SOEKARNO DI MATA SAYA , Oleh : Askolani Nasution

Askolani-Nasution-

Saya berkenalan dengan pemikiran Soekarno jauh sebelum saya kuliah. Mungkin karena di rumah saya dulu banyak buku-buku tentang Soekarno. Ayah saya, memang politisi Masyumi yang secara ideologis berbeda haluan dengan Soekarno setelah masa Demokrasi Terpimpin. Tetapi, saya percaya, semua politisi waktu itu, partai apapun basic-nya, adalah pengagum Soekarno. Karena Soekarno lah yang bisa diterima bersama sebagai pemimpin, baik golongan kanan, kiri, apalagi golongan tengah. Karena itu juga, sekalipun kabinet silih berganti, tidak pernah ada yang terpikir untuk mengusik kedudukan Soekarno sebagai Presiden dan Pemimpin Besar Revolusi.

Ketertarikan saya pada Soekarno bermula ketika saya sering mendengar cerita-cerita tentang beliau oleh orang tua saya. Tentu karena ayah berdamping sel saat sama-sama ditahan oleh Belanda di Penjara Sukamiskin, Bandung, awal tahun 1930. Kata Ayah, Soekarno memang bukan tipe golongan santri kalau dibanding dengan Natsir atau H. Agus Salim. Tapi pemahaman Islamnya luar biasa. Itu saya percaya saat membaca buku “Perdebatan Soekarno dengan Ahmad Hasan Bandung”. Ahmad Hasan Bandung adalah ulama besar masa kolonial. Berbagai topik yang dibahas dalam buku itu menunjukkan kecendikiawanan Soekarno dalam kajian-kajian Islam, mulai dari sejarah, filsafat, hingga Fiqh.

Ketika saya kuliah di Fakultas Hukum, saya tiap hari ke perpustakaan hanya untuk membaca buku “Di Bawah Bendera Revolusi”. Itu buku yang komprehensig menggambarkan pemikiran Soekarno dalam berbagai dimensi, baik filsafat, tata negara, sistem ekonomi, dan lain-lain. Banyak kutipan pemikir besar filsafat zaman itu, baik Karl Marx, Rosseau, Hegel, Machiavelli, dan lain-lain. Oleh Soekarno itu dimodifikasi menjadi khas Indonesia. Karena itu, membaca buku itu, bagi saya mahasiswa hukum, menjadi buku sumber yang luar biasa untuk memahami berbagai hukum, ekonomi, dan tata negara.

Saya juga membaca bukunya “Indonesia Menggugat” sebagai pledoi yang ditulis Soekarno saat sidang pengadilan kolonial. Itu bukan hanya uraian hukum yang luar biasa, tetapi sekaligus pembelaan rakyat jajahan atas kolonialisme. Kalau ditambah dengan buku “Sarinah” pemikiran Soekarno atas penderitaan rakyat jajahan makin komprehensif. Itu semua saya baca sewaktu menjadi mahasiswa Hukum.

Ketika saya pindah ke Jurusan Sastra Indonesia, saya menghabiskan waktu membaca berkali-kali buku biografi “Soekarno: Penyambung Lidah Rakyat.” Buku yang luar biasa yang ditulis Cindy Adams. Bukunya tebal dan agak kumal ketika itu. Tapi amat lengkap memuat perjalan hidup Soekarno. Bagian yang paling menarik bagi saya dalam buku itu adalah saat ia pertama kali berpidato di depan Rapat Raksasa Partai Syarikat Islam. Betapa ia yang masih sangat muda, mampu menarik perhatian politisi-politisi handal ketika itu, termasuk Cokroaminoto dan H. Agus Salim. Ketika itu memang PSI merupakan partai terbesar dan paling mampu memobilisasi massa.

Saya baca juga berbagai kisah-kisah romantis Soekarno, surat-surat cinta, bahkan surat wasiatnya agar kalau kelak ia meninggal agar dimakamkan dekat telaga di Istana Bogor. Untuk orang yang masih muda ketika itu, romantisme Soekarno selalu menjadi perbincangan bagi kami mahasiswa.

Tapi paling lengkap memahami Soekarno adalah membaca buku “Bografi Politik Soekarno”. Dalam buku itu saya memahami mengapa Soekarno menolak membubarkan PKI pasca G30S/PKI. Tentu karena waktu itu, bahkan jauh sejak masa penjajahan, pola perjuangan komunisme memang menjadi idola semua politisi. Jadi bukan karena Soekarno komunis sebagaimana sering dituduhkan selama ini. Orang sedalam beliau pemahaman Islamnya, tidak mungkin menjadi komunis. Tapi kalau ia membubarkan komunis, partai terbesar ke empat hasil Pemilu 1955, sama artinya beliau menciderai demokrasi. Apalagi konsepsinya menganai nasakom sudah ada sejak masa kolonial yang kemudian ditulisnya dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi.”

Soekarno amat berbeda dengan Hatta. Hatta sekalipun menggagas ekonomi koperasi, tetapi lebih kebarat-baratan. Hatta juga tidak percaya kekuatan massa, karena itu Hatta keluar dari PNI. Hatta ingin pendidikan politik dulu baru merdeka. Tapi Soekarno percaya kekuatan massa. Kata Soekarno, kalau menunggu rakyat terdidik, kita tidak akan melihat lagi Indonesia Merdeka. Soekarno juga melihat Hatta kurang greget, terlalu text-book. Karena itu, ketika PNI yang didirikan Soekarno dan Hatta terlalu revolusioner dan mengakibatkan keduanya ditangkap Belanda, selepas dari tahanan Soekarno tetap membangun PNI dan Hatta memilih mendirikan PNI-baru.

Soekano mendirikan PNI karena merasakan PSI kurang terampil memobilisasi massa. Soekarno ingin partai yang gegap gempita dan revolusioner. PKI dilihatnya terlalu internasional sekalipun jago aksi massa. Karena itu, PNI dibagun atas kekuatan PSI dan PKI yang dibangunnya menjadi partai yang amat cepat pertumbuhannya. PNI, yang setelah fusi partai masa Orde Baru berubah menjadi PDI, oleh Soekarno disiapkan sebagai partai pelopor yang harus menjadi dukungan politis bagi konsepsi Soekano dalam bernegara.

Dulu di rumah saya banyak majalah PNI “Soeloeh Indonesia” dan Malajah Masnyumi “Pandji Masjarakat”. Itu terbitan tahun 1962 hingga 1968. Jadi masa-masa paling memprihatinkan dalam kehidupan Soekarno pasca G30S/PKI bisa saya baca semua. Itu menjadi refensi yang memadai bagi saya kemudian untuk memahami betapa Soekarno amat dikucilkan, dijadikan tahanan rumah, berkeluh kesan dengan orang-orang dekatnya yang masih setia, ketergantungan obat, keinginannya untuk keliling Jakarta, dan seterusnya. Ketika tahun 90-an merebak romantisme mahasiswa kepada Soekarno, karena kebencian atas rezim Soeharto tentu, itu menjadi moment yang menuai simpati atas pribadi Soekarno. Karena itu, di kost mahasiswa selalu terpampang foto Soekarno, termasuk di kamar kost saya di Padang.

Saya juga membaca proses dan kronologis lahirnya Pancasila. Banyak rumusan, banyak pertentangan terutama menyangkut dasar negara. Soekarno selalu menghindari pertentangan yang amat krusial itu. Karena ia amat menghormati tokoh-tokoh Islam yang tergabung dalam Panitia Sembilan. Justru Hatta yang ngotot agar tujuh kata dalam Piagam Jakarta dihapus untuk menghormati saudara-saudara kita di Indonesia Timur. Hatta memang jauh lebih liberal dibanding Soekarno. Karena Hatta berpendidikan Barat tentu. Soekarno yang mendamaikan, “Ini hanya sementara, nanti Tuan-Tuan bisa ubah lagi setelah kita merdeka,” kata Soekarno.

Jadi, buat saya pribadi, dari sekian pemikiran Soekarno yang saya baca dalam buku-bukunya, kesan saya beliau orang yang kuat Islamnya. Kalau tak percaya, coba baca semua buku yang saya sebutkan. Bahkan di kalangan sufi, saya selalu mendengar betapa Soekarno dianggap sebagai bagian dari mereka. Mungkin karena itu, sekalipun Ayah saya politisi Masyumi, dan Soekarno pernah membubarkan partai itu, saya tahu bahwa ayah selalu memujinya. Mungkin juga karena ia kenal betul pribadi Soekarno waktu sama-sama bersebelahan sel di penjara Sukamiskin dulu. Dan ketika ayah bertemu Soekarno di Kotanopan dulu, kata Soekarno, “Mad, nanti kau datang ya ke Padangsidimpuan.” Lalu ayah naik sepeda Ontel mengikuti rombongan Soekarno ke sana. Indonesia mungkin masih merdeka tanpa Soekarno, tapi belum tentu tahun 1945 jika tanpa Soekarno sebagai orang yang diterima bersama oleh semua aliran politik ketika itu. Dalam konteks itu Soekarno menjadi penting dalam sejarah bangsa ini.

Admin : Dina Sukandar Hasibuan,A.Md

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.