Malintangtorial, Hari Pers Nasional di Madina

SEBELUMNYA, Malintangtorial Edisi 129, telah menggugah dan mengingatkan seluruh wartawan di Mandailing Natal agar melakukan sesuatu untuk mengngingat Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada setiap 9 Februari. Entah mengapa dan siapa yang salah, siapa yang tak ingat, tak perlu membuat wartawan Madina untuk saling menyalahkan. Sekalipun demikian, masih ada sejumlah ungjapan atau ucapan sekitar Pers di Bumi Gordang Sambilan, sekalipun hanya di media sosial. Di tahun mendatang mungkin sudah bisa gelar acara yang menumental.

Kenapa Begitu…? Jujur kita sebagai orang yang mempunyai profesi sebagai predikat Wartawan hendaknya saling mengetuk hatinya masing- masing, sembari berkata “Saya Yang Salah ngak mengingatnya” dan tidak perlu untuk sampai diucapkan dengan teriakan yang keras. Ke depan, hendaknya wartawan Madina yang memang mempunyai, mecintai dan masih berprofesi sebagai jurnalis, sudah spantasnya memperangati HPN secara khusus. Mungkin di tahun 2018 atau di tahun-tahun mendatang.

Malintangtorial kali ini berjudul ”Hari Pers Nasional di Madina”.  Ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan, apalagi jadi fitnah. Bukan sok ingat, bukan sok memahami dan bukan pula sok menggurui. Hanya saja, karena kecintaan terhadap profesi wartawan. Sesuai dengan khiththohnya, “Pers Nggak Ada Matinya.” Ta ada yang bisa menghambat perjalanannya. Dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistiknya, hanya kematian yang membuat wartawan itu berhenti menulis, membuat berita. Sejarah membuktikan, kekuasaan pun tidak membuat pers diam dan layu.

Malintang Pos pun, sejak terbit tiga tahun silam, sudah dihadang berbagai goncangan. Caci maki, penilaian negatif, fitnah dan pembredelan. Personil Malintang Pos senatiasa tegar. Karena pers itu juga institusi sosial yang harus menjalankan tugas-tugas inforomatif, eduatif, kontrol sosial dan penyegaran atau penyemangat.

Tiada terasa, Malintang yang sedang Anda baca ini, merupakan edisi ke-129. Alhamdulillah, masih mampu menyajikan berita-berita untuk masyarakat bukan hanya di Mandailing Natal, mailinkan juga di hampir seluruh kabupaten/kota di Sumut.

Bahkan sudah eksis juga Malintangpos Online yang memungkinkan update pemberitaan setiap menit, stiap jam atau setiap hari. Terus menyugukan berita berisi apirasi. Itulah pers, makin dilarang makin tegar menyajikan informasi.

Makanya, ketika para Pemimpin Redaksi sejumlah media cetak yang terbit di Madina berkumpul di rumah Ir. Ali Mutiara Rangkuty, MM sebagai Pemimpin Umum Madina Pos, Malintangtorial mencatanya sebagai sebuah peristiwa yang nantinya bersejarah. Hadir dalam rapat yang sengaja digelar pada Kamis, 9 Februari (HPN) untuk menyepakati Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga wadah wartawan bernama Prasasti Jurnalis Madina (PJM) Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Bona Bulu News Ali rachman Nasution, Pemimpin Umum Harian Mandili Muhammad Nekson Tandjung dan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Surat Kabar Malintang Pos Iskandar Hasibuan. Peserta rapat lainnya yang juga wartawan di keempa tersebut juga sepakat, hari ini dijadikan sebagai hari lahir PJM sebagai wadah lokal insan pers Madina. Pada hakikatnya, siapa pun wartawan yang bertugas di Mandailing Natal, berkesempatan untuk gabung. Tidak ada paksaan untuk ikut atau untuk tidak ikut.

Mungkin saja ada yang bertanya, untuk apa (lagi) wadah seperti itu…? Mungkin saja, karena Madina juga mempunyai wadah yang hampir serupa. Namun, mungkin karena dinamika wartawan sekarang ini yang begitu elastis, PJM dinilai perlu lahir.

Lewat Malintangtorial ini juga, kami mengajak seluruh orang yang berprofesi sebagai wartawan, yang merasa dirinya wartawan, untuk terus menjaga kemuliaan profesi ini. Adalah hal yang janggal jika diantara kita ada yang menjual cap “wartawan”, apalagi dengan harga yang murah dan tindakan murahan.

