PARADOKS PERSATUAN DI HARI SUMPAH PEMUDA

Artikel Seri 28 dan Seri lainnya selama Bulan Oktober Menjadi Metafora Sebuah Kado Spesial untuk Setiap Pemuda, terkhusus yang segera ber-Musda di KNPI Madina.

Gugus Literasi Mandailing Epicentrum

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 mengusung tema nasional “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia.” Tema ini bukan sekadar rangkaian kata indah.

Ia mengandung tantangan: bagaimana kecintaan kepada Indonesia, kegigihan menghadapi persoalan, dan kepedulian terhadap sesama diwujudkan dalam perilaku nyata?

Dualisme Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) menjadi salah satu ruang untuk menguji ketiga nilai tersebut.

Sebab, persatuan paling mudah diucapkan ketika kepentingan tidak berbenturan. Ujian sesungguhnya datang ketika loyalitas organisasi, arahan pimpinan, dan ambisi kontestasi saling berhadapan.

Patriotik: Jangan Wariskan Perpecahan

Di Sumatera Utara, salah satu kepengurusan KNPI menyatakan bahwa keterbelahan di daerah berkaitan dengan dinamika di tingkat nasional.

Pernyataan itu merupakan keterangan pihak yang terlibat, bukan bukti independen bahwa seluruh konflik KNPI daerah memiliki sumber yang sama.

Di Kutai Timur, Kalimantan Timur, Musda pada Februari 2025 diberitakan mengakhiri dualisme dengan terpilihnya Avivurahman Al-Ghazali.

Namun, pada Juni 2025, Musda lain menghasilkan ketua berbeda, Andi Zulfian. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa klaim penyatuan pada satu momentum belum tentu menyelesaikan perselisihan secara berkelanjutan.

Di Seram Bagian Timur, Maluku, tiga kepengurusan KNPI diberitakan menyepakati rencana Musda bersama pada Februari 2026.

Di Mimika, Papua, empat OKP Cipayung pada Juni 2025 berupaya mendorong rekonsiliasi dan merencanakan Musdalub. Kedua kasus itu mencatat prakarsa dan kesepakatan, bukan bukti bahwa seluruh proses penyatuan telah tuntas.

Pelajarannya bukan bahwa daerah tertentu telah berhasil atau gagal secara mutlak. Pelajarannya ialah bahwa persatuan memerlukan proses, mekanisme yang jelas, dan komitmen yang tetap berlaku setelah pertemuan berakhir.

Dalam konteks tema HSP 2026, patriotik tidak cukup dimaknai sebagai cinta tanah air dalam pidato. Ia juga dapat diwujudkan dengan menolak mewariskan konflik organisasi kepada generasi berikutnya.

Jika perbedaan kepengurusan terus direproduksi, pemuda daerah perlu bertanya: apakah mereka akan terus menjadi penerima warisan pertikaian, atau mulai membangun jalan penyelesaian?

Berempati: Memahami Kader di Persimpangan

Percakapan dengan seorang kader yang masuk dalam bursa calon Ketua KNPI Madina memperlihatkan sisi manusiawi dari persoalan tersebut.

Ia menyatakan ingin melanjutkan estafet kaderisasi dan bersedia duduk bersama kandidat lain demi persatuan. Namun, ia juga mengungkapkan keterlibatannya dalam dua versi KNPI.

Ia belum dapat memastikan bahwa dirinya maupun OKP-nya akan berhenti mendukung versi lain, antara lain karena adanya arahan dari struktur organisasi di tingkat provinsi.

Keterangan ini tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa ia sengaja bermuka dua. Ada kemungkinan dilema loyalitas, tekanan organisasi, dan keterbatasan ruang gerak yang perlu dipahami lebih jauh.

Namun, empati tidak berarti menghapus pertanyaan tentang tanggung jawab. Ketika seorang kader menyatakan mendukung persatuan, bagaimana komitmen itu diterjemahkan menjadi pilihan dan tindakan organisasional?

Di sinilah tema berempati menemukan maknanya. Kita perlu memahami kesulitan kader tanpa tergesa-gesa menghakimi. Pada saat yang sama, kita juga perlu memberi ruang bagi mereka untuk menjelaskan sikap, menentukan pilihan, dan mempertanggungjawabkan keputusan.

Empati bukan pembenaran atas segala kontradiksi. Empati adalah jalan agar kritik tetap adil dan penyelesaian tetap mungkin.

Gigih: Mengubah Persatuan Menjadi Mekanisme

Teori Identitas Sosial Henri Tajfel dan John Turner membantu menjelaskan bagaimana loyalitas kelompok dapat membentuk batas antara “kita” dan “mereka”.

Identitas OKP yang semestinya menjadi sumber solidaritas bisa berubah menjadi sekat ketika kepentingan kelompok mengalahkan tujuan bersama.

Teori Medan Kurt Lewin mengingatkan bahwa pilihan individu dipengaruhi lingkungan sosialnya, termasuk norma organisasi, arahan pimpinan, dan relasi senior-junior.

Karena itu, membangun persatuan tidak cukup dengan menuntut kader berubah; organisasi juga perlu menyediakan ruang yang memungkinkan kerja sama.

Sementara itu, teori kerja sama dan konflik Morton Deutsch membantu membaca bagaimana persaingan dapat menjadi konflik berkepanjangan ketika pihak-pihak yang bersaing menganggap kemenangan satu kelompok sebagai kekalahan mutlak kelompok lain.

Ketiga teori tersebut merupakan alat analisis, bukan bukti bahwa faktor-faktor itu pasti menjadi penyebab langsung dualisme KNPI Madina.

Namun, ketiganya mengantar kita pada satu pertanyaan praktis: apa yang membuat persatuan bisa bertahan setelah para pihak duduk bersama?

Jawabannya tidak cukup berupa seruan moral. Diperlukan mekanisme Musda yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, kesepakatan mengenai partisipasi OKP, penghormatan terhadap proses dan hasil yang sah, serta komitmen untuk tetap bekerja bersama setelah kontestasi selesai.

Kegigihan bukan sekadar bertahan dalam persaingan. Kegigihan juga berarti tidak menyerah membangun kerja sama ketika perbedaan terasa sulit dijembatani.

Ketika Persatuan Menjadi Slogan

Ada persoalan etik yang tidak boleh dihindari: jarak antara ucapan dan tindakan.

Kader yang menghadapi tekanan organisasi belum tentu bersikap hipokrit. Tetapi ketika seseorang secara sadar mengampanyekan persatuan sambil mempertahankan tindakan yang memperpanjang perpecahan, tanpa bersedia mempertanggungjawabkan kontradiksi itu, persoalannya menyentuh integritas.

Kritik ini tidak ditujukan kepada satu orang atau satu kubu. Ia berlaku bagi seluruh ekosistem organisasi kepemudaan, dari kandidat dan pengurus OKP hingga pimpinan di tingkat yang lebih tinggi.

Jika semua pihak menghendaki satu KNPI, mereka perlu menjawab pertanyaan konkret: bersediakah mereka menyepakati mekanisme penyatuan yang sah? Bersediakah mereka menghormati proses dan hasilnya? Maukah mereka menempatkan kepentingan pemuda di atas kepentingan kubu?

Persatuan tidak boleh menjadi kata yang bisa diucapkan semua orang tanpa konsekuensi. Ia harus mengikat perilaku.

Musda Madina: Ruang Untuk Membuktikan Ikrar

Madina memiliki kesempatan untuk menjadikan Musda mendatang sebagai ruang menguji komitmen tersebut. Bukan dengan menutup perbedaan atau memaksa semua orang berpikir sama, melainkan dengan menyepakati cara berkompetisi yang adil, membuka partisipasi, dan menjaga kerja sama setelah pemilihan.

Daerah tidak selalu mampu menyelesaikan seluruh perselisihan di tingkat nasional. Namun, daerah dapat mengambil prakarsa agar perbedaan tidak terus melahirkan perpecahan baru.

Inilah hubungan langsung antara tema nasional HSP 2026 dan persoalan KNPI Madina.

Patriotik: menempatkan persatuan di atas pewarisan konflik.

Gigih: terus membangun mekanisme rekonsiliasi meskipun prosesnya tidak mudah.

Berempati: memahami dilema orang lain tanpa menghilangkan tanggung jawab etik.

Ketiganya bukan tiga slogan terpisah, melainkan nilai yang saling melengkapi. Persatuan membutuhkan keberanian, ketekunan, dan kemampuan memperlakukan pihak yang berbeda sebagai sesama pemuda yang tetap memiliki tujuan bersama.

Horizon Tauhid: Menyatukan Kata dan Tindakan

Dalam perspektif Horizon Tauhid, persatuan bukan berarti menutup mata terhadap ketidakadilan demi kerukunan semu. Persatuan harus berdiri di atas kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab atas amanah.

Surah As-Saff ayat 2–3 mengingatkan tentang ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan. Pesan ini relevan bagi aktivisme kepemudaan: jangan sampai persatuan fasih diucapkan, tetapi ditinggalkan ketika menuntut perubahan sikap atau pengorbanan kepentingan kelompok.

Kado terbaik bagi pemuda pada 28 Oktober bukan sekadar seremoni dan pengulangan ikrar. Kado itu adalah keberanian mengevaluasi cara berorganisasi, memutus pewarisan konflik, dan membangun mekanisme yang membuat persatuan dapat dijalankan serta dipertanggungjawabkan.

Jangan wariskan perpecahan sebagai identitas. Jangan ucapkan persatuan sebagai basa-basi. Jadilah patriotik dalam tujuan, gigih dalam ikhtiar, dan berempati dalam memperlakukan sesama.

Jika persatuan belum tuntas di tingkat nasional, pemuda daerah tetap dapat memulai ikhtiar dari bawah. Musda KNPI Madina menjadi salah satu kesempatan untuk menguji apakah tema nasional HSP 2026 akan berhenti sebagai slogan, atau menjelma menjadi perilaku dan keputusan nyata.

Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia. Persatuan bukan sekadar ikrar yang diulang, melainkan tanggung jawab yang dikerjakan.

(gl-mep)

Admin : Iskandar Hasibuan.

Komentar

Komentar Anda

  • Related Posts

    Siap Tarung di Gelanggang, Mulya Harisandi Sambung Estafet Kaderisasi KNPI Madina

    Kripis Pemuda | Gugus Literasi Mandailing Epicentrum Semarak Musda KNPI Mandailing Natal (Madina) semakin terasa. Satu lagi nama muncul dalam bursa calon Ketua KNPI Madina: Mulya Harisandi, kader yang membawa…

    Read more

    Continue reading
    Polres Madina Telusuri Pemilik Ekscavator Yang Dibakar Massa di Jambur Tarutung Kec.Kotanopan

    PANYABUNGAN(Malintangpos Online): Terkait Keberadaan tiga(3) Unit Ekscavator yang di bakar massa diduga beroperasi untuk aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di kawasan Jambur Tarutung, Kelurahan Pasar Kotanopan, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten…

    Read more

    Continue reading

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses