Kalahkan Kotasiantar, Padang Bulan Masuk 10 Nominasi Kampung Kreatif Sumut?

Kripis: Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Ada kabar yang patut dicermati dari proses penjaringan Kampung Kreatif Sumut Berkah 2026. Desa Padang Bulan Muara Soro, Kecamatan Kotanopan, dan Kelurahan Kotasiantar, Kecamatan Panyabungan, sama-sama diusulkan Pemkab Mandailing Natal untuk mengikuti program Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tersebut. Keduanya juga telah menjalani verifikasi lapangan pada akhir September. [Mandailing Pos](https://mandailingpos.com/desa-padang-bulan-ms-dan-kelurahan-kota-siantar-di-usulkan-jadi-kampung-kreatif-sumut-berkah/).

Kini muncul pertanyaan: Apakah Padang Bulan berhasil masuk 10 nominasi, sementara Kotasiantar tidak? Jika kabar itu benar, publik tentu ingin tahu apa yang membedakan keduanya. Namun, sebelum daftar resmi dan hasil penilaian dibuka, kita sebaiknya tidak buru-buru menyebutnya sebagai kemenangan Padang Bulan atas Kotasiantar.

Mengapa? Sebab keduanya punya modal yang tidak persis sama.

Padang Bulan menawarkan cerita tentang desa yang masih berstatus tertinggal, tetapi memiliki potensi pertanian dan wisata alam. Dalam pemaparan kepada tim verifikator, Camat Kotanopan Enda Mora Lubis menyebut sekitar 39 hektare lahan pertanian produktif masih bertahan di tengah tekanan aktivitas pertambangan emas. Potensi Batang Gadis untuk wisata arung jeram juga diajukan sebagai peluang pengembangan ekonomi lokal. [Baswara Times](https://baswaratimes.com/desa-padang-bulan-sodorkan-potensi-wisata-dan-ketapang-untuk-kampung-kreatif-sumut-berkah/).

Kotasiantar memiliki karakter berbeda. Sebagai kelurahan di kawasan Panyabungan, modalnya antara lain terlihat pada kegiatan literasi, inovasi layanan warga melalui OJO PUSING atau Ojek Online Perpustakaan Keliling, serta aktivitas seni dan budaya. Potensi semacam ini bisa dikembangkan menjadi ekosistem kreativitas perkotaan berbasis komunitas. [Portal resmi Kelurahan Kotasiantar](https://kel-kotasiantar.madina.go.id/).

Jadi, ini bukan pertandingan sederhana antara desa pertanian dan kelurahan perkotaan. Pertanyaan yang lebih penting ialah: sejauh mana masing-masing peserta berhasil menerjemahkan potensi menjadi konsep program yang terukur, realistis, berkelanjutan, dan berdampak pada pendapatan masyarakat?

Apalagi, program Kampung Kreatif Sumut Berkah tidak semata-mata mencari tempat yang menarik. Pemerintah Provinsi Sumut merancangnya sebagai instrumen pembangunan berbasis potensi lokal, dengan perhatian pada kondisi masyarakat, ekonomi, pertanian, lingkungan, tata kelola, serta akses pasar. Dukungan program juga direncanakan melalui Bantuan Keuangan Khusus. [Pemprov Sumut](https://sumutprov.go.id/artikel/artikel/pemprov-sumut-siapkan-bantuan-khusus-hingga-rp50-miliar-untuk-kampung-kreatif-sumut-berkah).

Karena itu, kalau Padang Bulan benar masuk 10 nominasi, jangan langsung muncul buruk sangka bahwa Gubernur Sumut Bobby Nasution melupakan kampung halaman di Madina. Sebaliknya, jika Kotasiantar tidak masuk, jangan pula buru-buru menyimpulkan bahwa kelurahan ini tidak punya potensi. Keduanya baru bisa dibandingkan secara bertanggung jawab jika kriteria dan hasil penilaian tersedia.

Tetapi, ada pelajaran penting bagi peserta yang belum berhasil: jangan hanya mengandalkan daftar potensi. Potensi harus diterjemahkan menjadi rancangan kerja, target penerima manfaat, produk atau layanan yang bisa dijual, kebutuhan pembiayaan, kemitraan, dan indikator keberhasilan. Di situlah kreativitas diuji—bukan sekadar pada banyaknya gagasan, melainkan pada kemampuan mewujudkannya.

Kalau Padang Bulan lolos, apa yang membuatnya lolos? Kalau Kotasiantar belum lolos, apa yang perlu diperbaiki? Pertanyaan itu lebih berguna daripada sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.

Sebab tujuan akhirnya bukan membuat satu desa menang atas desa lainnya. Tujuannya ialah memastikan potensi Madina mendapatkan kesempatan berkembang melalui proses yang transparan, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kampung kreatif bukan lomba mencari favorit. Ia seharusnya menjadi jalan agar kreativitas benar-benar mengubah kehidupan masyarakat.
(gl-mep)

Admin : Dita Risky Saputri.SKM.

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    SEMARAK MUSDA GOLKAR MADINA (6)

      Regenerasi Bukan Sekadar Ganti Ketua, Golkar Mau Dibawa ke Mana? | Kripis | Gugus Literasi Mandailing Epicentrum | Musda Golkar Madina belum sampai ke garis akhir. Tetapi, percakapan tentang…

    Read more

    Continue reading
    KAPOLRES MADINA TURUN LANGSUNG ATUR LALU LINTAS, BAGIKAN HELM DAN MASKER KEPADA MASYARAKAT

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Kapolres Mandailing Natal (Madina) AKBP BAGUS PRIANDY, S.I.K., M.Si., melaksanakan kegiatan pengaturan lalu lintas sekaligus membagikan helm dan masker kepada masyarakat di Simpang Bakti Abri, Kecamatan Panyabungan, Senin…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses