Pendidikan Sebagai Tolak Ukur Seorang Perempuan

Wahyuni sapriani Hutasuhut
Mahasiswa IAIN Padang Sidimpuan

Pendidikan adalah hal yang diprioritaskan untuk mengubah dunia. Mengubah dunia dalam hal apa, tentu saja banyak. Anggaplah dunia kita ini sudah tidak jelas, kehancuran dimana-mana, peperangan tak terelakkan dan kedamaian sangat tidak diacuhkan.

Sebagian orang berasumsi bahwa pendidikan tinggi-tinggi itu tidak perlu, pada era milenial ini. Terlebih bagi perempuan. Untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi.Toh, nantinya bakal jadi istri orang juga. Toh, nantinya bakal di dapur juga.
Hal-hal seperti ini kebanyakan dikatakan oleh orangtua-orangtua kita, yang masih percaya dengan masa Siti Nurbaya. Siti Nurbaya saja, bisa dipinang oleh Datok Maringgih yang kaya raya, kata mereka.

Pemikiran-pemikiran seperti itu hanya akan menurunkan kualitas negara kita. Apa salahnya seorang perempuan mengenyam pendidikan tinggi, apa salahnya seorang perempuan mengejar gelar Doktor sampai harus meninggalkan kampung halamannya. Tidak ada salahnya, bahkan seorang anak yang cerdas dari rahim Ibu yang juga cerdas pula.

Pandangan feminisme pada zaman dulu hingga sekarangpun sepertinya mulai berubah. Tetapi memang tidak banyak orang yang menyetujui seorang perempuan menjadi “wanita karier” karena gila bekerja. Ini memang masih menjadi pro dan kontra di kalangan laki-laki dan perempuan. Banyak laki-laki berpikiran, hanya laki-laki yang pantas mengenyam pendidikan tinggi dan bekerja.

Tetapi, akankah lebih baik jikalau laki-laki dan perempuan menikah, mereka sama-sama bekerja, mengapa bekerja. Tentu saja karena pendidikan mereka sama-sama tinggi. Dampak positif dan negatif pun seharusnya sudah mereka ketahui. Apa dampaknya jika seorang perempuan menyamakan derajatnya dengan laki-laki, dengan mengenyam pendidikan yang sama.

Seperti yang kita tahu, kebanyakan wanita berpendidikan tinggi, juga ingin bekerja yang giat. Karena itu, anak mereka kemungkinan dititipkan dengan neneknya, atau baby sitter. Hal-hal seperti ini memang tak dapat terelakkan, tetapi jangan sampai menyurutkan semangat kita, seorang perempuan, untuk mengenyam pendidikan. Setinggi-tingginya, sejauh, dan seluas apapun.

Perempuan harus kreatif, bukan baperan.

 

Penulis : Wahyuni Sapriani Hutasuhut
Mahasiswa IAIN Padang Sidimpuan

Admin : Dita Risky Saputri,SKM.

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.