Mengubah Candu Game Online Menjadi Candu Prestasi, Pada Anak Usia Sekolah Oleh : Muttaqin Kholis Ali,S.Pd.

Seiring berkembangnya zaman, teknologi-pun kian melesat. Banyak yang kini memilih hidup dalam dunia maya demi sebuah eksistensi. Ya, media sosial memang agaknya telah bergeser fungsi juga tujuannya. Mulai dari anak, remaja hingga dewasa seolah larut dalam suasana “semu” yang mengasyikkan.

Banyak sajian-sajian produk dari dunia digital yang bisa dipilih. Misalnya saja, facebook, twitter, instagram, hingga game-game yang jumlahnya wow! Jadi jangan heran jika anak-anak kemudian jadi keranjingan main game. Keseruan permainan yang mampu menarik minat serta sisi psikologis dengan tampilan visual semi sempurna, membuat si kecil enggan beranjak.

Apalagi, jika sudah keseringan bermain gadget. Pastinya menghilangkan rasa penasaran yang terjadi secara terus-menerus pada sebuah game ini jadi makin susah. Banyak cara yang dilakukan para orang tua, namun mereka kembali mundur. Dan kebanyakan mengeluh karena membuat si anak kembali ke kehidupan normal tergolong susah.

Lantas Apa Sih Yang Menjadi Latar Belakang Si Anak Kecanduan Game Ini?

1. Kuper alias Kurang perhatian
Tahu kan, Bunda Ayah? Anak-anak yang masih dalam tahapan pertumbuhan selalu membutuhkan pendampingan dari para orang tua. Bayangkan, jika waktu-waktu yang seharusnya diluangkan bersama terpotong untuk hal lain. Misalnya saja orang tua bekerja, sehingga anak dirumah saja. Dengan anggota keluarga lain.
Awalnya si anak mengalihkan perhatian melalui gadget yang disediakan oleh orang tua. Namun, lama-kelamaan hal ini seperti bom waktu. Keasyikan yang dirasa seolah tak mampu digantikan apapun. Anak-anak merasa rileks dan tenang ketika bermain gadget khususnya game.
Yang seperti ini kan gawat! Tapi bukan berarti orang tua tak bisa bekerja dan menunggui anak saja. Ada kok Cara edukasi simple namun mengena meski terpaut waktu yang cukup singkat. Terlebih kini banyak informasi terkait parenting atau sejenisnya.
2. Stress Dan Depresi
Fase anak-anak yang identik dengan kepolosan ini dinilai belum cukup mampu mengelola emosi. Tak elak, anak-anak justru akan mencari hiburannya sendiri sesuai mood atau keinginannya. Dan main game-lah yang paling mudah dijangkau.
3. Memiliki Dunia Sendiri
Kesenangan bermain game bahkan dengan istilah “mabar” atau main bareng ini membuat efek senang luar biasa. Selain itu, dengan main game anak merasa have their own world. Atau memiliki dunia mereka sendiri. Mereka bebas berekplorasi tanpa batas.
4. Kebosanan Yang Melanda
Ketika rasa bosan datang, umumnya anak-anak akan mencari kesibukan yang akan mengalihkan rasa bosan tersebut. Jika dulu anak-anak masih bisa main di luar rumah, dengan kawan-kawan melalui permainan tradisional.
Namun, seiring berkembangnya zaman, permainan sarat edukasi ini juga tergerus. Bahkan, kemungkinan sudah jarang ditemukan. Alhasil, di era 4.0 anak-anak sangat ihwal dengan game. Game yang memiliki tampilan lebih kece dan tak ribet saat dimainkan membuat siapa saja pasti ketagihan.
5. Kurangnya Pantauan Dari Orang Tua
Kapan lagi sih manjain anak? Kapan lagi sih si kecil bisa bebas main game? Alah, paling juga cepat bosan? Pernah, kan menemukan kejadian seperti ini. Ada benarnya juga jika orang tua yang terlalu membebaskan anak dengan dalih sayang. Padahal yang seperti ini justru menjerumuskan si kecil, lho!
Mungkin dalam satu dua bulan oke-oke saja, namun jika efek kecanduan kemudian muncul seolah tak tertahankan. Misalnya saja tantrum berkepanjangan karena tak boleh main game, kemudian orang tua kewalahan. Sungguh disayangkan bukan?
Padahal, disini peranan orang tua menjadi top prioritas. Orang tua yang wajib mendampingi ketika proses tumbuh kembang berlangsung malah abai. Bukan menyalahkan, hanya saja praktik dilapangan memang sedemikian mengkhawatirkan.
Di banyak kasus, seperti yang diberitakan media massa baik online maupun offline. Anak-anak yang kecanduan game akut bisa mengalami gangguan kejiwaan. Bukankah hal ini cukup ngeri?
Tapi, jangan kemudian disamaratakan ya, ada kok sebetulnya game-game edukasi yang mendidik. Hanya, kita saja yang awam dengan hal ini. Karena, gembar-gembor permainan yang menjadi tren dan banyak penggemar umumnya yang jauh dari pendidikan. Padahal, jika peranan aktif dari orang tua yang mumpuni untuk meyakinkan si anak dengan aneka game edukasi nantinya mampu menyelamatkan kehidupan mereka.

Bisakah Pecandu Game Menjelma Jadi Sosok Yang Produktif Dan Prestatif?

