Lukisan Terbaik Askolani Nasution

Masih lukisan terbaik yang saya buat. Tahun 2005 kalau tak salah. Kertas A4, pensil 6B, penghapus, kapas, dan pensil HB juga.

Dulu waktu SMA hingga kuliah lebih banyak melukis dengan cat minyak di kanvas. Kanvas saya buat dari kain ‘marikin’ lalu diberi cat dasar putih dengan cat tembok. Penghapus pakai kaos kaki. Sayangnya tidak ada yang saya simpan, karena semua ada yang ambil. (Kalau ada yang masih menyimpan, tolong saya dikabari😃)

Saya melukis sebelum saya sekolah, karena dua abang saya pelukis. Bukan karena kegelisahan, tapi melukis karena ingin membuat saja. Sama seperti menulis, tidak menunggu mood. Kalau ditunggu malah tak datang.

Melukis itu bagian dari teknik saya kira. Anda harus paham proporsi, paham detail, paham cahaya, dan paham warna. Satu lagi, paham sudut pandang. Karena itu teknologi bisa menirunya.

Proporsi itu bukan hanya perbandingan. Anda harus paham bahwa semua benda dibentuk oleh dimensi ruang. Kepala misalnya, dibentuk dari dimensi balok yang mendapat irisan pada bidang tertentu.

Detail itu keunikan irisan. Bibir berbeda karena irisannya berbeda. Kuncinya ada pada bagian sudut bibir dan bongkahan di tengah bibir dan mendekati ujung bibir.

Cahaya adalah bagian dari sisi gelap dan terang. Wujud benda dibentuk oleh adanya sinar. Nah, di situ keilahiannya muncul. Sebab tanpa cahaya, dunia tak berbentuk. Orang yang paham fotografi pasti paham apa dampak cahaya terhadap estetika sudut pandang.

Warna dasar hanya biru, merah, dan kuning. Hitam dan putih itu warna cahaya. Lebih dari 70 ribu warna hanya dibentuk lima warna itu. Jadi, kalau kita memberi crayon 12 warna kepada anak, itu mengelabui mereka bahwa hanya 5 warna saja yang dibutuhkan.

Untuk warna wajah misalnya, saya pakai warna putih di tambah beberapa tetes warna merah dan kuning. Lalu oleskan ke bidang cetak dengan kuas pipih. Lalu pertegas dengan kuas runcing. Lalu perhalus gradasinya dengan kaos.

Rambut tidak warna hitam. Tapi campuran warna biru dengan merah dan sedikit warna hitam. Kalau hitam semua, malah hilang ruang untuk cahaya.

Daun hijau dibentuk dengan biru dan kuning. Jangan langsung ke kanvas, tapi ke kertas lain dulu.

Kontras itu soal izin masuknya cahaya. Coba lihat benda dengan mata sedikit tertutup. Warna benda akan buram. Sama seperti kita mengatur kontras layar tv atau HP.

Terakhir, semua pelajaran teknik. Kemampuan berhitung. Angka itu hanya skala tentang fakta. Bukan sebatas kalkulating. Di situ matematika berselisih paham dengan seni.

Seni itu teknik. Kalau teknik murni untuk memudahkan pekerjaan manusia, teknik seni untuk menciptakan estetis. Teknik itu pelajaran dasar bayi untuk bisa berekspresi, berbicara, berjalan, dll.

Sayangnya, saya bukan guru kesenian😃

Admin : Iskandar Hasibuan.

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.