” Wanipiro..?”, Tetap Menjadi Pembicaraan di Pilkada Madina

Ilusterasi uang

MENJELANG Pilkada Sekarang ini, memang pantas disebut era keterbukaan, karena kalau dulu semua hal dirahasiakan, kini bisa jadi konsumsi publik.

Salah satunya cost politic dalam pemilu, mulai dari Kades, BPD, DPRD, lebih – lebih pemilihan Bupati/Wakil Bupati sampai dengan diatasnya.

Masyarakat Tak lagi aneh kita dengar jika petani, pedagang, ibu-ibu di pasar ngobrolin besaran biaya yang telah dikeluarkan seseorang yang mencalonkan diri pada jabatan politik dan termasuk di menjelang pilkada 09 Desember 2020 mendatang di Kabupaten Mandailing Natal.

” Wanipiro..?” Kalimat itu sering terdengar di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Mandailing Natal, baik di Desa maupun di Kota, lebih -lebih di Kedai Kopi adalah pembicaraan yang dilakukan secara terbuka dan terang -terangan.

Mengutip sambutan Wakil Presiden RI di Media CNN Indonesia, Ma’ruf Amin meminta agar masyarakat di 270 wilayah yang menggelar Pilkada 2020 menjauhi praktik politik uang yang kerap hadir untuk mempengaruhi pemilih dalam kontestasi lokal tersebut.

Ma’ruf lantas mengistilahkan praktik politik uang sebagai “NPWP” atau kepanjangan dari ‘nomor piro, wani piro’ atau “nomor berapa berani berapa”.

“Jangan sampai pemilu ini dicederai dengan seperti yang tadi dijelaskan, adanya money politic atau bahasa anak-anak bilang itu jangan ada NPWP, nomor piro wani piro, jangan sampai sebar hoaks,” ujar Ma’ruf saat membuka acara Indeks Kerawanan Pemilu di Hotel Redtop Pecenongan, Jakarta Pusat, Selasa (25/2) kemaren.

Selain itu, Tak hanya politik uang, Mantan Rais Aam PBNU itu turut meminta agar para kandidat calon kepala daerah menjauhi praktek berbau SARA untuk meraih simpati pemilih.

Ia berkeinginan agar para kandidat bersaing secara sehat. Cara-cara tak terpuji seperti politik uang, politisasi SARA hingga menyebarkan hoaks akan mencederai praktek demokrasi yang sudah matang di Indonesia.

“Jangan sampai dikompromikan dengan proses-proses prosedural dan praktik-praktik yang mencederai pencapaian tujuan berdemokrasi itu…Karena dia tidak mampu bersaing secara sehat, dia mencari hal yang lain,” kata dia.

Selain itu, Ma’ruf menyarankan agar seluruh kandidat kepala daerah mampu mencontoh kisah Nabi Yusuf yang pernah diangkat sebagai perdana menteri Mesir oleh Firaun beberapa abad silam.

Nabi Yusuf, kata Ma’ruf, berani untuk menonjolkan kemampuan yang dimilikinya di bidang perbendaharaan negara ketimbang bidang lainnya saat diminta Firaun jadi perdana menteri.

Melihat hal itu, Ma’ruf menyarankan agar para kandidat kepala daerah berani menonjolkan keunggulannya ketimbang memainkan isu negatif dalam meraih simpati pemilih.

“Kalau kita ingin dipilih boleh saja, kita menyampaikan kelebihan kita, keunggulan kita,” kata Ma’ruf. (rzr/end/Red)

Admin : Iskandar Hasibuan.

Komentar

Komentar Anda

About Dina Sukandar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.