Menjadi Guru Itu Berat!

Guru yang ke DPRD Madina

Guru itu 24 jam. Berbeda dengan pegawai kantoran yang begitu pulang kerja, ia bisa pakai celana pendek, duduk di warung, main domino, dst.

Guru tidak, tampilannya harus terjaga. Bahkan dalam tidurpun ia harus menjadi suri teladan. Karena sedikit saja ia salah, ia akan menjadi sasaran caci maki.

Dalam hal kerja tambahan juga begitu. Ia misalnya tidak layak menjadi tukang rekap togel, jual miras, germo, dan sejenisnya. Bahkan beberapa kerja yang halal juga seolah-olah tidak pas untuk guru.

Maksudnya, sisi-sisi ekonomi yang bisa menjadi sumber pendapatan bagi guru, itu amat terbatas.

Karena itu, ketika tenaga honorer guru tidak gajian selama lima bulan, jauh lebih berat dampak yang dirasakan guru.

Kenapa..? Karena guru harus selalu tampil rapi, tidak awut-awutan, bahkan guru harus wangi.

Guru itu ikon kesempurnaan. Soal ada guru yang tampilannya tidak seperti guru, itu hal lain.

Karena itu, gaji guru tidak melulu untuk biaya hidup. Lebih berat lagi biaya untuk memelihara tampilannya.

Misalnya, Sepatu guru harus mengkilat, ia harus pakai ikat pinggang, tidak bisa murahan. Karena itu juga honor yang diterimanya murni untuk biaya makan anak.

Kerjanya juga 24 jam. Pulang sekolah ia harus melakukan pekerjaan sambungan sebagai beban tugas guru.

Pertama, memeriksa hasil ujian anak. Kalau ia masuk tiga kelas hari ini, ia harus memeriksa lebih dari 100 lembar soal ujian harian.

Setelah dikoreksi, ia harus melakukan pekerjaan penilaian lanjutan: analisis butir soal, tingkat reliabel, tingkat pengecoh, standar deviasi, daya serap, dst.

Murid mana saja yang harus diberikan pembalajaran ulang, mana yang pengayaan. Dan itu rumit sekali dan menyita energi otak.

Kedua, ia harus menyiapkan bahan pembelajaran esok. Kelas, pertemuan ke berapa, materi pembelajaran, target pembelajaran, dst.

Lalu ia akan mempersiapkan rencana pembelajaran: kompetensi intinya apa, tujuan pembelajaran itu apa (baik konteks akademik maupun sikap), materi belajarnya apa, metode dan pendekatan pembelajarannya bagaimana, sampai ke butir soal. Bahkan ia juga harus memikirkan media pembelajaran yang relevan.

Artinya, menjadi guru itu berat! Belum lagi image guru dalam konteks sosial kita. Ia harus menjadi tempat bertanya semua orang, ia harus mengurus semua kesulitan orang, ia harus memiliki pundak yang kuat menampung semua persoalan kampung.

Rumahnya harus layak, pakaian anak dan keluarganya harus layak, bahkan sumbangan sosialnya juga harus layak. Kalau tidak, ia akan menjadi buah bibir orang sekampung.

Jangan tanya apa gajinya sebagai tenaga honorer layak menutupi semua kebutuhan sosial itu.

Kalau gajinya Rp. 1.200.000,- itu setara 40 ribu rupiah perhari. Jauh lebih rendah dari gaji harian pekerja bangunan.

Anda tahu? Sebuah keluarga setidaknya butuh 40 ribu untuk makan saja sehari. Itu baru hidup sederhana dengan harga beras 38 ribu per lima liter, ikan, cabe, santan, dst.

Lalu apa biaya untuk pengganti sepatu guru, baju anaknya ketika lebaran, sewa rumah ( Anda kira ia sudah punya rumah?).

Karena itu, bisakah Anda bayangkan susahnya hidup mereka ketika lima bulan tidak gajian, tak ada sumber pendapatan lain? Cobalah menjadi mereka! Mungkin anda tidak sanggup menjadi Guru ( Askolani/Iskandar Hasibuan)

Penulis Pernah Menjadi Guru.

Admin : Iskandar Hasibuan.

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.