Terakhir, rasanya tak mengapa, kami kembali mengucapkan: “Dirgahayu Hari Pers Nasional ke-72. Semoga Pers semakin Jaya.***

SEBELUMNYA, Malintangtorial Edisi 129, telah menggugah dan mengingatkan seluruh wartawan di Mandailing Natal agar melakukan sesuatu untuk mengngingat Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada setiap 9 Februari. Entah mengapa dan siapa yang salah, siapa yang tak ingat, tak perlu membuat wartawan Madina untuk saling menyalahkan. Sekalipun demikian, masih ada sejumlah ungjapan atau ucapan sekitar Pers di Bumi Gordang Sambilan, sekalipun hanya di media sosial. Di tahun mendatang mungkin sudah bisa gelar acara yang menumental.

Kenapa Begitu…? Jujur kita sebagai orang yang mempunyai profesi sebagai predikat Wartawan hendaknya saling mengetuk hatinya masing- masing, sembari berkata “Saya Yang Salah ngak mengingatnya” dan tidak perlu untuk sampai diucapkan dengan teriakan yang keras. Ke depan, hendaknya wartawan Madina yang memang mempunyai, mecintai dan masih berprofesi sebagai jurnalis, sudah spantasnya memperangati HPN secara khusus. Mungkin di tahun 2018 atau di tahun-tahun mendatang.

Malintangtorial kali ini berjudul ”Hari Pers Nasional di Madina”.  Ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan, apalagi jadi fitnah. Bukan sok ingat, bukan sok memahami dan bukan pula sok menggurui. Hanya saja, karena kecintaan terhadap profesi wartawan. Sesuai dengan khiththohnya, “Pers Nggak Ada Matinya.” Ta ada yang bisa menghambat perjalanannya. Dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistiknya, hanya kematian yang membuat wartawan itu berhenti menulis, membuat berita. Sejarah membuktikan, kekuasaan pun tidak membuat pers diam dan layu.

Malintang Pos pun, sejak terbit tiga tahun silam, sudah dihadang berbagai goncangan. Caci maki, penilaian negatif, fitnah dan pembredelan. Personil Malintang Pos senatiasa tegar. Karena pers itu juga institusi sosial yang harus menjalankan tugas-tugas inforomatif, eduatif, kontrol sosial dan penyegaran atau penyemangat.

Tiada terasa, Malintang yang sedang Anda baca ini, merupakan edisi ke-129. Alhamdulillah, masih mampu menyajikan berita-berita untuk masyarakat bukan hanya di Mandailing Natal, mailinkan juga di hampir seluruh kabupaten/kota di Sumut.

Bahkan sudah eksis juga Malintangpos Online yang memungkinkan update pemberitaan setiap menit, stiap jam atau setiap hari. Terus menyugukan berita berisi apirasi. Itulah pers, makin dilarang makin tegar menyajikan informasi.

Makanya, ketika para Pemimpin Redaksi sejumlah media cetak yang terbit di Madina berkumpul di rumah Ir. Ali Mutiara Rangkuty, MM sebagai Pemimpin Umum Madina Pos, Malintangtorial mencatanya sebagai sebuah peristiwa yang nantinya bersejarah. Hadir dalam rapat yang sengaja digelar pada Kamis, 9 Februari (HPN) untuk menyepakati Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga wadah wartawan bernama Prasasti Jurnalis Madina (PJM) Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Bona Bulu News Ali rachman Nasution, Pemimpin Umum Harian Mandili Muhammad Nekson Tandjung dan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Surat Kabar Malintang Pos Iskandar Hasibuan. Peserta rapat lainnya yang juga wartawan di keempa tersebut juga sepakat, hari ini dijadikan sebagai hari lahir PJM sebagai wadah lokal insan pers Madina. Pada hakikatnya, siapa pun wartawan yang bertugas di Mandailing Natal, berkesempatan untuk gabung. Tidak ada paksaan untuk ikut atau untuk tidak ikut.

Mungkin saja ada yang bertanya, untuk apa (lagi) wadah seperti itu…? Mungkin saja, karena Madina juga mempunyai wadah yang hampir serupa. Namun, mungkin karena dinamika wartawan sekarang ini yang begitu elastis, PJM dinilai perlu lahir.

Lewat Malintangtorial ini juga, kami mengajak seluruh orang yang berprofesi sebagai wartawan, yang merasa dirinya wartawan, untuk terus menjaga kemuliaan profesi ini. Adalah hal yang janggal jika diantara kita ada yang menjual cap “wartawan”, apalagi dengan harga yang murah dan tindakan murahan.

Terakhir, rasanya tak mengapa, kami kembali mengucapkan: “Dirgahayu Hari Pers Nasional ke-72. Semoga Pers semakin Jaya.***

SEBELUMNYA, Malintangtorial Edisi 129, telah menggugah dan mengingatkan seluruh wartawan di Mandailing Natal agar melakukan sesuatu untuk mengngingat Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada setiap 9 Februari. Entah mengapa dan siapa yang salah, siapa yang tak ingat, tak perlu membuat wartawan Madina untuk saling menyalahkan. Sekalipun demikian, masih ada sejumlah ungjapan atau ucapan sekitar Pers di Bumi Gordang Sambilan, sekalipun hanya di media sosial. Di tahun mendatang mungkin sudah bisa gelar acara yang menumental.

Kenapa Begitu…? Jujur kita sebagai orang yang mempunyai profesi sebagai predikat Wartawan hendaknya saling mengetuk hatinya masing- masing, sembari berkata “Saya Yang Salah ngak mengingatnya” dan tidak perlu untuk sampai diucapkan dengan teriakan yang keras. Ke depan, hendaknya wartawan Madina yang memang mempunyai, mecintai dan masih berprofesi sebagai jurnalis, sudah spantasnya memperangati HPN secara khusus. Mungkin di tahun 2018 atau di tahun-tahun mendatang.

Malintangtorial kali ini berjudul ”Hari Pers Nasional di Madina”.  Ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan, apalagi jadi fitnah. Bukan sok ingat, bukan sok memahami dan bukan pula sok menggurui. Hanya saja, karena kecintaan terhadap profesi wartawan. Sesuai dengan khiththohnya, “Pers Nggak Ada Matinya.” Ta ada yang bisa menghambat perjalanannya. Dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistiknya, hanya kematian yang membuat wartawan itu berhenti menulis, membuat berita. Sejarah membuktikan, kekuasaan pun tidak membuat pers diam dan layu.

Malintang Pos pun, sejak terbit tiga tahun silam, sudah dihadang berbagai goncangan. Caci maki, penilaian negatif, fitnah dan pembredelan. Personil Malintang Pos senatiasa tegar. Karena pers itu juga institusi sosial yang harus menjalankan tugas-tugas inforomatif, eduatif, kontrol sosial dan penyegaran atau penyemangat.

Tiada terasa, Malintang yang sedang Anda baca ini, merupakan edisi ke-129. Alhamdulillah, masih mampu menyajikan berita-berita untuk masyarakat bukan hanya di Mandailing Natal, mailinkan juga di hampir seluruh kabupaten/kota di Sumut.

Bahkan sudah eksis juga Malintangpos Online yang memungkinkan update pemberitaan setiap menit, stiap jam atau setiap hari. Terus menyugukan berita berisi apirasi. Itulah pers, makin dilarang makin tegar menyajikan informasi.

Makanya, ketika para Pemimpin Redaksi sejumlah media cetak yang terbit di Madina berkumpul di rumah Ir. Ali Mutiara Rangkuty, MM sebagai Pemimpin Umum Madina Pos, Malintangtorial mencatanya sebagai sebuah peristiwa yang nantinya bersejarah. Hadir dalam rapat yang sengaja digelar pada Kamis, 9 Februari (HPN) untuk menyepakati Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga wadah wartawan bernama Prasasti Jurnalis Madina (PJM) Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Bona Bulu News Ali rachman Nasution, Pemimpin Umum Harian Mandili Muhammad Nekson Tandjung dan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Surat Kabar Malintang Pos Iskandar Hasibuan. Peserta rapat lainnya yang juga wartawan di keempa tersebut juga sepakat, hari ini dijadikan sebagai hari lahir PJM sebagai wadah lokal insan pers Madina. Pada hakikatnya, siapa pun wartawan yang bertugas di Mandailing Natal, berkesempatan untuk gabung. Tidak ada paksaan untuk ikut atau untuk tidak ikut.

Mungkin saja ada yang bertanya, untuk apa (lagi) wadah seperti itu…? Mungkin saja, karena Madina juga mempunyai wadah yang hampir serupa. Namun, mungkin karena dinamika wartawan sekarang ini yang begitu elastis, PJM dinilai perlu lahir.

Lewat Malintangtorial ini juga, kami mengajak seluruh orang yang berprofesi sebagai wartawan, yang merasa dirinya wartawan, untuk terus menjaga kemuliaan profesi ini. Adalah hal yang janggal jika diantara kita ada yang menjual cap “wartawan”, apalagi dengan harga yang murah dan tindakan murahan.

