek pada orang lain, tidak mudik, dan berbagai
tantangan lainnya telah dilewati. Tindakan-tindakan itu bertujuan untuk menjadi muslim
yang utuh dan komprehensif dalam rangka meningkatkan ketaqwaan dan keimanan kepada
Allah swt.
Tentu ujian itu punya tuntutan yang seharusnya membawa kemaslahatan bagi
dirinya dan umat manusia ketika takbir dikumandangkan, Allah Maha Besar, Allah Maha
Besar, Allah Maha Besar. Kehadiran bulan Syawal yang penuh Rahmat dan suci itu,
manusia mulai sadar dan mengarah pada hal-hal yang positif dan baik dari sebelumnya.
Idul fitri jika dipahami secara praktis adalah hari raya, hari lebaran, hari
kemenangan umat Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal pada penanggalan hijriah, di
[14/5 08:55] Iskandar Hasibuan: hari itu umat Islam disunnahkan melaksanakan shalat Idul fitri (shalat id) yang ditutup
dengan khutbah dan doa serta tradisi saling memaafkan.
Namun Idul fitri dalam kajian ini akan dimaknai secara konteks yang lebih luas dari
sekedar pemahaman teks, praktis dan sederhana. Idul fitri dalam tulisan ini mencoba untuk
membuka ruang diskusi yang lebih jauh. Fenomena dan beberapa kasus yang terjadi
belakangan ini akan menjadi objek bahasan yang menurut penulis memiliki relevansi di
hari Idul fitri ini dalam rangka mengokohkan persatuan Bangsa.
Melawan Hoax dan Ujaran Kebencian
Akhir-akhir ini, kita sering menemukan informasi yang tidak jelas sumber dan
kebenarannya, yang sekarang diistilahkan dengan hoax/berita bohong. Hal ini diiringi
perkembangan tekhnologi dan informasi yang semakin canggih, sehingga masyarakat
dengan mudah mendapatkan informasi dari berbagai media online, semisal Facebook,
Instagram, Twitter, Youtube, Whatsapp dan lain sebagainya.
Tak terkecuali ujaran kebencian juga menyelimuti dunia maya, media sosial
difungsikan sebagai bentuk ketidaksukaan terhadap satu golongan atau kelompok yang
bebeda pandangan dengannya, baik pandangan politik, sosial, agama, budaya, ekonomi dan
lainnya.
Alhasil tak jarang informasi yang beredar itu telah menimbulkan kekacauan dan
konflik di tengah masyarakat yang beragam etnis, suku, agama, budaya, bahasa dan
pandangan politik. Dunia maya seakan menjadi tempat pelampiasan atas dasar kebencian
dan ketidaksukaan, salah satunya kepada pemerintah dan golongan yang berbeda paham
dengannya.
Dalam konteks masa pandemi, kasus yang kerap kita temukan biasanya berupa
video atau gambar yang disertai dengan tulisan provokatif, semisal informasi covid-19.
Sebagai contoh, viralnya video yang menyatakan bahwa ada banyak orang Cina mendadak
masuk Islam demi terhindar dari corona. Namun faktanya, informasi itu adalah hoax, dalam
video itu bukan orang Cina melainkan orang Filipina, dan video itu diambil jauh sebelum
virus corona pertama teridentifikasi. (lihat.Islami.co)
Dengan memanfaatkan momen Idul fitri, seyogiyanya kita sadar akan bahaya dan
dampak yang ditimbulkan oleh hoax dan ujaran kebencian yang berupa provokatif. Hari
kemenangan ini seharusnya menyadarkan kita akan pentingnya bersikap jujur dan terbuka,
menyatakan yang hak dan yang batil secara fakta dengan memuat data dan memiliki tingkat koherensi dan korespondensi yang kuat( Bersambung Terus).

 

Admin : Iskandar Hasibuan.

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.