” Memelihara Permusuhan Penting “

Sebenarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa memelihara permusuhan itu penting. Dalam tanda kutip tentu.

Tokoh politis yang memenangkan pertarungan, tentu saja harus mengatakan: “Kita harus bergandengan tangan. Mari membangun bersama.” Itu fatsun politik, tapi tak mesti diterjemahkan secara harfiah. Sama halnya kalau kita datang ke suatu hajatan, lalu kita mengucapkan salam dan berjabat tangan. Itu fatsun, etika.

Kalau setiap orang yang bersalaman dengan kita disikapi sebagai kekerabatan, itu benar-benar naif. Bahkan senyum dan pelukan pun tata krama. Apalagi dalam bahasa politik, setiap ekspresi tubuh belum tentu tanda komitmen.

Begini. Pertarungan dalam politik tidak sama dengan pertarungan olahraga bola, badminton, catur, dst. Begitu selesai, kita yang bertarung dapat langsung berangkulan, saling menepuk pundak, lalu selesai.

Olahraga, hanya saat pertandingan penontonnya melibatkan hati. Lepas tanding, semua kembali lepas. Paling satu dua hari bercerita tentang kompetisi itu. Kalaupun jagoannya kalah, kecewanya tidak akan mendalam. Bahkan sama sekali tak menyangkut hidupnya.

Beda dengan politik. Pertarungan dalam politik–apalagi untuk menjadi orang nomor 1–bagi orang kampung benar-benar menyangkut hidupnya. Karena ia sungguh-sungguh berharap hidupnya berubah, usahanya dimudahkan. Ia hitung betul bagaimana dalam rezim sebelumnya amat tak setara dengan harapannya. Jangan dikira sepele. Bagi orang kampung aspirasi politik tidak pernah main-main dalam konteks pilkada dan pilpres.

Politik bagi akar rumput tidak juga sama dengan perbedaan pandangan fraksi di DPR(D). Hanya sebatas penyampaian sikap politik. Atau mungkin sedikit sentuhan ideologi (meskipun sudah lama sekali kita tak melihat itu).

Pilkada juga pilpres, adalah pergulatan yang panjang dan melibatkan akar rumput secara kohesif. Pilkada bukan pertarungan elit politik saja, ia adalah pertarungan nyaris semua orang. Karena itu implikasinya juga besar.

Ada mobilisasi tokoh-tokoh kampung untuk memenangkan satu kandidat: hatobangon, cerdik pandai, tokoh adat, naposo nauli bulung, hingga pengajian wirid yasin. Semua terkooptasi untuk hanya memilih kandidat tertentu. Itu benar-benar terjadi dan menciptakan trauma. Karena itu, yakinlah, mereka akan sangat kecewa kalau kita begitu saja berangkulan dengan pihak yang mereka anggap bagian dari orang yang menyusahkan hidup mereka selama ini.

Orang kampung bukan elit politik yang melihat pertarungan pilkada layaknya seperti main bola. Mereka benar-benar pakai hati. Ada luka sosial, ada ketersinggungan martabat, ada penekanan masif yang lalu menumpuk dan berimplikasi pada coblosan suara. Apa pun resikonya. Kalau kita kira mereka hanya memilih kita karena uang, misalnya, itu akan sangat melukai mereka yang tulus berjuang.

Kalau ruh itu tidak dipelihara, kita akan kehilangan pemilih militan yang berani mengambil resiko untuk memperjuangkan kita di gelanggang lain. Bahkan orang lain akan mengambilnya.

Itu yang terjadi selama ini. Kita meruntuhkan kepercayaan konstituen bahwa kita adalah orang yang tidak akan mengkhianati harapan mereka.

Soekarno besar karena ia mengemas dirinya sebagai martir yang akan mengubah nasib orang, dan tidak akan meninggalkan mereka. Ia rela dipenjara, dimiskinkan, dibuang, dst. Itu cara memgemas dirinya menjadi orang yang akan selamanya memihak pendukungnya. Ia membuat dirinya menjadi orang yang dipercaya. Itu yang membuat Soekarno, Tan Malaka, Agus Salim, Syahrir dan lain-lain menjadi orang besar. Ada ruh politik yang dipelihara.

Mereka berani berdiri secara tegas bahwa kami berdiri di sini, yang bukan kami di sana. Dan begitu Indonesia merdeka, tidak serta merta membuka hubungan diplomatik dengan Belanda dan Jepang. Butuh bertahun-tahun bagi Soekarno untuk berani melakukan itu. Karena ada ruh senasib dan sepenanggungan yang dia jaga dari rakyat Indonesia, pendukungnya. Karena Belanda dan Jepang adalah pihak yang melukai perasaan konstituennya.

Makanya foto mereka ada di rumah-rumah kampung, sekalipun puluhan tahun setelah kematiannya. Kita, berapa rumah yang masih menyimpan foto diri kita? Karena kita gagal membuat diri kita orang yang setia menjaga ruh perjuangan bersama.

Apakah kebencian harus dipelihara? Dalam politik, ya! Itu trik tetap memperoleh soliditas. Sepanjang tidak berimplikasi atas kesejahteraan rakyat. Itu juga yang membuat partai ideologis dari dulu menjadi partai besar.

Banyak anak muda yang sebenarnya punya potensi besar untuk naik hingga ke jenjang politik nasional. Tapi mereka mereduksi sendiri potensinya karena menjadikan dirinya seperti Ketua Umum PBB yang harus selalu memelihara perdamaian dunia. Ia lupa bahwa ketua umum PBB hanya dipilih elite yang terbatas, bukan pilihan rakyat melalui Pemilu.

Hanya orang yang berani bersikap yang akan menjadi orang besar. Karena itu kita mengenal Soekarno, Tan Malaka, Syahrir, SK Trimurti, dll. Mereka juga anak muda dulunya.

Penulis : Askolani Nasution

Admin  : Iskandar Hasibuan

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.