Terakhir, rasanya tak mengapa, kami kembali mengucapkan: “Dirgahayu Hari Pers Nasional ke-72. Semoga Pers semakin Jaya.***

SEBELUMNYA, Malintangtorial Edisi 129, telah menggugah dan mengingatkan seluruh wartawan di Mandailing Natal agar melakukan sesuatu untuk mengngingat Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada setiap 9 Februari. Entah mengapa dan siapa yang salah, siapa yang tak ingat, tak perlu membuat wartawan Madina untuk saling menyalahkan. Sekalipun demikian, masih ada sejumlah ungjapan atau ucapan sekitar Pers di Bumi Gordang Sambilan, sekalipun hanya di media sosial. Di tahun mendatang mungkin sudah bisa gelar acara yang menumental.

Kenapa Begitu…? Jujur kita sebagai orang yang mempunyai profesi sebagai predikat Wartawan hendaknya saling mengetuk hatinya masing- masing, sembari berkata “Saya Yang Salah ngak mengingatnya” dan tidak perlu untuk sampai diucapkan dengan teriakan yang keras. Ke depan, hendaknya wartawan Madina yang memang mempunyai, mecintai dan masih berprofesi sebagai jurnalis, sudah spantasnya memperangati HPN secara khusus. Mungkin di tahun 2018 atau di tahun-tahun mendatang.

Malintangtorial kali ini berjudul ”Hari Pers Nasional di Madina”.  Ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan, apalagi jadi fitnah. Bukan sok ingat, bukan sok memahami dan bukan pula sok menggurui. Hanya saja, karena kecintaan terhadap profesi wartawan. Sesuai dengan khiththohnya, “Pers Nggak Ada Matinya.” Ta ada yang bisa menghambat perjalanannya. Dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistiknya, hanya kematian yang membuat wartawan itu berhenti menulis, membuat berita. Sejarah membuktikan, kekuasaan pun tidak membuat pers diam dan layu.

Malintang Pos pun, sejak terbit tiga tahun silam, sudah dihadang berbagai goncangan. Caci maki, penilaian negatif, fitnah dan pembredelan. Personil Malintang Pos senatiasa tegar. Karena pers itu juga institusi sosial yang harus menjalankan tugas-tugas inforomatif, eduatif, kontrol sosial dan penyegaran atau penyemangat.

Tiada terasa, Malintang yang sedang Anda baca ini, merupakan edisi ke-129. Alhamdulillah, masih mampu menyajikan berita-berita untuk masyarakat bukan hanya di Mandailing Natal, mailinkan juga di hampir seluruh kabupaten/kota di Sumut.

Bahkan sudah eksis juga Malintangpos Online yang memungkinkan update pemberitaan setiap menit, stiap jam atau setiap hari. Terus menyugukan berita berisi apirasi. Itulah pers, makin dilarang makin tegar menyajikan informasi.

Makanya, ketika para Pemimpin Redaksi sejumlah media cetak yang terbit di Madina berkumpul di rumah Ir. Ali Mutiara Rangkuty, MM sebagai Pemimpin Umum Madina Pos, Malintangtorial mencatanya sebagai sebuah peristiwa yang nantinya bersejarah. Hadir dalam rapat yang sengaja digelar pada Kamis, 9 Februari (HPN) untuk menyepakati Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga wadah wartawan bernama Prasasti Jurnalis Madina (PJM) Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Bona Bulu News Ali rachman Nasution, Pemimpin Umum Harian Mandili Muhammad Nekson Tandjung dan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Surat Kabar Malintang Pos Iskandar Hasibuan. Peserta rapat lainnya yang juga wartawan di keempa tersebut juga sepakat, hari ini dijadikan sebagai hari lahir PJM sebagai wadah lokal insan pers Madina. Pada hakikatnya, siapa pun wartawan yang bertugas di Mandailing Natal, berkesempatan untuk gabung. Tidak ada paksaan untuk ikut atau untuk tidak ikut.

Mungkin saja ada yang bertanya, untuk apa (lagi) wadah seperti itu…? Mungkin saja, karena Madina juga mempunyai wadah yang hampir serupa. Namun, mungkin karena dinamika wartawan sekarang ini yang begitu elastis, PJM dinilai perlu lahir.

Lewat Malintangtorial ini juga, kami mengajak seluruh orang yang berprofesi sebagai wartawan, yang merasa dirinya wartawan, untuk terus menjaga kemuliaan profesi ini. Adalah hal yang janggal jika diantara kita ada yang menjual cap “wartawan”, apalagi dengan harga yang murah dan tindakan murahan.

Terakhir, rasanya tak mengapa, kami kembali mengucapkan: “Dirgahayu Hari Pers Nasional ke-72. Semoga Pers semakin Jaya.***

Admin : Dina Sukandar Hasibuan.A.Md

 

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.