Siapa bilang main game selalu negatif? Persepsi ini bergantung pada sudut pandang seseorang. Game yang identik dengan malas-malasan, menghabiskan waktu hingga memotong jatah istirahat tubuh memang sepatutnya dibilang negatif. Kendati demikian, banyak lho gamer-gamer profesional justru mencapai puncak prestasi melalui dunia maya tersebut.

Dalam kecemasan para orang tua, tenaga pendidik terhadap fenomena kecanduan game ini sebetulnya bisa kok diarahkan ke jalan yang lebih positif. Sebagai contoh, salah satu komunitas yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Tepatnya, kota Banyumas Raya ekosistem elektronik Sport terus berkembang. Ada pula beberapa komunitas lain yang nyatanya mampu menorehkan prestasi ini melalui sebuah game.

Kuncinya, ialah mengarahkan anak-anak yang suka main game ini untuk membentuk sebuah komunitas. Yang tentunya memiliki visi misi yang benar. Melalui komunitas nantinya akan ada orang-orang yang mempunyai kegemaran yang sama. Yang bisa saling mendukung serta support satu sama lainnya.

Banyak disebutkan jika ketika anak join dalam sebuah komunitas, perilaku malas, keras, kotor hingga hal negatif lainnya dapat berkurang secara drastis. Komunitas ini seolah memberi magnet yang baik dalam upaya merubah pola pikir hingga kebiasaan anak.

Perihal tudingan game yang menyebabkan anak-anak menjadi malas wajib menjadi koreksi bagi para orangtua juga pendidik. Kebiasaan anak menikmati dunia digital yang memiliki tampilan menarik dan kreatif membuat mereka merasa nyaman. Alhasil jangan salahkan jika pembelajaran secara konvensional dan monoton tak menarik perhatian mereka lagi.

Akses menuju informasi tanpa batas ini justru membuat anak terkesan selangkah lebih maju ketimbang para pendidik. Namun, hal ini harusnya membuat para pendidik bersemangat untuk menciptakan terobosan baru untuk menghadirkan cara-cara mengedukasi anak, agar tetap fokus dan betah belajar.

Di era digital dewasa ini, pola asupan pengetahuan anak termasuk para penggemar berat game terbiasa dengan sesuatu yang instan. Mereka dengan lebih mudah mendapatkan aneka keterampilan dengan lebih cepat, efektif dan efisien. Bentuk visual audio yang kreatif serta mampu ditangkap nalar membuat mereka cepat tanggap akan apa yang diajarkan. Sehingga, jangan heran jika anak kemudian menjadi lebih duluan mengerti tanpa edukasi dari para pendidik.

Maka dari itu, perlu ada sebuah rencana besar agar anak-anak gamer ini mampu menyalurkan kelebihan energi mereka pada hal-hal yang positif. Sebab, bisa jadi sebenarnya anak-anak ini cerdas. Tapi jika tak ditangani secara tepat pasti akan salah jalan. Misalnya saja ada ekstrakulikuler game. Nah, game ini harusnya yang cenderung ke arah edukasi. Konten-konten pembelajaran juga bisa dibuat sedemikian menarik semirip youtube. Sehingga membuat anak-anak ini merasa nyaman dan mampu membangun rasa penasaran mereka untuk terus menyimak materi.

Peranan orang tua sebenarnya memiliki persentase yang lebih banyak. Anak-anak dirumah memiliki waktu bersama yang cukup intens. Kendati anak lebih suka bermain gadget, para orang tua wajib memiliki peranan yang berarti. Sebagai contoh, menerapkan syarat dan ketentuan ketika anak ingin bermain game. Perlakukan anak dengan halus dan baik. Bujuk mereka dengan reward yang bakal diberikan jika mereka melakukan hal positif.

Kebiasaan-kebiasaan kecil ini terbukti ampuh mengelola emosi mereka yang semula seolah tak mampu lepas dari ponsel, berangsur stabil dan berujung kembali pada kehidupan normal mereka. Artinya, anak mampu mengorganisir mana saja kebutuhan atau aktivitas yang wajib dilakukan terlebih dahulu.

Orang tua juga bisa mengarahkan anak-anak yang kecanduan game ini untuk menghasilkan sesuatu yang spektakuler. Kini, banyak gamer profesional justtu mendapatkan uang dari game yang mereka mainkan. Tapi, dalam hal ini perlu latihan dan kehati-hatian. Ada fase disiplin yang harus dikerahkan. Siapa tahu, melalui penanganan yang tepat si kecil mampu tumbuh menjadi manusia kreatif yang dapat menelurkan beragam prestasi.

Tak menampik jika era digital memang sulit dihindari. Namun, sebagai orang tua atau pendidik harus pintar-pintar mencari celah agar mampu mengarahkan mereka kepada hiburan yang produktif dan sarat nilai prestatif. Menjadi tempat diskusi maupun konsultasi yang tak hanya memberi saran, namun juga solusi. Ada perlunya juga meng-upgrade diri agar mampu mengimbangi derasnya arus teknologi. Di samping itu, Banyak lho, gamer dunia yang malah sukses karena hobi mereka ini. Semua bertumpu pada penanganan yang tepat.

Penulis : Muttaqin Kholis Ali,S.Pd. Merupakan Guru Komputer di SMA Negeri 1 Tambangan, Kab. Mandailing Natal, Sumatera Utara. Muttaqin, saat ini sedang menyelesaikan pendidikan Magister di Universitas Negeri Padang, telah menerbitkan 2 Buku (Buku Monumentasi Pikiran dan Jalan Perjuangan dan Buku Bingkisan Rindu Untuk Sang Guru, WA : 0822 8517 8213)

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.